
Assalamu'alaikum ✨✨
Selamat membaca ♥️
Sudah menjadi rutinitas sebagai pelajar setiap hari senin melaksanakan upacara bendera.
Hari yang berat bagi siswa-siswi yang malas berjemur di bawah terik sinar matahari.
Padahal hanya sekali dalam seminggu, entah kenapa upacara bendera seperti beban yang sangat berat untuk para pelajar.
Usai upacara bendera,Yura duduk di kursinya.
Di sampingnya,Yoon so membaringkan kepala diatas meja. Mungkin letih berdiri mendengar amanat pembina upacara yang panjang lebar tak terhingga.
"Yoon so,lo udah kerjain PR ?"Tanya Arin dengan posisi sama seperti Yoon so.
Yoon so menjawab dengan posisi tetap.
"Pr yang mana ?"
"Matematika." Fitri ikut nimbrung
"Udah."
"Mau dong, semalam gue kecapean edit foto."Pinta Fitri
"Gue juga ya, kemaren lupa kalau ada PR."
"Traktir gue ya."Pinta Yoon so
"Beres."
Karena lelah dan malas mengangkat kepala Yoon so meminta tolong kepada Yura yang masih sanggup duduk tegap untuk memberikan buku Matematika nya kepada Arin.
"Yura,tolong ya"
"Apaan ?"
"Buku Matematika aku di tas."
"Hmm."
Yura meletakkan buku Matematika Yoon so di kepala Arin.
"Belajar yang benar,ingat nyontek itu dosa"
"Lupa Yur,"Sela Fitri
"Gue doain Bapak Taha enggak masuk, supaya enggak nambahin dosa lo yang enggak bisa di hitung."
__ADS_1
"Ngeri sumpah,gue enggak jadi nyontek deh."Arin melempar buku Yoon so pada Fitri.
Fitri segera melempar kembali buku Yoon so pada Arin."Gue juga,gue mau kerjain sendiri."
"Kalau enggak mau ya udah,jangan di lempar-lempar kayak begitu dong."Yoon so menampilkan ekspresi kesal
"Hehe maaf ya Yoon so Oppa."Ucap Fitri dan Arin bersamaan dengan sengiran kuda.
"Pulang sekolah temenin gue ke rumah Kak Dhafir yok."Ajak Yura
Arin dan Fitri saling pandang, membuat Yura curiga dengan ekspresi keduanya.
"Bukannya lo lagi ngambek sama Kak Dhafir ya ?"
"Kemarin lo usia makan langsung diam seribu bahasa."
"Padahal kan lo yang ngajakin Kak Dhafir makan,kok lo tega kacangin Kak Dhafir."
Ucapan Fitri dan Arin berhasil menggundahkan hati Yura. Yura diam mengingat perlakuan nya terhadap Dhafir.
"Seharusnya kamu enggak kayak begitu Yura,aku yakin kamu pasti ingin bantu Kak Dhafir untuk sekolah." Ucap Yoon so
"Maksud lo ?" Yura tak mengerti maksud Yoon so.
"Dia tidak ingin membebankan keluarga kamu.Mungkin bagi kalian itu bukan apa-apa.Tapi bagi Kak Dhafir dia benar-benar merepotkan kalian."
"Jadi wajar kalau Kak Dhafir bohong,walau tersirat jelas di matanya ia ingin sekolah.*
"Gue mau minta maaf sama Kak Dhafir, nanti pulang sekolah temenin gue ke sana."
"Siip, tenang,kita pasti ikut."Jawab Arin
...****************...
Sesuai janji Yura sudah tiba di kediaman Dhafir.
Seperti biasa, pintu rumah Dhafir tertutup rapat.
Tampak dari luar seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
Tok-toktok!!!
Yura mengetuk pintu di selingi salam."Assalamu'alaikum."
Pintu tak kunjung terbuka,meski sudah di ketuk berkali-kali. Bahkan Fitri dengan keras meneriaki nama Dhafir.
"Eh buset, Kak Dhafir tidur atau gimana nih."Arin bingung menaik turunkan alisnya
"Mungkin Kak Dhafir lagi keluar,dia kan sudah bisa jalan."Jawab Yoon jin.
__ADS_1
"Kita tunggu aja mungkin enggak lama lagi Kak Dhafir datang."Ucap Yoon so.
Yura mencoba mendorong pintu rumah Dhafir.
Kriet!! Ternyata pintunya tak terkunci.
"Eh!!"Fitri terlonjak kaget mendengar suara pintu yang terbuka.
"Kayak film horor suara buka pintu nya."Ucap Fitri memegangi lengan tangan Arin.
"Assalamu'alaikum," ucap Yura berjalan masuk ke rumah Dhafir.
"Eh, emang kita boleh masuk ?"Fitri bertanya
Tak ada yang menggubris pertanyaan Fitri.
Yoon jin berjalan masuk mengikuti Yura,hatinya berjaga-jaga dengan situasi rumah Dhafir.
"Kak Dhafir."Ucap Yoon so dengan nada keras.
"Kakak di mana ?."
Yoon jin berjalan menuju kamar Dhafir,di sana juga tak di temukan sosok Dhafir. Di atas meja tergeletak sebuah kertas putih di timpa lampu kamar yang sudah berdebu.
Yoon jin berjalan menuju meja dan mengambil kertas itu.
"Aku pergi dari rumah, terimakasih untuk semua nya,ku rasa sudah cukup aku merepotkan kalian semua,kalau aku tak pergi kalian pasti terus saja menolong ku,maaf jika aku pergi dengan cara seperti ini,tapi tolong jangan benci pada ku."
"Dari Dhafir."Yoon jin mengakhiri bacaannya.
Mendengar suara Yoon jin yang mebacakan sesuatu, semua berlari menuju Yoon jin di kamar Dhafir.
"Kenapa pergi."
Yura meneteskan air mata,ia merasa bersalah kemaren mengabaikan Dhafir usai makan di restoran.
Arin dan Fitri langsung memeluk tubuh Yura. Mereka tak tahu kenapa Yura sangat sayang pada Dhafir. Mereka juga sayang pada Dhafir tapi sayangnya jauh berbeda dari sayang yang Yura berikan.
Yoon so yang peka maksud air mata Yura berusaha menenangkan hati Yura.
"Jangan nangis Yura,aku tahu kamu ngerasa bersalah."
"kamu enggak salah,jangan nangis."
"Gue kekanak-kanakan,gue enggak suka diri gue yang kayak gini."Yura mengelap air matanya yang terus mengalir.
Yoon jin mengeluarkan tisu dari sakunya.
"Nih."
__ADS_1
Yura mengambil tisu yang Yoon jin sodor kan.
Entah mengapa air matanya terus mengalir enggan untuk berhenti. Yura kesal pada dirinya sendiri. Ia merasa kalau Dhafir pergi karena dirinya yang mengabaikan Dhafir kemarin.