
🌺 Assalamu'alaikum 🌺
Aku bahkan tak percaya pada hati ku yang terus berdebar tatkala sorot mataku berhasil menangkap wajah datar tanpa ekspresi dan ya... tanpa senyum di wajahnya, namun wajah itu terlihat begitu cantik di mata ku. Dan jujur saja Aku kesal mengagumi gadis berwajah datar seperti mu. Aku tak yakin apakah wajah datar dengan mata kecil itu bisa di katakan cantik.
Atau mataku yang rusak karena di sana masih banyak gadis yang terlihat cantik dengan senyuman sejuta umat nya. Atau bahkan wanita dengan wajah yang terus ceria dan banyak bicara. Tatapan mu berhasil merusak mata ku bahkan mata batin ku dengan wajah datar mu itu.
2 Mei 2022
"Ini gue di puji cantik atau mata dia yang rusak karena jatuh cinta sama gue yang muka nya datar ?"
Yura bergumam pelan dengan tangan yang kecil yang membolak-balikkan selembar kertas penyusun buku diary itu. Walau sedikit geli dengan kata-kata puitis yang Yoon jin sajikan dengan rapi di bukunya. Namun tak bisa di pungkiri kata-kata itu berhasil mendebarkan jantung Yura Aikawa.
Tubuhnya menghangat, merasa gejolak aneh.
Abang kelas yang perangai nya tak jauh berbeda dari nya berhasil menaburkan benih-benih cinta yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
"Sebenarnya gue ngapain sih ?"
"Gue enggak boleh baca buku orang, Astaghfirullah!!" Yura menampar keras pipi nya berusaha menyadarkan diri.
Walau mulut nya mengucapkan Astaghfirullah,namun tangan nya terus membolak-balik halaman buku enggan berhenti.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Suara salam yang terdengar lembut bersamaan dengan suara dorongan pintu.
"Waalaikumsalam,"Yura menoleh ke sumber suara.
"Lagi ngapain Yur, udah jam sepuluh lewat nih. Belum tidur ?" Umi berjalan menuju kursi tempat Yura bercengkrama dengan buku-buku nya.
"Enggak belajar cuma baca buku aja Umi."
"Buku apa ?" Umi berdiri tepat di samping Yura mengamati apa yang sedang anak semata wayangnya itu kerjakan.
"Eh, selama ini kamu punya buku diary ? Umi baru tahu." Umi tampak tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Kata-kata puitis dan tulisan yang tampak berbeda.
"Yura,ini bukan buku kamu kan,"Umi berujar sambil mengambil alih buku yang tergeletak horizontal.
Ia tak tahu harus berkata apa,Yura merasa takut jika Umi nya tahu kalau ia sedang membaca buku diary orang.
"Eh Yoon jin ?" Umi membolak-balikkan halaman buku memastikan kalau tak salah membaca nama. Umi menatap wajah Yura yang tampak kebingungan mencari alasan.
"Emm...itu Umi...Yura baca punya Yoon jin,tapi udah ijin kok," Sambil tersenyum kaku Yura berujar.
"Ijin sama Yoon jin ? Umi baru tahu kalau ada orang yang mengijinkan orang lain membaca buku diary nya."
"Ya sifat orang kan beda-beda Umi."
__ADS_1
Raut wajah Umi tampak tak percaya dengan apa yang Yura katakan. Tapi yang Yur katakan juga tak salah kalau sifat orang berbeda-beda.
Umi juga tahu membedakan kalau anak semata wayangnya itu sedang berbohong atau jujur melalui insting seorang Ibu. Hanya saja saat ini Umi sedang bingung merangkai kata-kata agar Yura mau berbicara jujur.
Umi terus menatap Yura yang juga sedang menatap nya. Sibuk dengan pikiran nya masing-masing seolah menyalurkan apa yang mereka pikirkan melalui kontak mata.
Lama saling bertatapan,Yura merasa tak nyaman dengan tatapan Umi yang terus mendesaknya untuk berkata jujur.
"Huft," Yura menghela nafas panjang.
"Maaf Umi."
Yura menundukkan kepalanya merasa bersalah enggan menatap wajah Umi.
"Kembalikan dan minta maaf besok."
Umi mengelus lembut kepala Yura dan keluar dari kamar Yura.
"Walaupun besok libur, tidur nya jangan terlalu larut." Pesan Umi sebelum ia menutup rapat pintu kamar Yura.
Yura terduduk menatap ke arah buku diary.
Rasa bersalah nya memuncak. Ia bertekad untuk mengembalikan buku itu besok.
__ADS_1
"Maaf Yoon jin." Yura bergumam pelan