North Pole Couple

North Pole Couple
Episode 33


__ADS_3

✨ Assalamu'alaikum ✨


✨✨ Hanya sekedar mengingatkan para pembaca, jangan lupa tekan like komen dan vote nya.


Taburan hadiah nya juga aku terima dengan senang hati. Maaf jika banyak kalimat-kalimat yang terasa mengganjal di hati,kritik dan saran dari para pembaca sangat aku perlukan....✨✨


Di atas kasur Yura tersenyum manis sembari terus mengotak-atik layar ponselnya. Entah ada angin apa wajahnya yang selalu datar kini tampak berseri-seri.


Mode Chat


Dhafir


✉️Assalamu'alaikum, terimakasih hp yang kamu berikan Yura


Yura


✉️Waalaikumsalam, sama--sama


Fitri


✉️Gimana main hp nya Kak Dhafir lancar ?


Dhafir


✉️Baru bisa ngechat doang,hehe


Arin


✉️Keren Kak


Dhafir


✉️Terimakasih Yoon so sudah ajarin main hp


Yoon so


✉️Sip,santai aja Kak


Fitri


✉️Yura serius lo enggak masukkan Oppa Yoon jin di grup


Yura


✉️Enggak


Arin


✉️Kenapa sih,Rachel aja lo masukkan,masak Oppa Yoon jin enggak


Yura


✉️Enggak ah,dia dingin,datar kalau masuk paling cuma nyimak


Fitri


✉️Enggak sadar,kejam lo Yur


Arin


✉️Oppa Yoon jin kan udah sering banget bagiin lo makanan


Rachel


✉️Kalau Yoon jin merasa enggak dianggap teman gimana ?


Arin

__ADS_1


✉️Eh Rachel nimbrung, selamat tidur Rachel,mimpiin aku ya


Bruk!!


Yura melemparkan ponsel nya di atas bantal.


Dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Yura terdiam menatap langit-langit kamarnya.


'Gue kejam ya sama Yoon jin'


'Tapi hubungan gue sama Yoon jin kan enggak sedekat itu'


'Kenalan aja enggak,kalau di ingat-ingat gue sama Yoon jin bisa saling bicara itu karena apa ya,lagian kami berdua memang sama--sama irit bicara.'


'Tapi memang benar sih,Yoon jin sering banget kasih gue makanan'


Chat dari Arin,Fitri,dan Rachel berhasil membuat Yura merasa bersalah atas sikap nya terhadap Yoon jin.


'Besok gue bawain makanan deh.' Yura mulai memejamkan mata. Yura yang memang putri tidur, sangat mudah terlelap.


Jika kepalanya sudah menempel pada bantal sambil memejamkan mata,alam mimpi sudah siap menyambut nya untuk bergabung.


...****************...


"Yura,bangun nak sudah siang ini!!!",Teriak Umi keras dari dapur. Yura tak berkutik jika hanya berteriak dari dapur.


"Ck,bangun nak kebiasaan banget sih habis sholat subuh lanjut tidur,"Umi menarik selimut Yura kasar.


"Hei Umi siram ya kalau enggak mau bangun!!!"


Yura segera bangkit dari tidurnya, seperti biasa, bangun tidur Yura melamun cukup lama mengumpulkan nyawanya yang masih tersisa di alam mimpi.


"Malah bengong, cepat mandi sana,kamu enggak sekolah ?"Tanya Umi yang sedang merapikan bantal-bantal Yura.


"Lagi ngumpulin nyawa."


"Sudah sana mandi,Umi siram beneran nih."Umi tampak kesal memukul bokong Yura.


Brak!!!


Yura menutup kasar pintu kamar mandi sebagai aksi protes kepada Umi yang menggangu ritual melamun nya.


Umi terperanjat memasang raut wajah kesal dengan tingkah anak semata wayangnya.


"Kalau pintunya rusak jangan minta ganti,biar enggak ada pintunya," ucap Umi kesal berlalu meninggalkan kamar Yura.


Usai mandi Yura segera turun ke bawah untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah.


"Katanya kemarin kamu beli hp untuk Dhafir ya ?"Tanya Abi memastikan.


"Iya,enggak apa-apa kan ?"Tanya Yura dengan mulut yang di penuhi nasi.


"Telan dulu baru ngomong."Protes Umi


"Maaf Umi."


"Untuk apa ?"Tanya Abi penasaran.


"Kalau ada apa-apa Kak Dhafir bisa langsung hubungi,kalau Yura mau tahu Kak Dhafir sudah makan atau belum Yura enggak perlu kesana."Jelas Yura santai


"Abi sama Umi ingin berkunjung ke rumahnya."


"Kapan Abi ?"Tanya Yura antusias


"Kamu kapan sempat nya ?"


"Yura mah siap kapan aja, yang sibuk kan Abi sama Umi."

__ADS_1


"Nanti sore."


"Boleh,belanja dulu Umi,bawa buah tangan untuk Kak Dhafir."Saran Yura.


"Iya, InsyaAllah kalau enggak ada halangan.",Jawab Umi


Yura memakai tas dan helm tidak lupa mencium punggung tangan Abi dan Umi bergantian.


"Yura berangkat, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam,"Jawab Abi dan Umi bersamaan.


Sampai di sekolah Yura langsung menuju lapangan basket yang sudah dipenuhi para suporter dari sekolah-sekolah yang di undang untuk merayakan hari ulang tahun sekolah.


Sorot mata Yura terus mencari keberadaan teman-temannya.


"Tumben mereka enggak nungguin gue."Yura bergumam.


Suporter yang ramai bergerombol membuat Yura kesulitan mencari keberadaan teman--temanya.


"Ck,dimana sih."Yura mulai kesal


Pertandingan belum mulai namun entah kenapa tempat duduk sudah penuh tak tersisa.


"Pusing kepala gue kalau ruwet begini, tanding aja belum, rusuh nya minta ampun, pasti pemain basketnya banyak yang ganteng makanya ciwi-ciwi pada semriwet."


Lama Yura berdiri terus mencari keberadaan teman--temanya, tiba-tiba Yura merasakan pundaknya di tepuk seseorang dari belakang.


"Ngapain lo di sini."Tanya Yoon jin


"Enggak ngapa-ngapain."


"Kayaknya sudah lama ya kita enggak bertemu."


Yura mengerutkkan dahi,'Tumben nih orang basa-basi.'


"Benar kan ?"


"Ah,iya." Yura kembali menatap ke depan.


'Ngomong apa ya,biar enggak canggung.'Yoon jin berpikir keras berusaha mencari topik agar suasana canggung tak melanda keduanya.


'Kok berasa kayak orang bego sih gue sama Yoon jin, diam-diaman gini.'


'Canggung!!!!.' Yura dan Yoon jin membatin bersamaan tak nyaman dengan rasa canggung yang melanda keduanya.


Keduanya memang pernah jalan bersama tapi saat itu mereka di dampingi dua pawang kecil yang banyak sekali bicara,membuat rasa canggung keduanya sedikit berkurang.


Keramaian di sekitarnya serasa sunyi,yang terdengar hanya debaran keras jantung dua insan yang sedang berdampingan tanpa saling menoleh di sertai rasa canggung yang tak menyenangkan.


Mungkin karena Yoon jin yang pertama kali menyapa ramah Yura,atau Yura yang tak julid menjawab pertanyaan Yoon jin, entah lah rasa canggung ini tiba-tiba saja melanda tanpa tahu penyebab nya.


"Lo kok enggak bareng yang lain."Yoon jin berhasil menemukan topik ringan.


"Ini gue lagi nyariin mereka,lo ada lihat."Yura berusaha mengimbangi pembicaraan agar suasana canggung tak kembali melanda.


"Mau gue bantu cari ?"


"Boleh."


'Sepertinya rasa canggung ini muncul karena kami berdua memiliki sifat yang sama.


Sama-sama kutub,saling diam,tak biasa memulai obrolan,dan satu lagi punya ego yang tinggi.


Sifat kami berdua memang sama,tapi kalau begini rasanya,sama tak selamanya indah.


Mungkin kalimat ini cocok untuk sifat kami yang sama tapi tak sefrekuensi.'

__ADS_1


Yura dan Yoon jin mulai memahami penyebab kecanggungan di antara keduanya.


'Kalau ingin berteman baik,kami harus mengalahkan ego masing-masing.' Yura dan Yoon jin membatin bersamaan sesekali mencuri pandang satu sama lain.


__ADS_2