
...Assalamu'alaikum 🌺...
...{Welcome to my novel, terimakasih sudah memilih novel ini untuk di baca. Semoga suka dengan cerita nya. Ini novel pertama, banyak kesalahan dalam setiap kata maupun kalimat.}...
...Harap di maklumi ❤️....
Tiba di kediaman Dhafir,Yura dan Yoon so langsung menolong Dhafir untuk turun dari mobil sedangkan Yoon jin dengan sigap menggendong Dhafir naik ke punggungnya.
Rachel segera menolong Dhafir untuk duduk di kursi rodanya.
"Langsung masuk atau di luar ?."Tanya Yura datar.
"Masuk aja."
Yura segera mendorong kursi roda Dhafir menuju ruang tamu. Di susul oleh teman-temannya.
"Kakak udah makan pagi ?." Tanya Yura.
Dhafir menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan Yura.
"Kalau pagi belum makan,siang juga belum."Ucap Fitri.
Arin segera menyiapkan makanan yang sudah mereka masak di sekolah.
"Kak,biar gue suapin."Ucap Yura datar membolak-balik makanan yang masih panas supaya cepat menghangat.
Semua terkejut tak percaya dengan ucapan Yura yang ingin menyuapi Dhafir yang juga ikut terkejut.
Jantung Dhafir berdetak kencang ketika sendok makan yang Yura berikan sudah berada tepat di depan mulut nya.
"Ayo di makan kak."Ucap Arin tersenyum manis.
Perlahan Dhafir membuka mulutnya,dan melahap makanan yang Yura berikan.
Yoon jin dan Yoon so tampak tak senang dengan pemandangan yang terpampang jelas di hadapannya.
"Yura,biar aku aja yang..."
"Gue aja."Segera Yura memotong kalimat Yoon so.
"Makan,minum,minum obat,semua udah kayanya tugas kita udah selesai."Ucap Yura.
"Harinya juga udah panas banget nih."Sahut Arin.
"Enggak lama lagi azan dzuhur,kita juga sudah cukup lama di sini."Ucap Yoon jin.
"Kak Dhafir,kita pamit pulang ya,semoga bantuan kami yang enggak seberapa ini bisa membantu kakak."Ucap Yura mulai ramah.
"Ah iya, terimakasih banyak,ini bukan cuma bantuan enggak seberapa, tapi ini bantuan yang luar biasa."Ucap Dhafir tertunduk meneteskan air matanya.
Semua ikut bersedih haru melihat Dhafir yang hidup sendirian dengan kondisi yang tak sempurna.
__ADS_1
Tak terasa air mata Yura ikut menetes membasahi pipinya.
Yura segera mengelap kasar air mata yang mengalir di pipinya tak ingin ada yang tahu ia menangis.
"Kami pamit kak, Assalamu'alaikum."Ucap Yura segera pergi masuk ke dalam mobil dan duduk paling belakang tanpa menunggu teman--temanya yang masih berada di dalam kediaman Dhafir.
"Yura nangis ?."Tanya Yoon so yang melihat kilasan wajah merah Yura.
"Ah,si Yura mah emang begitu, enggak mau nangis di depan orang-orang."Sahut Fitri.
"Ya udah kalian duluan aja,ada yang ingin gue omongin sama kak Dhafir."Ucap Yoon jin.
Satu-persatu mereka meninggalkan Yoon jin dan Dhafir menuju mobil.
Yoon so yang penasaran dengan Yura menoleh kebelakang,namun wajah Yura sudah ia tutup rapat menggunakan topi hoodie yang ia kenakan.
"Yura!!!,lo tidur ya ?."Tanya Fitri.
"Yura nangis bambang,bukan tidur."Oceh Arin.
"Berisik!!!!!!!."Teriakan keras Yura mengejutkan penghuni mobil yang langsung terdiam bisu.
Di luar mobil Dhafir dan Yoon jin hanya diam tak berbicara apapun.
"Kata nya ada yang ingin di bicarakan ?."Tanya Dhafir.
"Hmm,gue cuma mau bilang,kalau Yura itu pacar gue,jadi kakak tahukan harus apa."Ucap Yoon jin datar mengangkat sebelah alisnya.
"Aku tahu,"jawab Dhafir singkat.
"Kalau begitu gue pamit pulang, Assalamu'alaikum."Ucap Yoon jin berlalu masuk ke dalam mobil.
"Waalaikumsalam."Jawab Dhafir dengan tatapan yang terus mengikuti arah mobil keluarga Kim yang sudah tak terlihat.
'Aku tahu ko aku enggak pantas untuk Yura, memang nya siapa aku, berani-beraninya menaruh hati pada wanita sempurna seperti nya.' Dhafir membatin sedih.
Di dalam mobil Yura teringat wajah Dhafir yang terlihat sangat kesepian ketika di tinggal pergi.
Entah kenapa bayang-bayang wajah Dhafir dari awal bertemu sampai pulang selalu muncul dalam pikiran Yura.
"Kasihan kak Dhafir,gue harus nolongin dia." Yura bergumam tanpa sadar ,namun semua penghuni mobil mendengar jelas gumaman Yura.
'Yura hanya empati sama kak Dhafir kan enggak lebih.',Yoon so membatin.
'Dari tadi dia mikirin Dhafir.' Yoon jin ikut membatin.
......................
Cukup lama menempuh perjalanan,kini Yura sedang tergeletak lelah di kasurnya.
__ADS_1
Terus memutar otak semenjak kepulangan nya dari kediaman Dhafir membuat ia langsung terlelap menuju alam mimpinya.
Namun belum lama masuk ke alam mimpi ia tersadar belum melaksanakan shalat dzuhur.
"Astaghfirullah!!!,"Yura segera berlari menuju kamar mandi segera berwudhu.
Di ruang makan keluarga Yura Umi dan Abi sudah kelaparan menunggu kehadiran Putri semata wayangnya.
"Umi,coba panggil Yura, Abi udah lapar banget."Pinta Abi.
"Yura!!!,ayo ma..."
"Yura disini Umi,"Yura segera duduk dengan wajah murung.
"Ayo makan,doa dulu ya."Ucap Umi mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya sembari melihat wajah murung Yura seakan tak nafsu makan.
Heran dengan Yura yang tak biasanya bersikap seperti ini di meja makan membuat Abi dan Umi saling menatap bingung.
"Kenapa nak."Tanya Abi penasaran.
"Ada masalah apa."Umi ikut bertanya.
"Umi sama Abi punya rumah kosong enggak."
Abi dan Umi bertatapan kembali sembari mengerutkkan dahi.
"Enggak punya nak, untuk apa ?."
"Untuk teman Yura."
Abi dan Umi menelan kasar makanan di mulutnya tak percaya dengan jawaban Yura.
"Teman siapa,yang mana, perempuan apa laki-laki ?."Pertanyaan beruntun dari Umi.
"Dhafir,tinggal di panti tak berpenghuni,laki-laki,"jawab Yura berurutan sembari memakan lahap makanannya.
"Kamu mau memberikan dia tempat tinggal karena dia tinggal di panti tak berpenghuni ?."Tanya Abi.
"Bukan."
"Terus ?."
"Dia lumpuh."
Yura menceritakan semua yang ia lalui tadi pagi kepada Abi dan Umi yang ikut merasa iba.
"Lain kali ajak Abi dan Umi mengunjungi teman mu Dhafir itu."Ucap Abi.
Yang langsung diangguki oleh Yura.
"Kapan ?."Tanya Yura antusias
__ADS_1
"Lain kali!!!."Sahut Abi dan Umi bersamaan membuat Yura tersenyum malu.