
✨Assalamu'alaikum ✨
Setelah konsultasi di rumah sakit.
Yura dan geng nya masih bersantai-santai di halaman rumah Dhafir.
Halaman rumah Dhafir sangat luas dipenuhi rerumputan hijau yang tak terawat mulai membelukar.
"Besok semangat ya Kak Dhafir semoga operasi nya berjalan lancar." Fitri menyemangati.
Dhafir mengangguk kan kepala sembari tersenyum manis. Ia berusaha untuk tersenyum meski jantung nya terus berdetak heboh.
Gugup,takut itu yang di rasakan Dhafir. Ia berharap agar Operasi kaki nya berjalan lancar. Ia tak pernah membayangkan bisa berdiri tegak seperti dahulu.
"Kalau boleh tahu kaki Kak Dhafir ini bisa sakit karena apa ?" Tanya Yoon so penasaran.
"Oh, beberapa tahun silam panti ini kebakaran.
Aku berusaha menyelamatkan adik-adik yang masih terjebak, ketika aku hendak menolong satu adik laki-laki yang masih terjebak,saat ingin keluar menggendong adik itu,kayu yang termakan api menimpa tepat di kaki ku.
Aku pikir hanya luka ringan, ternyata karena terus di biarkan kakiku infeksi. Sakit sekali ketika di bawa jalan."
"Sebenarnya kaki Kak Dhafir tidak lumpuh,jika waktu itu segera di tanganni kaki Kak Dhafir pasti tidak infeksi dan separah ini." Sambung Yoon jin.
"Panti ini sudah di renovasi usai kebakaran,tak lama berselang ibu pemilik Panti tutup usia.
Semua anak panti di pindahkan ke Panti lain."
"Kak Dhafir enggak ikut pindah ?"
"Entah kenapa rasanya berat jika harus meninggalkan Panti ini,walau harus hidup sendirian dengan kondisi seperti ini."
"Hmm,Kak Dhafir sekolah tamat SMA ?"Giliran Arin yang bertanya.
"Usia ku sekarang baru menginjak 17 tahun, terakhir aku sekolah kelas satu SMA."
"Berarti Kak Dhafir tua setahun dari Jin hyung."
Dhafir mengangguk merespon Yoon so.
"Apa Kak Dhafir ingin sekolah lagi ?" Yura bertanya.
"Tidak ada, aku ingin bekerja jika kakiku sudah sembuh."
"Kenapa tidak sekolah dulu baru mencari kerja,tamatan SMA peluang kerjanya lumayan,dari pada Ijazah SMP Kak Dhafir menganggur lebih baik digunakan untuk daftar SMA, setelah lulus SMA Kak Dhafir bisa menggunakan Ijazah SMA untuk melamar kerja."
Jelas Yoon so panjang lebar.
"Ya walaupun tidak pasti tamat SMA bisa mendapat pekerjaan yang baik, setidaknya akan
lebih baik jika pendidikan kita sampai SMA."Yoon jin ikut menyarankan.
"Atau Kak Dhafir bisa Sekolah sambil part time."Saran Yura.
Dhafir mengangguk kepala,dalam hatinya ia memang ingin bersekolah lagi menyelesaikan kenddi nya. Namun yang ada di pikiran nya saat ini adalah bekerja bukan belajar.
"Aku akan memikirkan nya nanti setelah kaki ku sembuh, terimakasih sarannya."
"Kak Dhafir, bagaimna bisa Kak Dhafir kenal dengan Lee wei ?" Tanya Yura dengan wajah serius.
__ADS_1
Sejak kemarin malam Yura penasaran bagaimana bisa Dhafir yang hanya diam di Panti asuhan bisa kenal dengan Lee wei yang nyatanya berandal,bahkan kemarin mengancam Yura karena cintanya di tolak.
Semua terkejut dengan pertanyaan Yura,Fitri yang memiliki jiwa kepo yang sudah over.
Tak tinggal diam."Kak Dhafir kenal sama Lee wei yang ganteng nya kebangetan!!!"
Plak!!
Arin memukul keras lengan tangan Fitri."Biasa aja kali,yang lain juga terkejut tapi enggak teriak kayak lo."
"Oh,dulu itu...........
Sore hari pukul 17.45 langit biru berubah warna, sunset senja terukir indah di langit-langit. Dua anak laki-laki tengah berlarian dengan baju kotor tertempel tanah.
Kakinya tak beralaskan sendal, siapa yang mau bermain bola di tanah yang becek mengenakan sendal.
Keduanya tampak bahagia lomba lari menuju rumah.
"Lee wei kau curang,mana boleh berlari duluan sebelum hitungan ke tiga." Oceh Dhafir kecil tak terima.
"Masak gitu aja kau ngambek,kan enggak dapat hadiah." Lee wei kecil terkekeh.
"Wei,itu mobil siapa ?"
"Mana aku tahu, kita kan sama-sama baru datang."
Dua bocah yang berusia 8 tahun itu mengintip dari balik pintu dapur, siapa gerangan pemilik mobil di depan Panti.
"Kamu kenal ?"Dhafir kecil kembali bertanya.
"Enggak."
"Begini Bu,kami kemari ingin mengadopsi seorang anak, terserah laki atau perempuan."Ucap Ibu berhijab abu-abu.
"Jika memang boleh kami akan merawat nya dengan senang hati."Sambung pria di sebelah nya yang merupakan suaminya.
"Jika memang Bapak,Ibu benar-benar ingin mengadopsi salah satu diantara anak-anak di sini saya tidak keberatan. Tolong di rawat sebaik mungkin,saya yakin Bapak,Ibu akan merawatnya lebih baik dari saya." Sahut Ibu Panti.
Dua bocah yang sedang mengintip sembari menguping saling pandang.
"Aku enggak mau di adopsi."
"Hei,aku juga tidak mau." Ucap Lee wei.
"Bagaimana jika kau yang diadopsi."Tebak Dhafir.
"Aku tidak mau."
"Kalau kau ?"
"Aku akan pergi, setelah mereka pergi aku akan kembali."
"Aku juga akan begitu."Sambung Lee wei.
Tiba-tiba saja Ibu Panti melihat dua bocah yang bersembunyi di balik pintu.
"Lee wei, Dhafir kemari."Panggil Ibu Panti ramah.
Lee wei dan Dhafir saling pandang, mereka tak ingin menemui Ibu Panti.
__ADS_1
"Kemari,"Bu Panti melambaikan tangan.
Dengan langkah pelan keduanya mengahampiri Ibu Panti. Keduanya duduk di samping Ibu Panti dengan wajah tertunduk.
"Wah lucu sekali ya,yang baju kuning siapa ?"Tanya Ibu itu lembut.
Lee wei mendongak,"Lee wei."
Yang baju biru ? Ibu itu kembali bertanya.
"Dhafir."Jawab Dhafir singkat tak menatap wajah Ibu itu.
"Dhafir pemalu ya, Dhafir mau enggak ikut kerumah Om."Pria itu berusaha membujuk Dhafir.
Dhafir menggelengkan kepalanya tak ingin ikut bersama pria itu.
"Kenapa ?"
Dhafir diam tak merespon, kepala nya Masih setia menunduk.
"Yah padahal Om mau memberikan semua mainan Om di rumah."
"Di rumah Om banyak mainan."Lee wei bertanya dengan mata berbinar.
"Kolam renang juga ada."Sambung Ibu berhijab abu-abu.
"Aku saja yang ikut Om."Lee wei menawarkan diri.
Dhafir terkejut,ia menatap wajah Lee wei yang tampak sangat bersemangat untuk ikut ke rumah Om itu.
"Kamu mau ikut ke rumah Om, tapi nanti kamu tidak balik ke sini lagi."Pria yang di panggil Om meyakinkan Lee wei.
"Iya Om mau."
Dhafir menatap kepergian Lee wei bersama sepasang suami istri yang hendak mengadopsi nya tadi. Ia tak menyangka Lee wei akan pergi meninggalkan nya. Padahal sebelumnya Lee wei berkata tak ingin di adopsi.
Dhafir merasa kesepian di kamar sendirian.
Biasa nya ia bercanda ria bersama Lee wei di kamar ini. Dhafir kecil meneteskan air mata nya berharap Lee wei kembali.
"Sejak itu aku enggak pernah ketemu Lee wei. Wajahnya pun aku lupa."
"Kak Dhafir kangen sama Lee wei ?"Tanya Arin
"Sedikit."
Rachel mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Memperlihatkan sebuah foto di ponselnya.
"Itu foto gue sama Lee wei kemarin.
"Ini foto Lee wei,"jelas Rachel menyerahkan ponselnya.
"Aaaa, ganteng banget!!!!,ini cowok yang kamu tolak kemarin Yura,aaa coba aja dia nembak aku."Fitri teriak histeris.
"Mimpi lo, cowok keren kayak gini mana mau sama lo yang butek." Ledek Arin.
Dhafir menatap lekat foto yang ada di ponsel Rachel. Seingatnya Lee wei memang anak yang royal,meski Ibu Panti mengatakan tak ada uang untuk membeli mainan yang ia minta. Ia akan merengek, menangis sampai mainan yang ia inginkan terbeli.
__ADS_1
"Sepertinya dia bahagia,untunglah ia menawarkan diri untuk ikut bersama Om itu."Dhafir meneteskan air matanya.