P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
KECEWA


__ADS_3

     Dirga mengatakan keinginannya untuk bertemu kembali dengan Zefa tetapi wanita itu menolak karena memang tidak bisa. Dirga juga menyatakan kekecewaannya sebab Zefa menolak bertemu namun Zefa mencoba membuat Dirga terus berharap dengan mengatakan bahwa mereka masih bisa bertemu lain kali


     Ucapan Zefa tidak ingin didengar Dirga, dua manusia dewasa itu seperti anak muda yang baru saja menjalani penjajakan untuk lebih mengenal dekat. Seperti anak yang baru tumbuh remaja dan baru merasakan cinta.


     Dirga beberapa kali merayu tetapi Zefa tetap dengan jawabannya dari pertama sampai detik ini. Wanita itu tidak bisa menemui Dirga hari ini dan pria itu tidak menyangka jika rasa kecewanya cukup berimbas besar pada diri Dirga harir itu.


     “Hei Mas Bro, lo kenapa sih dari tadi, ada masalah, cerita lah,” tutur salah seorang teman kerjanya di kantor.


     Sambil menghela nafas Dirga menyandarkan tubuhnya agar sedikit merasa lebih rileks, “Ada, gua emang lagi ada masalah,” jawabnya malas.


     “Wah wah … kalau gua liat kayaknya bukan masalah kerjaan,” balas temannya itu yang lalu mendekat kemudian berbisik, “cewek yah?”


     Senyum tipis terlihat di wajah Dirga, melihat senyum itu temannya langsung berteriak. Dia terbahak karena apa yang dipikirkannya benar, tanpa sungkan dan ditanya Dirga mengatakan apa yang saat ini sudah membuatnya kacau.


     “Parah lo Ga, gak ada yang lain apa, masa iya sama dia, deket banget itu Mas Bro!”


     “Justru selama ini gua gak pernah ngerasain kayak gini kalau sama yang lain, padahal cewek-cewek lain lo tau sendiri bagaimana,” jawabnya.


     “Asli jadi penasaran, ada fotonya gak?”


     Dirga mengeluarkan ponselnya lalu masuk ke media sosialnya. Dirga mencari nama Zefa untuk diberitahu pada temannya itu, satu kata  “Wow” keluar dari bibir temannya ketika melihat semua media sosial Zefa.

__ADS_1


     Terang-terangan pria itu mengatakan jika dirinya juga langsung tertarik sejak melihat foto Zefa pertama kali. Visual Zefa memang sangat sempurna walau sebenarnya Milea sama cantiknya tetapi Zefa di lihat lebih menantang kaum pria..


     “Gak heran kalau lo sampe kayak gini,  gua juga mau lah!”


     “Dasar lo, dia punya gua jangan diganggu gugat.”


     Temannya Dirga ngakak mendengar balasannya lalu dia berkata, “Sadar Mas Bro, dia Istri orang!”


     Satu pukulan cukup keras mendarat di bahu temannya itu dari Dirga, “Jangan diperjelas,” geram Dirga dengan tatapan nanar yang tidak membuat temannya itu takut sama sekali bahkan pria itu ngakak sambil terus meledek Dirga.


     Dirga meminta bantuan pada temannya itu dan ternyata dia mau membantu. Sudah pukul sebelas siang, Primus baru saja selesai memperkenalkan semua isi ruangan rumah makannya. Mulai dari ada ruang apa saja di sana dan memnu apa yang ada di rumah makan tersebut.


     Menu yang banyak diminati ternyata disukai juga oleh Milea, wanita itu menyukai jenis makanan yang disuguhkan Primus di tempat tersebut. Milea mengatakan jika semua yang ada di tempat itu disukainya dan ia merasa jika tidak ada yang perlu di koreksi mengenai usaha Primus.


     “Ada sih sebenarnya tapi gak banyak dan gak parah juga, itu hanya karena aku saja yang tidak suka pribadi Mas, overall semuanya aku suka,” jawabnya dengan senyum tipis seperti tadi, terlihat jika Milea merasa sedikit sungkan untuk mengatakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


     “Sudah jangan sungkan, bilang saja siapa tahu itu akan jadi masukan yang baik buat tempat ini,” tuturnya, “sekalian juga kamu komentari mengenai rasa masakannya nanti yah,” timpal Primus.


     “Ah boleh juga tuh Mas, aku bisara sambil makan deh biar otak ku lancar,” balas Milea lalu tertawa.


     Primus tertawa, dia lalu mengajak Milea duduk di meja paling belakang kemudian semua menu makanan yang ada di tempat itu disajikan agar bisa dicicipi semua rasa nya oleh Milea.  Melihat makanan yang cukup banyak di hadapannya membuat wajah sumringah Milea terlihat dan itu bikin Primus tertawa kecil.

__ADS_1


     “Ingat, komennya jangan lupa di setiap makanan,” tandas Primus yang dijawab senyum juga anggukan kepala Milea.


     Satu persatu makanan di cicipi, Milea terlihat suka kalau dari ekspresi wajahnya namun Primus tetap ingin mendengar kata yang keluar langsung dari bibir Milea. Pria itu ikut makan namun hanya beberapa karena perutnya tidak cukup juga jika Primus harus makan semua.


     Desah lega terdengar sesaat setelah Milea menyelesaikan sendokan terakhir dari makanan yang di cicipinya, tidak hanya makanan. Milea juga minum beberapa minuman segar yang tersedia di tempat tersebut.


     “Nih Mas, itu jujur yah jadi maaf kalau ada yang kurang  berkenan,” ucap Milea sambil menyerahkan secarik kertas pada Primus yang berisi catatan hasil penilaiannya pada makanan yang sudah di cicipi.


     “Iya tidak masalah, semuanya akan aku tampung,” jawab Primus sambil meraih kertas yang diberikan Milea lalu membacanya sementara itu wanita cantik tersebut membersihkan tangan lalu kembali minum beberapa tegukan.


     Primus terlihat serius melihat catatan kecil Milea, sesekali dia juga mengangguk karena mungkin apa yang ditulis Milea adalah masukan untuknya. Primus senang dengan semua penilaian Milea, dia merasa jika penilaiannya sangat objektif.


     Ucapan terima kasih diberikan karena apresiasi Milea, mereka kembali berbincang sejenak sambil sedikit menunggu semua makanan turun dari tenggorokan ke dalam perut. Primus langsung membahas isi catatan tersebut bersama Milea.


     Wanita  itu memberikan saran juga solusi untuk Primus yang saat ini mengalami kendala dengan beberapa hal yang kecil.  Melihat pengunjung semakin banyak berdatangan, Primus izin sebentar untuk ikut membantu waiternya dan Milea juga ikut membantu dan dia tidak merasa sungkan.


     Milea memperhatikan cara kerja mereka ketika ramai pengunjung dan bukan hanya Primus yang terlihat sangat cekatan tetapi juga para pegawainya membuat Milea memuji cara kerjanya. Di tempat lain Zefa yang masih bersama beberapa temannya memilih untuk makan bersama walau jam makan siang saat ini sudah lewat.


     Mereka baru saja bisa makan karena perjalanan kembali yang cukup jauh kali ini. Milea dan teman-temannya baru saja menyambangi sebuah tempat usaha milik salah satu teman mereka. Mereka kesana karena undangan pembukaan dari tempat usaha tersebut.


     Pulang dari sana Milea dan teman-temannya kembali merasa lapar sampai akhirnya mereka harus kembali mencari makanan untuk isi perut. Sambil makan sudah tentu mereka bertukar cerita juga menggosip ria.

__ADS_1


     Milea mengambil ponselnya yang berbunyi di dalam tas kecil lalu melihat siapa yang menghubungi. Terlihat wanita itu menghela nafas halus sambil gelengkan kepala ketika melihat siapa yang menghubunginya.


     “Iya ada apa?”


__ADS_2