
"Cepatlah."
Dirga bergerak masuk dengan cepat, dia meminta Zefa untuk merapikan semua barangnya lalu pergi.
Dirga juga mengabaikan pertanyaan Zefa yang ingin tahu kenapa mereka harus bergegas pergi. Sambil terus berjalan Dirga mengatakan jika dirinya akan menjelaskan nanti dan Zefa mengangguk pelan.
Di perjalanan keluar mereka melihat ada beberapa dari pengunjung yang juga sepertinya tergesa-gesa pergi dari tempat itu. Zefa hanya bisa melihat dan memperhatikan bahkan Dirga juga melakukan hal yang sama.
Setelah mereka masuk dalam mobil, Dirga langsung melaju dengan cepat keluar dari tempat Raka. Di jalan Dirga baru menjelaskan kenapa mereka harus bergegas keluar dari tempat itu, Zefa menghela nafas setelah mendengarnya.
“Ya sudah, kalau begitu antar aku pulang saja yah Mas, sudah malam,” pinta Zefa yang langsung dijawab cepat Dirga.
“Tidak, aku masih ingin sama kamu Ze, sebentar lagi,” rengeknya.
“Mas, aku harus pulang, Mas Primus pasti sudah pulang dari tadi dan Milea juga pasti sudah menunggu kamu Mas,” ujar Zefa yang membuat pria itu diam.
Beberapa waktu suasana menjadi sunyi, Dirga berpikir sejenak dan sepertinya memang kali ini dia harus mengikuti saran dari Zefa. Akhirnya Dirga mengantar wanita itu kembali ke suaminya namun sebelum mereka tiba, Dirga memastikan jika Zefa bisa kembali menemaninya lain waktu.
Wanita itu mengikuti kemauan Dirga ia berpikir lebih baik di ikut daripada nanti dirinya tidak diperbolehkan pulang. Dirga mengantarnya sampai gerbang rumah, kebetulan rumah itu memiliki gerbang yang cukup tinggi jadi tidak akan terlihat dari dalam jika Zefa pulang di antar Dirga.
“Tunggu!” Tahan Dirga ketika Zefa sudah melepaskan sabuk pengaman dan hendak keluar. Seru Dirg membuat gerakan Zefa tertahan.
“Kenapa Mas?”
“Kiss me first,” pintanya.
__ADS_1
“Apa sih Mas, sudah ah,” sahut Zefa lalu keluar dan menutup pintu mobil, “kamu hati-hati yah, aku masuk, bye,” timpalnya sambil melambaikan tangan.
Dirga tidak membalas, dia merasa kesal karena tidak dibalas keinginannya. Setelah Zefa masuk pria itu tersenyum lebar, dia merasa sangat senang karena sudah bisa menghabiskan waktu bersama Zefa hari ini.
“Aku akan memberikan sejumlah uang pada Zefa agar dia senang dan mau bertemu lagi denganku lain kali,” kata Dirga.
Pria itu lalu membuka ponselnya kemudian mengirim sejumlah uang pada Zefa. Selesai semua Dirga melakukan voice note untuk mengatakan jika dirinya sudah mentransfer sejumlah uang dan bisa di gunakan buat keperluannya nanti.
Hela lega terdengar setelah Dirga melakukan itu kemudian pria itu baru meluncur pergi dari depan rumah Zefa. Sampai di dalam Zefa disambut dengan seseorang yang membuat moodnya langsung turun.
Lala yang kebetulan baru saja beranjak dari duduknya di ruang tengah langsung tersenyum nyinyir ketika melihat Zefa baru kembali. “Wah, hebat banget Kakak Iparku satu ini, masa Suaminya yang pulang lebih dulu padahal Suaminya yang bekerja,” sindirnya.
Raut wajah ketus pun di perlihatkan Zefa, sambil terus jalan dia menjawab nyinyiran adik iparnya tersebut, “Memangnya kenapa, bukan urusan kamu juga kan!” Ketusnya.
“Laporkan saja, tidak akan berpengaruh sama sekali pada kehidupan pernikahan kami kok, masukin kuping kanan saja terus keluarkan dari kuping kiri, beres kan!” tukas Zefa yang lalu pergi dengan berjalan santai juga wajah yang sangat menyebalkan di lihat Lala menuju kamarnya.
Zefa merasa puas melihat kekesalan adik iparnya tersebut, ingin rasanya dia teriak sambil loncat. Perlahan pintu kamar dibuka, dirinya tidak ingin membuat Primus terbangun jika kebetulan dirinya sudah tertidur.
Sampai pintu itu tertutup kembali Primus tidak bergerak dan hal tersebut membuat Zefa merasa lega. Zefa membuka satu persatu pakaiannya hingga hanya tersisa pakaian dalamnya saja lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Primus mendengar pintu kamar mandi tertutup, matanya perlahan dibuka lalu Primus bergerak duduk bersandar di sisi tempat tidur. Pria itu menunggu sampai istrinya selesai membersihkan diri.
“Sudah mandinya?” tanya Primus ketika baru saja Zefa keluar satu langkah dari kamar mandi dan hal itu membuat Zefa terkejut.
“Mas Primus!” Seru Zefa, ‘Mas belum tidur, aku pikir tadi …,” timpalnya yang tidak dilanjutkan.
__ADS_1
“Iya, tadi aku memang sudah sedikit terlelap, tapi aku mendengar kamu buka pintu jadi aku kebangun lagi,” jawabnya.
Primus tetap bersandar sementara itu Zefa memakai pakaiannya. Selesai merapikan diri Zefa naik ke kasur lalu duduk di samping Primus. Percakapan ringan di mulai, Primus bertanya kemana saja seharian ini Zefa pergi dan kenapa pulang sampai malam seperti ini
Pria itu juga menanyakan apa Zefa membeli pesanan yang diminta dan semua dijawab oleh Zefa sambil bercerita. Sudah pasti Zefa berbohong tetapi suaminya yang baik dan sangat percaya kepadanya tidak memiliki kecurigaan sama sekali.
Untuk menahan kecurigaannya juga Zefa tidak lupa mengatakan permintaan maafnya karena tidak sempat untuk memberi kabar jika dirinya pulang sangat telat. Dengan sangat mudah Primus mempercayai semua cerita Zefa.
“Yaudah sekarang kita istirahat, aku juga capek dan udah ngantuk banget,” ucap Primus.
“Tadi ramai Mas?”
“Emm,” gumam Primus sebagai jawaban karena dia merasa sudah tidak memiliki tenaga untuk bersuara.
Zefa membiarkan Primus terpejam, perlahan dia berbaring lalu mendekat dan memeluk suaminya dari belakang. Dalam hati Zefa mengatakan permintaan maafnya kepada sang suami karena dirinya sadar sudah berbuat salah.
Primus yang masih sedikit tersadar merasa senang mendapat pelukan erat dari istrinya bahkan tangan Zefa ditarik agar pelukan itu semakin erat. Di jalan pulang Dirga terus teringat pada Zefa, apa yang baru saja mereka lewati beberapa saat yang lalu.
Senyum sendiri seperti orang yang baru saja merasakan jatuh cinta, Dirga benar-benar sudah terpikat oleh istri dari Primus teman dari istrinya itu. Sepanjang jalan bayangan kejadian tadi terus berada di pelupuk matanya.
“Udah lama banget gak ngerasain seperti ini lagi, gila tapi ini sih lebih gimana gitu yah,” ujarnya mencoba membandingkan dengan kejadian dulu ketika bersama Milea. Seharian itu Dirga sama sekali tidak ingat akan Milea sampai dirinya tiba di rumah.
Dari luar Dirga bisa melihat lampu dalam rumahnya masih menyala, itu berarti Milea masih belum tidur dan pasti wanita itu masih menunggunya pikir Dirga. Selepas memarkirkan kendaraannya Dirga langsung masuk.
Dia melihat Milea tertidur di meja makan, sedikit terharu di rasa. Dirga melihat menu yang ada di atas meja dan dia sadar jika semua makanan tersebut adalah kesukaannya. “Ya ampun Mil, kamu sampai tertidur dan ternyata kamu sudah masak makanan kesukaan aku!” Ucapnya perlahan.
__ADS_1