P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
SITUASI MENDUKUNG


__ADS_3

     Tidak ada senyum atau sedikit respon dari sosok yang disapa karena rasa terkejutnya itu oleh Zefa. Dirga menatap tajam Zefa lalu mata tajam itu diarahkan pada pria yang ada disampingnya Zefa, rupanya Dirga sudah melihat Zefa sejak beberapa waktu yang lalu.


     Dirga datang ke tempat itu karena Raka memang berada di sana dan pukul delapan nanti mereka ada meet up dengan seseorang untuk membicarakan masalah pekerjaan. Pertemuan itu sengaja dilakukan di bandara sebab orang yang akan mereka temui akan pergi ke luar kota pagi ini jadi sekalian.


     Dirga cepat menggerakkan tangannya sedikit mencengkram pergelangan tangan Zefa, lalu pria itu meminta waktu sedikit untuk bicara dengan wanita itu. Mendapat tatapan serta sikap dingin dari Dirga membuat Zefa sedikit merasa takut.


     “Sekarang!” Tukas Dirga.


     “Oke, kita kesana sebentar,” sahutnya menunjuk ke arah sudut ruangan.


     Melihat Kakaknya di mata Fadil di perlakukan kasar, Fadil bergerak menahan tangan Dirga yang hendak membawa kakaknya pergi, “Tunggu!” Tahan Fadil lalu mendekat.


    “Lepaskan tangan kamu darinya!” Titah Fadil dengan membalas sorot mata tajamnya Dirga.


     “Maaf tapi saya tidak ada perlu dengan Anda dan mungkin Anda mendengarnya tadi jika Zefa juga ingin bicara dengan saya,” balas Dirga nanar.


     “Benar!” Sahut Fadil, “tapi saya tidak mengizinkan, saya merasa jika Kakak saya ini akan terancam oleh Anda,” timpal Fadil.


     Dirga mematung, dia meyakinkan kembali pendengarannya. Pria itu bertanya ulang apa yang tadi diucapkan Fadil namun dia tidak ingin mengulanginya lagi. Zefa menghela nafas, dia lalu menjelaskan pada Dirga jika pria yang ada di sampingnya itu adalah adik kandungnya.


     Zefa meminta agar Fadil bersikap tenang dan dia juga memastikan kalau dirinya akan baik-baik saja. Zefa berkata pada Fadil jika dia sudah saling kenal dan memang ada yang harus mereka bicarakan juga.


      Akhirnya Zefa dan Dirga sedikit menjauh, Dirga langsung menyampaikan permintaan maafnya pada Zefa karena sudah kasar dan salah paham. Dirga berpikir jika pria itu adalah teman kencannya Zefa dan tanpa malu Dirga mengatakan jika dirinya cemburu.


     Pria itu tidak suka melihat Zefa dengan pria lain. Tentu saja hal tersebut membuat Zefa heran, Dirga kenapa bisa bersikap seperti itu pada dirinya sementara ini dia juga tahu kalau mereka sudah sama-sama memiliki pasangan hidup.


     “Mas, aku ini Istri orang loh, kok kamu malah cemburu sih,” tukas Zefa.

__ADS_1


     “Iya. aku hanya mengungkapkan perasaanku saja dan aku tidak malu dengan itu,” jawabnya, “jujur ku sangat ingin bertemu dengan kamu Ze, aku kangen.”


     Zefa tidak membalas ucapan Dirga, wanita itu mengalihkannya dengan bertanya perihal uang yang diberikan Dirga padanya tempo hari. Dirga mengatakan jika dirinya sengaja memberikannya untuk pegangan Zefa, agar digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.


     Dirga ingin mengajak Zefa selepas dirinya melakukan pertemuan kali ini, “Kamu tunggu aku, gak akan lama kok,” pintanya.


     “Kalau lebih dari dua jam aku tinggal yah Mas,” ancam Zefa.


     “Iya, tidak akan sampai.”


     Raka memanggil dan Dirga langsung pamit namun dia kembali mengingatkan agar wanita itu menunggu dirinya. Zefa kembali pada Fadil yang memang masih menunggu keberangkatan, raut wajah Fadil berubah ketika kakaknya itu mendekati.


     Zefa tahu jika adiknya itu tidak menyukai dirinya yang seperti itu, baru saja kakaknya duduk wejangan sudah diberikan. Fadil mengatakan rasa tidak sukanya dengan sikap Zefa yang ternyata masih sedikit nakal dan wanita itu sadar betul dengan perbuatannya.


     “Suami kakak itu sudah yang the best, jangan macam-macam lagi, jangan main api,” saran Fadil kemudian dia meneguk beberapa minuman, “aku gak akan bantu Kakak kalau memang nanti terjadi sesuatu,” timpalnya sambil angkat kedua tangannya.


     Kurang lebih setengah jam mereka masih berada disana sampai Fadil mendengar panggilan jika pesawat yang akan ditumpanginya sudah siap terbang. Zefa ikut mengantar Fadil sampai batas yang seharusnya, keduanya berpelukan dan janji akan saling mengabari.


     Untuk beberapa saat Zefa masih berada di sana menatap kepergian sang adik. Setelah memastikan pesawat itu sudah berangkat Zefa balik badan. Wanita itu kembali ke tempat dimana dirinya harus menunggu Dirga dan dia duduk manis di meja itu sendiri.


     Sementara itu Primus yang pergi sejak pagi tidak langsung pergi ke puncak, dia harus menyelesaikan beberapa tugas lebih dulu yang ada di tempat usahanya nomor satu. Dirinya sudah menghubungi salah satu pegawainya yang setia Baim.


     Primus meminta dia untuk datang membantu dirinya, dua jam Primus baru menyelesaikan beberapa pekerjaannya di sana. “Ok, sudah semua yah dan kalau ada apa-apa kamu telepon saja,” tutur Primus.


     “Iya Mas, nanti aku info juga sama yang lain,” jawab Baim.


     “Ok, kalau memang bahan sudah habis semua tutup saja tidak masalah,” kembali Primus berkata.

__ADS_1


     Primus keluar dari ruangannya dengan membawa beberapa berkas, satu persatu pegawainya mulai bermunculan namun pria itu hanya menyapa sambil terus melangkah. Sampai di parkiran Primus tidak melihat jika ternyata Milea sudah ada di sana.


     Wanita itu baru saja tiba dan masih berada dalam mobilnya, melihat Primus hendak berangkat Milea bergegas membuka sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil dan berteriak memanggil nama Primus. Teriakan itu berhasil membuat pria tersebut menghentikan langkahnya lalu menoleh.


     “Milea!” Seruya terkejut mendapati wanita tersebut ada disana lalu tangannya di turunkan, mengurungkan niat membuka pintu.


     “Kok kamu ada disini?”


     Milea mendekat dengan nafas sedikit terengah, “Iya,” sahutnya, “aku buru-buru keluar pas lihat kamu mau pergi,” tuturnya, “kamu mau kemana Mas?”


     “Aku mau keluar kota, malam mungkin baru kembali,” jawabnya.


     Mereka bicara sebentar dan di ujung obro lan Milea mengatakan jika dirinya ingin ikut dengan Primus. Pria itu menolak karena dirinya mungkin akan merasa bosan nanti dan juga Milea masih harus mengerjakan beberapa pekerjaannya namun Milea tetap ingin ikut.


     “Aku akan izin sama Mas Dirga,” ujarnya.


     “Mil, bukannya aku tidak ingin ajak kamu, tapi nanti aku takut kalau kamu malah minta pulang lagi,” guraunya.


     Milea tidak mau mendengar ucapan Primus, dia menghubungi suaminya yang saat ini sedang meeting namun ternyata telepon dari Milea tidak diacuhkan olehnya. Milea langsung mengatakan kenapa dirinya menghubungi dan dia juga mengatakan jika ada Primus di sampingnya.


     “Terus Mas Primus izinkan tidak?”


     “Tidak , tapi aku mau ikut Mas,” rengek Milea manja.


     “Kalau misalkan usaha kamu aman aku sih tidak masalah, lalu memangnya kamu mau ikut mau ngapain Mil, Mas prius kan kerja lalu kamu!”


     “Aku mau lihat dan nanti mungkin jalan selama dia meeting,” jawabnya.

__ADS_1


     Dirga tidak masalah, dia malah senang jika Milea ikut dan dia juga merasa beruntung Milea menghubunginya karena dengan itu Dirga jadi tau kalau hari ini mungkin Zefa tidak ada acara jadi dia bisa juga mengajak Zefa pergi dan kembali sebelum Milea serta Primus kembali.


__ADS_2