P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
EMOSI TINGGI


__ADS_3

     “HEI! APA-APAAN LO!” Teriak Kalina.


     Zefa putar kepala bersama Primus mendengar teriakan dari suara yang seperti nya mereka kenal. “Kalina!” Terkejut Zefa berkata. Mereka langsung bergegas mendekati dua wanita yang saat ini sudah saling jambak dan menjadi tontonan pengunjung yang lain.


     Primus dan Zefa juga beberapa pegawai di tempat itu mencoba untuk melerai namun sedikit sulit karena baik Karin juga Kalina sama-sama tidak mau mengalah. Keduanya seperti mengeluarkan semua emosi mereka saat ini.


     Tenaga mereka sangat kuat sampai satu orang saja tidak bisa memegangi Kalina ataupun Karin. Emosi memang bisa membuat orang kuat dan jadi gila, keduanya sudah tersulut emosi dangat dalam sehingga sulit sekali untuk dipisahkan.


     PLAK


     Satu tamparan cukup keras dilakukan Zefa pada pipi Karin agar wanita itu bisa tenang bahkan diam. Sontak apa yang dilakukan Zefa membuat semua yang ada di tempat tersebut diam.


     “Kalau kalian tidak mau menghentikan semuanya maka aku tidak akan segan meminta penjaga keamanan untuk membawa kalian!” Tukas Zefa dengan tatapan tajam.


      Karin menatap nanar Zefa sambil sedikit meringis memegangi pipinya yang terasa perih sebab tamparan Zefa sangat keras. Perlahan pipi putih itu terlihat memerah, dalam hatinya Karin terus mengutuk Zefa yang sudah berani melakukan menamparnya.


       Karin menatap nanar lalu jalan dengan tatapan yang seakan ingin memakan Zefa sementara itu Zefa yang sedang melihat ke arah lain tidak menyadari ada bahaya yang mengancam. Tangan Karin bergerak ingin memukul Zefa dengan tatap nanar yang tidak lepas dari wanita itu.


     ‘Rasakan pembalasan gua!’ Batin Karin.


      Tangan Karin melayang dan tingga dua jengkal telapak tangan itu mendarat di wajah Zefa satu tangan kuat menahan gerakannya dan membuat wanita itu geram.  “MAS!” Sentak Karin sementara itu Kalina tersenyum senang sebab Karin tidak bisa menyentuh Zefa.


     “Jangan coba lakukan itu pada Zefa,” balas Primus membuat Karin naik darah.

__ADS_1


     “Kamu lebih memilih wanita murahan itu daripada aku Mas, kamu memang sudah tidak waras, kamu gak sadar kalau kamu itu sudah kena guna-guna sama dia,” cerocos Karin.


     “Sudahlah Rin, kamu sebaiknya pulang, apa kamu gak malu jadi tontonan banyak?” ujar Primus yang masih bisa sabar menghadapi mantan tunangannya itu.


      Zefa yang sepertinya sudah hilang sabar mendekat tetapi Primus menahan tubuhnya untuk lebih dekat lagi dengan Karin, “lepas Mas, sekali-kali dia harus diberi pelajaran,” tukas Zefa, “gua setuju,” timpal Kalina dengan senyum menyeringainya.


     “Hei Ze, lo pikir gua takut sama pelakor macam lo!”


      Perdebatan kembali terjadi, Zefa yang tidak terima dibilang pelakor membalas dan saling balas menjatuhkan pun tidak terhindari. Keributan yang belum lama selesai kini kembali dengan posisi yang saat ini mereka sudah berada di luar toko.


      Primus tidak suka dengan semua kata kasar yang keluar dari bibir Karin untuk istrinya. Telinganya panas dan dia sudah tidak bisa lagi menahan panasnya rasa di dada. Primus menarik paksa Karin menjauh dari Zefa, pria itu terus meminta Karina agar tidak lag bicara.


     Wanita keras kepala tersebut tidak ingin mendengar ucapan Primus, mendengar ucapan Karin akhirnya keluar ancaman dari mulut Primus. “Kalau kamu tidak mau pergi aku tidak akan segan membawa kamu ke pihak yang berwajib.”


      Karin langsung meninggalkan Primus yang juga bergerak balik badan. Pria itu ikut kembali bergabung dengan Zefa juga Kalina yang memang menunggunya. Wajah kedua wanita yang tadi sumringah kini sudah berbeda, mereka tidak lagi terlihat bersemangat.


     Primus meminta maaf karena sudah mengganggu kesenangan mereka, Kalina dengan seenaknya meminta agar Primus mengizinkan Zefa untuk menginap di rumahnya malam ini dan besok pagi pukul sepuluh setelah dirinya bangun dari tidur wanita itu berjanji kalau dirinya akan antar Zefa dengan selamat..


     “Eh, gak bisa lah, masa gua ninggalin Mas Primus!” Sela Zefa di tengah perizinan dirinya.


     Primus mendekat lalu membelai lembut kepala Zefa seraya berkata, “Aku akan beri izin kamu Ze,” katanya memuat Zefa balik badan membuat mereka saling berhadapan..


    “Mas, apa kamu yakin?” tanya kembali Zefa memastikan yang dijawab anggukan kepala, ‘tapi aku tidak mau Mas,” ucapnya kemudian balik badan, “Lin, gua gak mau ah,” balasnya pada Kalina.

__ADS_1


     Kalina menolak, dia tetap ingin Zefa pergi bersamanya malam ini. Primus tersenyum sambil mengangguk, Kalina terus mengompori agar temannya itu tidak menyia-nyiakan izin dari suaminya itu.


    Zefa belum pernah menginap dimanapun sejak dirinya menikahi Primus walau tampak cuek tapi dia masih bisa menghormati suaminya. Primus pulang sendiri dan membiarkan istrinya bergerak bebas malam ini.


     Pria itu berpikir dia melakukanya untuk menebus kesalahan pada Zefa karena dirinya sudah berpikir yang tidak-tidak pada istrinya. Selepas primus keluar dari gedung besar itu Kalina tertawa ngakak, dia tertawa geli dan cukup lama bisa berhenti karena Primus menurutnya sangat polos.


     “Dasar, percaya aja lagi sama gua,” ejeknya.


     Zefa mengerutkan kening mendengar itu, “Memangnya lo bohong apa sama Mas Primus Lin?” tanya Zefa heran.


     Kalina kembali ngakak mendengar pertanyaan Zefa, dia tidak sanggup untuk menjawab pertanyaannya. Dengan tawa yang masih tidak bisa lepas Kalina ajak Zefa keluar dan menyudahi shopping mereka saat ini.


     Mereka pulang ke rumah Kalina tetapi hanya sebentar sebab setelah itu Kalina ajak Zefa untuk keluar rumah sementara itu primus yang sudah tiba di rumah sejak tadi langsung beristirahat walau awalnya sedikit sulit tidur tanpa Zefa di sampingnya tetapi lama kelamaan pria itu bisa juga memejamkan matanya karena rasa kantuk yang terlalu.


     Dirga tetap tidak bisa bersenang-senang seperti Raka saat ini. Raka sangat menikmati setiap sentuhan tiga wanita yang ada di sekelilingnya. Raka meminta satu dari wanita itu menemani Dirga sejak pertama kali mereka datang namun Dirga menolak.


     “Hei, sudahlah nikmati aja yang ada dulu,” ujar Raka yang sesekali memberikan kecupan singkat pada tiga wanita itu.


     “Gak bisa gua, yang ada di kepala gua cuma dia dan gua juga maunya sama dia jadi gak berhasrat sama sekali dengan yang lain,” jawabnya bikin Raka tertawa.


     “Parah lo, di pelet kayaknya sama si Zefa,” gurau Raka lalu dia mengatakan jika tadi dirinya sudah menghubungi Kalina dan memintanya untuk datang dan gabung dengan mereka.


     Raka juga mengatakan sesuatu yang membuat Dirga terkejut. Raka mengatakan jika dia meminta Kalina untuk membawa Zefa namun Kalina tidak bisa memastikan tetapi beberapa menit yang lalu Kalina berkata jika dirinya berhasil dan akan membawa Zefa bersamanya.

__ADS_1


     “Yakin lo?” tanya Dirga seolah tidak percaya dan hanya dianggap anggukan kepala, “cewek-cewek ini gimana?”


__ADS_2