
Primus langsung jurus untuk membuat wanita itu merasakan surga dunia. Perlahan tapi pasti pria itu mulai melakukan sentuhan-sentuhan nakalnya di beberapa bagian tubuh Zefa yang bisa membuat wanita tersebut semakin bergairah.
Tubuhnya yang sudah seperti bayi baru lahir membuat Primus bebas melakukan apapun pada tubuh Zefa saat ini. Rasa kegelisahan karena keinginan salah satu organ di bagian bawah tubuhnya kini dilakukan.
Tidak lama pria itu melakukan pemanasan sebelum akhirnya dia mulai menyatukan tubuhnya pada Zefa. Sedikit ringis terdengar dari bibir manis itu ketika sebuah benda memasuki daerah intimnya.
Desah juga terdengar setelah ringis yang keluar, Zefa dibuat menggenggam erat benda yang ada di sekitarnya saat Primus mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur. Sesekali Zefa memanggil nama suaminya dengan penuh rasa, pria itu terus membuat dia memanggil namanya.
“Mmhh, Mas!”
“Iya Ze,” sahutnya lalu sedikit mendesah.
Malam itu Primus melampiaskan rasa rindunya dan bukan hanya kerinduan di hati semata tapi juga melampiaskan hasrat kerinduannya. Memang sudah beberapa hari ini mereka disibukkan dengan pekerjaan masing-masing sehingga ketika sampai di rumah keduanya sudah merasa lelah dan malas.
Primus tidak akan mengganggu Zefa kalau tidak diminta adik kecilnya. Jika si bontos sudah meminta maka rasa lelah di dalam tubuhnya tidak berpengaruh, keinginan di bontot tidak boleh diacuhkan atau nanti akibatnya bisa berbahaya.
Bukan hanya Primus tetapi pria manapun kebanyakan akan merasakan hal yang sama jika hasratnya tidak terlampiaskan. Sama hal nya dengan Dirga yang siang tadi tidak bisa mengeluarkan gairah yang ada dalam tubuhnya kini coba di lakukan malam pada wanita yag berbeda.
“Mas, emm … kamu kenapa?” tanya Milea di tengah pergulatan mereka walau dengan nafas yang sangat terengah juga dengan sesekali suara desahnya.
“Aku baik sayang, argh …,” sahutnya kemudian membuat wanita itu terpekik tertahan.
Dirga menghentak dengan sangat kuat sampai tubuh Milea mengejang menahan tusukan yang sangat dalam darinya. Pegangan yang semakin kuat dengan jerit karena nikmat alam itu menjadi suara malam yang mengawali waktu untuk mereka beristirahat nantinya.
__ADS_1
Semakin cepat gerakan yang dilakukan Dirga semakin sering terdengar suara-suara yang membuat keduanya makin bergairah dengan hasrat yang sangat membara. Tubuh mereka yang kini penuh peluh dan deru nafas terengah tidak membuat keduanya lelah.
Rasa lelah yang ada sewaktu pulang tadi akan semakin melelahkan ketika keduanya menghentikan semua yang dilakukan saat ini. Semakin cepat Dirga bergerak semakin kuat pegangan Milea yang menahan rasa, tubuh wanita itu semakin dibuat ingin mengeluarkan suatu rasa.
Rasa yang ada di ujung daerah intim Milea kini keluar seiring dengan teriak desah nikmat setelah Dirga terus menghentaknya cepat dan kuat. Desah lega juga terdengar dari bibir Dirga yang baru saja mengeluarkan hasratnya dengan sempurna tetapi dia merasakan ada sesuatu yang berbeda.
‘Ah … kenapa rasanya seperti ada yang kurang,’ batinnya.
Tubuh lelahnya di lempar ke samping masih dengan hela nafas yang masih memburu, Milea melihat ke arah Dirga yang sedang kelelahan dan mencoba untuk mengatur pernafasannya agar kembali normal.
Dari tubuhnya terlihat jika suaminya itu sangat lelah namun hela nafas juga raut wajah Dirga terlihat sangat berat. Sedikit berkerut kening Milea melihat hal itu, wajah yang berbeda. Tubuh terlihat lelah namun rasa puas tidak terlihat di wajahnya.
‘Seperti ada sesuatu, tapi apa?’ benak Milea.
Mata Dirga terpejam masih dengan gerak yang mengatur nafas. Milea perlahan mendekat lalu memeluknya dan malam ini kembali wanita itu merasakan sesuatu yang berbeda. Dirga tidak membalas pelukannya, Dirga diam dengan mata yang dibuat masih tertutup.
Hela nafas lembut yang halus dilakukan Milea dengan wajah lesu, bahkan sampai beberapa menit Milea memeluknya pria itu tetap diam tidak merespon. Baru ini Milea merasakan hatinya bergetar getir, ada rasa yang tidak biasa yang dirasakannya mengenai suaminya saat ini.
“Mas, apa kamu tidak mau membersihkan diri dulu?” tanya Milea walau merasa sangat canggung.
“Emm … tidak Mil, malas,” jawabnya yang kali ketiga Milea menemukan kelainan dalam diri suaminya.
Wanita itu beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri dan dia membiarkan suaminya terbaring beristirahat sementara itu di kamar yang berbeda Primus masih berjuang untuk mengeluarkan hasratnya.
__ADS_1
Pria itu masih berjuang membuat sang istri merasa terpuaskan. Milea ingin kali ini dirinya yang mengendalikan permainan dan dia melakukan itu. “Emm,” gumamnya melepaskan tautan yang sedang mereka lakukan.
“Aku di atas sayang,” ucapnya dengan senyum manis.
Senyum sumringah Primus terlihat karena dia senang jika Zefa yang bergerak, “Iya sayang silahkan, berbuatlah semaumu,” godanya juga dengan senyum yang memikat.
“Emm, dasar,” gurau Zefa lalu sedikit memberikan cubit manja di perut Primus yang seperti roti sobek.
Primus tidak kalah keren tubuhnya dari Dirga, pria itu hanya kalah dari materi saja. Sampai usia pernikahan mereka saat ini Primus memang masih belum bisa memenuhi semua apa yang diinginkan Zefa juga beberapa keinginan mereka dalam kehidupan rumah tangga tetapi pria itu bukan orang yang berdiam diri.
Primus tetap berusaha untuk membuat istri tercintanya itu senang, dia berusaha membuat kebutuhan Zefa baik batin dan lahir terpenuhi. Sangat mencintai Zefa hanya itu yang saat ini terus dipertahankan Primus.
Pria itu berusaha keras untuk tidak tergoda dengan wanita lain juga hal lain yang bisa membuat rumah tangganya nanti hancur. Primus pria yang sangat bertanggung jawab dan family man, apapun akan dilakukan agar bisa membuat seseorang yang dicintainya bahagia.
“Bersiaplah sayang,” goda Zefa yang kini berada diatas tubuh Primus dengan gerak yang sengaja dibuat menggoda.
“Aku selalu siap, aku pasrah,” guraunya menggemaskan membuat satu cubitan kecil mendarat lagi di pinggangnya kini.
Primus sedikit berteriak juga sedikit menggerakkan tubuhnya karena geli dapat cubit dari Zefa. “Emm,” gumam Zefa ketika dirinya mulai menyatukan tubuh dengan Primus. Zefa merasa ada sedikit rasa nikmat yang merasuki sebagian tubuh itu.
Wanita itu mulai bergerak perlahan yang membuat gumam halus karena rasa enak keluar dari bibir Primus. Kedua tangannya diletakkan di pinggang ramping Zefa takut jika dalam gerakannya perempuan itu membutuhkan sedikit bantuan tenaganya.
Keduanya kembali berusaha untuk membuat tubuh mereka memanas, Primus yang kini ada dibawah tubuh Zefa tidak tinggal diam. Pria itu tetap bergerak membantu Zefa agar lebih lagi bergairah dan membuat darahnya mendidih dengan melakukan kenakalan di bagian tertentu dari tubuh Zefa.
__ADS_1
Ketika mereka merasa semakin bergairah keduanya bergerak bersamaan selaras dan seirama agar bisa bersama-sama mencapai puncak kenikmatan malam ini. Primus yang sudah membuat mata Zefa melek dan membuat tubuhnya menginginkan lebih tersenyum lebar.
“Mmpp!”