
“APA!” Seru Raka penasaran sambil membuat tubuhnya terbangun dan mendekat lagi ke Kalina, wanita itu tidak langsung menjawab. Dia terlihat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya karena takut jika Raka menyalahkannya walau dia tahu kalau dirinya memang salah.
“Jangan bilang kalau kamu kesana dan mengganggu mereka sedang wik wik!” Kembali Raka bertanya dengan tatap sedikit tajam penuh selidik.
Wajah Kalina sedikit lagi ditundukkan dan dari geraknya saja Raka sudah bisa mematikan apa jawaban dari Kalina walau dia tidak menjawab. “Aku tau aku salah, aku sangat penasaran dan jadinya yah gitu,” akhirnya dia membalas.
“Emm, lalu apa yang sedang mereka lakukan saat kamu membuat mereka terkejut?”
Pertanyaan Raka membuat Kalina mengerutkan dahi, apa maksud dari pertanyaannya itu. Apa dia juga sama seperti dirinya yang penasaran dengan kedua manusia tersebut. Kalina menghela nafas lalu tertawa tipis kemudian meledek Raka.
Dia mengatakan apa yang dilihatnya, sedang apa Dirga dan dengan posisi yang seperti apa. Mata Raka membesar karena dia tidak menyangka kalau ternyata temannya itu benar-benar sudah hilang akal.
Sementara mereka seru bercerita, Dirga yang membuat tubuh Zefa kembali terbaring langsung melanjutkan kegiatannya namun Zefa ternyata kali ini memberikan penolakan. Dia ingin tahu apa tadi ada orang atau ada apa tetapi Dirga mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Aku tidak percaya, sudah lah kita sudahi saja, tadi pasti Kalina kan atau Raka!”
Dirga menatap tajam Zefa karena mendengar ucapannya, pria itu kian mendekat dengan tatapannya membuat Zefa sedikit ketakutan. “Apa kamu bilang, sudah!” ucapnya masih dengan tatap menusuk, “jangan bercanda, kamu tau kan kalau aku tidak akan melakukan hal itu, malam ini kamu milikku!”
Zefa tidak berani membalas tatapan Dirga, wanita itu menelan salivanya dan dengan cepat wajahnya yang tidak sejajar dengan Dirga kini dibuat sejajar. Pria itu kembali mendaratkan bibirnya dan membuat bibir Zefa terkatup.
Dalam benaknya Dirga marah akan sikap Kalina yang dianggapnya tidak tahu etika. Seharusnya dia tahu apa yang sedang mereka lakukan saat ini tanpa harus diberitahu. Dirga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Dirga tahu tidak mungkin dia bisa berada dalam situasi seperti ini dalam waktu dekat.
Pria tersebut kembali membuat Zefa tidak berkutik, dia membuat tubuhnya melemah perlahan dan bukan hanya itu tetapi Dirga juga membuat tubuhnya kembali sedikit panas. Dirga terus melancarkan serangannya hingga tidak butuh waktu lama suhu dalam tubuh keduanya memanas.
Gumam terdengar dari bibir manis Zefa, tangannya semakin kuat mencengkram benda yang bisa di pegangnya karena Dirga sudah membuat tubuhnya bergetar hebat. Gerakan tubuh Dirga membuat seluruh bagian tubuh Zefa bergoyang tidak terkendali.
__ADS_1
“Akh, Mas …,” pekik Zefa.
Senyum terlihat di wajah Dirga saat mendengar pekik wanita yang ada di bawah tubuhnya kini. ‘Aku akan buat kamu terus menggeliat sayang dan aku akan buat kamu tidak akan melupakan yang terjadi saat ini,’ benak Dirga dengan tatap tajam ke wajah Zefa yang sedang menutup matanya karena menikmati rasa.
Nafas Zefa serta keduanya sudah sangat memburu, peluh sudah membasahi tubuh mereka dan darah yang yakin mendidih seratus derajat membuat Dirga dan Zefa tidak bisa mengontrol keinginan tubuh masing-masing.
Zefa berbisik tanpa sadar jika dirinya menginginkan lebih, sontak saja Dirga semakin bersemangat membuat wanita itu tidak berdaya. Malam ini Dirga sudah mengatakan pada dirinya jika dia akan buat Zefa lemas sampai tidak kuat berdiri.
‘Yah, aku kan lakukan itu malam ini.’
Erang panjang terdengar saat Dirga semakin cepat bergerak, hujam ke bagian tubuh Zefa semakin di perdalam sampai membuat tubuh itu mengejang. Raka yang tidak habis pikir dengan Dirga terus gelengkan kepala.
“Kenapa emangnya?”
“Daya tarik Zefa memang beda dan aku yakin kalo kamu juga pasti tertarik kan sama dia!” balas Kalina dengan tatap yang membuat Raka senyum geli, “kenapa malah ketawa, bener yah omongan aku?”
“Emm … mau yang jujur apa nggak!” ledek Raka yang berhasil buat Kalina sedikit kesal.
“Gak udah juga gak apa-apa, aku tau kok jawabannya dan yang pasti juga benar,” gerutu Kalina yang lalu langsung menjauh.
“Ets mau kemana!” Seru Raka yang menahan gerak Kalina dengan mencengkram pergelangan tangannya.
Pria itu langsung menarik tubuh Kalina sampai tubuhnya jatuh ke atas Raka, “Lanjut yuk!” ajak pria itu dengan raut wajah menggoda.
“Apa, tadi?”
__ADS_1
“Iya lah, kuy lah,” sahutnya dengan lirikan mata yang dimainkan membuat Kalina tertawa geli.
“Emang udah bisa tuh berdiri lagi!” gurau balas Kalina dengan lirikan yang mengarah ke bagian daerah intim Raka.
“Yeh … udah lebih dari lima menit,” balasnya, “makanya cari tau biar tau, okey.”
Kalina tidak tahan menahan tawanya melihat Raka yang seperti itu, tawa geli keluar dari bibirnya yang juga berhasil membuat Raka tertawa sebab dia juga merasa geli dengan dirinya sendiri.
Kedua orang itu tidak pernah banyak bicara, mereka langsung sama-sama peka dengan apa yang keduanya inginkan. Raka membuktikan jika kepunyaannya sudah bisa berdiri dengan tegak kembali bahkan bisa mengeras seperti batu bahkan sudah siap untuk kembali bertempur.
Melihat gerak juga sentuhan Raka membuat Kalina tersenyum, wanita tersebut membalas semua gerak yang diberikan Raka. Saling membalas mereka lakukan seperti apa yang sampai detik ini masih dilakukan pasangan di luar sana.
Dirga sudah membuat tubuhnya semakin panas, kini dia akan membuat cairan dalam pistolnya siap untuk dikeluarkan. Ritme gerak semakin dipercepat, gerakan Dirga membuat tubuh Zefa terus memanas sampai akhirnya mereka sama-sama bisa mengeluarkan gairah keduanya malam ini.
“AKH …,” seru lega Dirga terdengar berbarengan dengan desah manja yang keluar dari bibir Zefa.
BRUK
Tubuh lelah Dirga dilemparnya di sisi Zefa yang sedang menutupi tubuh polosnya, senyum dengan wajah sumringah diperlihatkan Zefa. Dia melihat wajah lelah Dirga yang masih berkeringat dan entah kenapa hatinya merasa sangat senang.
Tiba-tiba tubuhnya kaku, matanya membesar karena hadir bayangan Primus di kepala. Zefa menelan saliva perlahan, samar Dirga melihat raut wajah Zefa yang tiba-tiba berubah. Pria tersebut beranjak perlahan dan Zefa tidak menyadari itu.
Dekapan hangat Dirga membuat lamunan Zefa buyar, hanya senyum tipis terlihat sebagai respon dari pelukan Dirga. Kepalanya dibuat bersandar di bahu Zefa dan Dirga memberikan kecupan singkat di pipi Zefa seraya berkata, “Makasih sayang.”
“Aku mau pulang sekarang.”
__ADS_1