P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
MERASA BERSALAH


__ADS_3

     Dirga terus membuat Zefa terbuai dengan segala sentuhan yang diberikan. Bukan hanya Zefa semata, Dirga juga sudah merasa terlena dengan balas yang diberikan wanita itu padanya. Balas yang membuat dirinya semakin bergairah.


     Zefa melanjutkan apa yang diawali Dirga, dirinya berpikir jika tidak ada orang juga di rumah dan mungkin dengan cara ini dirinya akan merasa lebih baik karena beberapa kejadian yang tadi dan membuat dirinya semakin kacau.


     Dia kini mulai membiarkan tubuhnya bergerak bebas, hal yang sama dilakukan Dirga yag saat ini membiarkan jiwa liarnya beranjak naik. Jari nakalnya sudah bergerilya menjelajahi sisi gunung besar Zefa yang membuat desah halus terdengar lembut masuk di telinga pria itu.


     Di dalam mobil Lala masih mendesak mamanya yang pada akhirnya dia angkat bicara agar anak kesayangannya itu tidak terus bertanya karena rasa penasarannya. “Mamah tadi merasa sedikit iba melihat Zefa,” ungkapnya.


     “Iba!” seru Lala heran, membuat anak itu bingung, “mamah yakin, kenapa bisa memiliki perasaan seperti itu?”


     “Iya, saat itu Mama diam dan melihat dan Mama seperti melihat jika dia itu berkata jujur,” ungkapnya membuat Lala merasa kecewa.


     “Mamah kenapa sih, ada apa sama Mamah,” sahutnya sedikit bersuara keras, “aku heran deh, padahal tadi Mamah tidak ada masalah, Mama kepalanya tidak terbentur kan?”


     Wanita paruh baya itu tersenyum tipis lalu berkata, “Tidak lah La, amah baik-baik saja kok,” balasnya lalu menghela nafas. Wanita itu seperti enggan untuk melanjutkan lagi perbincangan itu.


     Kembali ia melihat jalan dengan tatapan kosong, Lala memperhatikan dan bertanya  dalam hati karena masih penasaran, ada apa dengan Mamanya. Melihat raut wajah Mamanya, anak itu juga berpikir untuk tidak dulu mengganggunya saat ini.


     Di jalan lain Milea melaju dengan kendaraannya sedikit perlahan. Dalam kepalanya saat ini sekilas dia kepikiran dengan kejadian di rumah Primus tadi, dimana dirinya sempat seperti mencium harum parfum sang suami.


     “Iya, jujur aku tadi benar-benar menciumnya, sama persis dengan harum yang biasa aku cium jika dekat dengan Mas Dirga, aku tau persis harum itu, identik banget dengan Mas Dirga,” ucapnya sepanjang perjalanan.


      Milea kembali berpikir setelah beberapa saat, dia berpikir jika apa benar ucapan Zefa kalau dirinya salah karena tidak mungkin juga Dirga datang kesana sendiri, untuk apa, pikir Milea. Pikiran tidak baik itu coba di singkirkannya, dia tidak ingin memiliki pemikiran buruk mengenai suaminya.


     “Mas Dirga memang suka sekali dengan tipe wanita seperti Zefa tetapi tidak mungkin dia mendekatinya,” ucapnya lalu kembali berpikir, “iya, tidak mungkin dia melakukan itu sebab dia tau kalau aku dan Mas Primus dekat,” timpal Milea.

__ADS_1


     Milea menghela nafas panjang beberapa kali agar dirinya tidak lagi berpikir jelek mengenai suaminya walau apapun itu bisa saja terjadi namun dia tetap tidak ingin ingin memikirkannya. Saat ini dia berusaha untuk kembali fokus berkendara dan mulai mempercepat laju kendaraannya.


     Sementara itu Primus yang kini sudah sampai di tempat tujuan pertama sudah juga bertemu dengan koleganya. Seperti biasa mereka langsung bicara mengenai bisnis, Primus sengaja ingin bertemu dengan temannya saat ini yang juga menjadi salah satu rekan bisnisnya.


     Selain untuk membicarakan bisnis yang sudah mereka kerjakan, Primus juga mau sedikit cerita dan meminta sedikit masukan mengenai usaha yang sedang dirintisnya bersama Milea yang tidak berjalan mulus seperti apa yang mereka harapkan. Tidak terasa ternyata Primus lumayan lama berada disana.


     PRANG


     Gelas yang hendak diraih Primus ternyata jatuh padahal dia jelas sekali sudah menggenggamnya dengan sangat baik tetapi kenapa tiba-tiba lepas. Pria itu lalu memeriksa telapak tangannya licin atau tidak dan ternyata tidak.


     “Licin gak?”


     “Nggak, aman,” sahut Primus masih mengusap telapak tangannya.


     “Semoga ini bukan pertanda buruk,” balas temannya yang bersamaan dengan perasaan Primus yang kurang baik. Melihat Primus diam temannya bertanya, “kenapa, lo gak apa-apa kan?”


     Temannya menyarankan agar Primus menghubungi orang terkasih entah itu keluarga atau istri dan Primus mengikuti saran dari temannya tersebut. Pria itu langsung menghubungi nomor Mamah dan langsung mendapat jawaban jika beliau baik-baik saja.


     Setelah itu Primus menghubungi Zefa dan dalam hati dia terus berdoa agar istri tercintanya itu baik-baik saja. Satu kali masih belum dijawab lalu dia mencoba untuk kedua kalinya dan berharap kali ini Zefa akan menjawab cepat.


     Semetara Primus cemas dengan rasanya di rumah, orang yang membuatnya cemas saat ini sudah melepas pakaian bagian atas. Dirga sedang menikmati buah kecil yang ada di ujung gunung besar Zefa dan sentuhan Dirga itu membuat wanita itu menggeliat menikmati rasa.


      “Mmpp,” desah wanita itu kini sering terdengar.


     ‘Nikmatilah sayang,’ batin Dirga yang terus membuat lidahnya menari mengelilingi ujung gunung besar Zefa.

__ADS_1


     Kain penutup dibuangnya sembarang membuat kini bagian atas tubuh Zefa benar-benar tanpa sehelai benang pun terlihat. Remas gemas jari Zefa menekan punuk Dirga seakan dia ingin terus dibuat merinding bulu kuduknya.


     Desah kian terdengar, tangan nakal Dirga kini mulai menjalar ke arah daerah sensitifnya. Perlahan celana tidurnya mulai dibuat turun dan Zefa tidak menahan gerakan tangan nakalnya Dirga. Wanita itu membiarkannya bahkan Zefa membantu untuk membuat celananya cepat sampai bawah.


     Dering telepon terdengar, mereka coba mengabaikan sampai dering kedua kembali terdengar dan Zefa sadar juga tahu kalau itu dari Primus sebab dia memakai dering berbeda. Zefa mendorong tubuh Zefa seraya berkata, “Tunggu!”


     “Biarkan lah Ze,” keluhnya yang tidak ingin jauh dari tubuh polos Zefa namun wanita itu tetap menolak lalu berkata, “itu Mas Primus, biarkan aku jawab dulu,” balasnya.


     “Nanti saja, kan bisa bilang kamu ada dimana gitu, sebentar lagi sayang,” rengek Dirga.


     “Mas … tolonglah,” balasnya.


     Dirga kesal mendengar rengekan Zefa dan membuat dirinya kesal. Pria itu menjauh dengan wajah kesalnya dan membiarkan Zefa meraih ponsel yang tidak jauh ada di sampingnya. Zefa tidak peduli dengan wajah kesal Dirga, ia tetap menjawab sambungan telepon dari Primus.


     “Iya Mas,” ucap Zefa menjawab sapa Primus.


     “Ze, kamu dimana?”


     “Aku di rumah Mas, ada apa?”


     “Apa kamu baik-baik saja? tidak terjadi sesuatu sama kamu Ze?” tanya Primus dengan nada cemas.


     “Iya aku baik-baik saja Mas, memangnya ada apa sih,” tanya balik Zefa merasa heran.


     Primus lalu mengatakan kenapa dia sampai menghubungi Zefa saat ini, dia mengatakan rasa cemasnya karena gelas yang dipegang tiba-tiba jatuh. Mendengar cerita itu Zefa langsung menutup tubuh polosnya dan melihat dengan penuh rasa bersalah menatap Dirga.

__ADS_1


     ‘Ada apa dengan Zefa,’ batin Dirga.


__ADS_2