P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
SALAH SANGKA


__ADS_3

     Sisil dan kedua temannya mematung, tubuh mereka gementar dan perlahan wajahnya memucat. Sisil tersadar dan mencoba untuk mengingkari kenyataan tersebut, ia berpikir jika yang diucapkan Raka hanya gertakan saja.


     Wanita itu menarik nafas panjang agar pikirannya sedikit tenang, Sisil tidak peduli jika saat ini semua teman-temannya riuh mencibir dirinya. Ucapan kasar yang keluar dari mulutnya selama ini kini diucapkan oleh orang yang mengenal dirinya untuk dia.


     Senyum menyeringai diberikan sebagai respon pada semua ucapan Raka, setelah beberapa menit dia bisa menguasai diri dari kata-kata Raka, Sisil mulai kembali menunjukkan kesombongannya.


    “Kamu pikir gertakan kamu berlaku untuk saya, maaf … tidak akan bisa,” dengan sombong dia berkata. Kedua tangan disilangkan didepan dada, wajah sombongnya yang sempat hilang kembali muncul.


     “Kamu tidak mungkin memiliki itu semua, kita tidak pernah bertemu dan kamu …,” kembali dia berkata kemudian matanya menatap Raka dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatap yang sangat merendahkan.


     Raka tersenyum melihat tatapan itu, “Ada apa denganku?” tanya pria itu tanpa rasa takut.


     “Kamu siapa, kamu tidak mungkin bisa mengenalku, aku tidak pernah berkeliaran di lingkungan kalangan bawah apalagi sampai mengenal orang seperti kamu!” jawabnya dengan wajah congkak.


     Terlihat wajah tampan itu menyeringai, “Kamu yakin dengan ucapan kamu barusan?” tanya Raka balik.


     Hanya senyum tipis yang diberikan Sisil sebagai respon, dia lalu balik badan untuk pergi. Wanita sombong itu tidak mau ambil pusing dengan semua tatap serta ucapan kasar yang tertuju untuknya.


     Baru beberapa langkah Sisil berjalan tiba-tiba terdengar suara riuh dan bergemuruh membuat dia dan dua temannya menoleh ingin tahu ada apa. Banyak sekali orang yang mendekat ke arah Raka, mereka sangat rusuh karena Raka memegang ponselnya dan seperti memberikan sesuatu.


      Ada yang berdecak tidak percaya sambil melihat jijik ke arah Sisil, penasaran dengan apa yang mereka lihat Sisil meminta salah satu temannya untuk melihat apa yang ditunjukkan Raka pada mereka.


     “Jangan songong lo, nih!” Teriak Kalina saat baru saja Sisil meminta temannya untuk pergi melihat.


     Dengan wajah yang sulit diartikan, Kalina mengangkat satu tangannya yang memegang ponsel berisi gambar Sisil serta salah satu temannya sedang bersama beberapa pria.

__ADS_1


     Di foto itu terlihat jelas jika Sisil dan satu temannya itu sedang duduk dipangkuan pria yang terlihat jelas menyentuh salah satu bagian tubuh sensitifnya.


     Sontak mata Sisil dan temannya membulat sempurna. Darahnya mendidih, giginya saling beradu menahan rasa geram. Tangannya mengepal erat  namun perlahan basah dengan keringat.


     ‘Sial, dari mana dia dapatkan itu!’ benak Sisil.


     Tengkuknya mulai gemetar saat semua kata serta tatap  jijik yang mengarah padanya terasa masuk ke dalam tubuh. Kata-kata yang kasar kin terdengar dan di dengar telinganya, masuk ke dalam hati serta berhasil membuat tubuhnya kini terasa lemah.


     “Apa ada yang mau lo bilang. hah!” Sindir Kalina dengan bangganya.


     Wanita itu sangat senang melihat wajah ketakutan serta pucat Sisil, ada sedikit rasa puas yang mengipas di dirinya. Zefa meminta Kalina untuk tidak lagi menampilkan beberapa foto yang dimilikinya,  dia minta agar Kalina menghentikan perbuatannya membuat malu Sisil.


     Bukan Kalina namanya jika dia membiarkan orang yang sudah membuat temannya itu beberapa tahun ini dipandang sebelah mata oleh orang di sekelilingnya. Kalina ingin sekali membantu tetapi Zefa selalu menolak, dia tidak mau mengurusi urusan yang tidak penting.


     Rasa ingin menangis dalam diri Sisil saat ini, baru kali ini dia sangat dipermalukan. ‘Sial kamu Ze, lihat saja, tidak akan bisa sampai di sini saja,’ batinnya geram.


     “Kita pergi,” ajak Sisil pada dua temannya.


     Kedua temannya menurut, mereka kembali balik badan dan pergi. Terdengar riuh yang sangat ketika mereka jalan menjauh, tidak tahu bagaimana perasaan Sisil saat ini namun yang pasti dendamnya semakin bertambah pada Zefa.


      Beberapa dari mereka menyemangati Zefa dan ada juga yang meminta maaf karena sudah berpikiran buruk pada Zefa. Senyum senang dan puas terlihat diwajah cantik Kalina dan Raka hanya memberikan senyum tipisnya.


     Setelah kejadian itu dan acara juga sudah berakhir alumni dari sekolah Zefa yang memang sedang mengadakan arisan bubar barisan. Kini tinggal Zefa dan satu temannya juga Raka yang masih menunggu Dirga.


     Dirga yang saat ini baru sampai parkiran tempat yang sudah dijadikan sebagai tempat janjiannya dengan Raka merasa heran sebab dia melihat lumayan banyak orang keluar dengan riuh.

__ADS_1


     “Gak duduk dulu?” tanya Raka pada Zefa karena wanita itu ingin segera pulang.


     “Tidak, aku sudah malas ada disini,” jawabnya malas.


     Raka tersenyum, “Duduk dulu lah, mungkin setelah bertemu dengan temanku mood kamu akan sedikit membaik,” balas Raka membuat kening Zefa sedikit mengkerut.


     “Teman, siapa?”


     Raka meminta kembali agar Zefa duduk dulu karena dia masih menunggu temannya tersebut. Kalina mendukung Raka. dia meminta agar Zefa duduk dan sedikit menenangkan diri lebih dulu juga Kalina beralasan jika dirinya perlu sedikit minum.


     Dengan sangat terpaksa Zefa mengikuti kemauan temannya tersebut. Mereka kini duduk bersama, Kalina dan Raka mencoba untuk membuat Zefa merasa betah.


     Mereka bicara ringan bahkan sesekali Kalina berkelakar namun Zefa masih memberikan sedikit saja responnya pada candaan Kalina. Raka juga sesekali melempar candaannya.


     “Jujur gua males banget klo liat lo kayak gini Ze,” keluh Kalina akhirnya yang merasa sudah lelah berusaha.


     “Iya, kita tunggu apa dia akan bisa buat perasaan kamu lebih baik,” ucap Raka yang membuat Zefa penasaran.


     Sampai detik ini Zefa masih belum ingat dimana dia pernah bertemu dengan Raka, mungkin karena baru sekali Zefa bertemu dengan Raka dan hanya sebentar jadi Zefa masih belum mengingatnya.


     Ditambah saat ini ada kejadian yang membuatnya tidak bisa berpikir sehat. Zefa berpikir kalau pantas saja dirinya malas pergi ke arisan kali ini walau sebelumnya memang selalu malas tetapi hari ini malasnya lebih besar.


     Wanita itu berpikir jika lain kali dia akan lebih percaya dengan fillingnya. Dirga yang masih heran melihat pengunjung yang ramai membicarakan sesuatu tetap masuk dengan rasa bingung dan heran.


     Matanya mencari keberadaan sosok yang akan bertemu dengannya sambil terus melangkah. Maniknya berhenti berputar saat melihat Raka yang sedang bersama dua wanita.

__ADS_1


     “Gila dia, masa iya udah dua aja, parah ni si Raka,” gerutunya yang berpikir jika Raka sudah booking wanita.


__ADS_2