P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
MAU JUGA/ PASTI


__ADS_3

     Raka tidak berkedip mendengar Kalina, wanita itu duduk dengan tenang sambil meraih minuman yang ada di atas meja tetapi tangannya tidak sampai. Raka yang melihat itu langsung bantu meraihnya tetapi belum tangan indah Kalina sampai Raka menahannya.


     Ternyata Raka membuka tutupnya lebih dulu dan setelah terbuka barulah kembali diberikan pada Kalina. Sebelum benda itu berada dalam genggaman Kalina dan masih dipegang oleh keduanya Raka bertanya dengan pancingan yang luar biasa.


     “Emm, apa dari kamu tidak ada yang perlu aku buka?”


     Kalina hanya tertawa manis mendengar kata goda itu, dia minum beberapa tegukan. Hela lega terdengar dari bibir Kalina yang kini tampak sedikit basah. Wajah pria itu kembali dibuat mendekat, tangannya membuat Kalina berada dalam kurungan tangannya.


     Wanita yang tidak berdaya diatas kursi itu hanya tersenyum tipis,  saling tatap dalam mereka lakukan sampai keduanya merasa tepat untuk mereka saling bersentuhan. Raka tanpa ragu ******* gemas  benda kenyal yang memanggilnya sejak benda itu basah.


     Tanpa bergerak Kalina membalas ******* tersebut, dia menikmati tautan tersebut. Kalina memang menjanda sudah sangat lama namun untuk menerima sentuhan dari lawan jenis tidak selama waktu dirinya menjanda.


     “Emm,” gumam Kalina yang kini mencengkram erat kerah baju Raka yang mau tidak mau membuat pria itu semakin membuat sentuhan kian menekan.


      Sentuhan di bibir itu membuat perlahan rasa yang berbeda muncul di tubuh keduanya, Kalina merasa desir yang membuat gairahnya muncul. Raka merasa kalau hasratnya yang memang tidak pernah mempunyai tempat kini seenaknya keluar.


     Tidak bisa menahan rasa Raka menggendong tubuh Kalina tanpa melepaskan tautan mereka. Dengan santai pria itu meletakkan tubuh Kalina di atas meja lalu melanjutkan yang sudah dilakukan dengan rasa yang semakin kuat.


     Sebelum masuk ke ruangannya Raka sudah memberi tahu pada anak buahnya untuk tidak mengganggu dirinya sebelum dia keluar sendiri dari ruangan itu. Tentu saja mereka mengikuti titah dari majikannya tersebut.


     “Emm, hentikan Ka,” tahan Kalina saat tangan nakal Raka sudah mulai bekerja.


     “Kenapa. jangan bilang kalau kamu tidak mau melanjutkannya,” jawab Raka dengan wajah yang terlihat tidak mau mendengar kata tidak dari Kalina atau dirinya akan sangat kecewa.

__ADS_1


     Kalina tersenyum tipis lalu memberikan kecupan singkat di pipi Raka, “Tidak sayang, aku hanya ingin bertanya saja, apa kamu yakin kalau kita akan melakukannya disini?”


     “Kalau aku tidak ada masalah sih, yah kalau kamu ada masalah kita bisa cari tempat yang lebih besar,” balasnya, “di dalam sana masih ada bed jadi kamu tenang saja, pokoknya ruangan aku ini sudah didesain khusus,’ timpalnya yang kembali membuat  Kalina tertawa.


     “Iya dasar otak nakal.” Kalina berteriak, “Ah.” Ketika Raka sedikit mendorong tubuhnya kemudian kembali menyatukan bibir mereka.


     Tautan yang mereka lakukan kini dibuat semakin bergairah. Kalina yang cukup lama tidak mengeluarkan hasratnya kini ia ingin keluarkan bersama Raka, pria yang sepertinya sangat siap untuk memberikan janda itu kepuasan batin.


      Beberapa jam sebelum Raka dan Kalina mulai membuat tubuh mereka sedikit panas, Dirga dan Zefa sudah berada di satu kamar yang cukup besar. Kamar itu berada di rumah yang terlihat sangat sepi karena lokasinya memang sedikit jauh dari jalan juga rumah tetangga yang lain.


     Rumah tersebut salah satu rumah Dirga yang memang sengaja dibelinya untuk dirinya sendiri dan digunakan ketika ia merasa sedang malas diganggu. Ada satu orang sengaja di tunjuk Dirga untuk merawat rumah tersebut.


     “Rumahnya enak Mas,” kata Zefa sambil terus berjalan melihat-lihat isi dari rumah tersebut.


     “Iya dan kalau kamu memang mau menggunakan rumah ini hanya untuk kamu yang malas diganggu atau ada pekerjaan penting juga apapun itu, tetap saja rumah ini sangat besar untuk itu, kenapa tidak membeli rumah yang kecil saja, apartemen misalnya!”


     Dirga tertawa, dia mengatakan kalau dia membelinya karena saat itu memang temannya sedang sangat membutuhkan uang jadi rumah itu jual butuh. Dirga membelinya juga karena harga yang diberikan sangat miring, menurut Dirga tidak seimbanng dengan banguan juga luas tanahnya.


      Zefa memuji Dirga bahwa pria itu sedang beruntung saat kejadian tersebut. Mereka kembali melanjutkan berkeliling rumah, di belakang ada kolam renang yang tidak terlalu besar namun tampak indah. Zefa bahkan mengatakan kalau dirinya ingin nyebur kesana.


     Puas melihat bagian bawah mereka keatas, diatas Dirga mengatakan kalau hanya ada dua lantai. Dua kamar di bawah, di setiap kamar dirancang khusus ketika sudah dipegang Dirga, dia sedikit merubah beberapa bagian rumah agar dia kerasan berada disana.


     Hari yang semakin sore membuat Zefa sudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, dia izin pada Dirga untuk membersihkan diri walau tidak ada pakaian ganti. Bersyukur ternyata ada beberapa baju Milea di kamar itu.

__ADS_1


     “Ze, kita berenang saja yuk,” ajak Dirga.


     “Nggak ah, dingin Mas,” tolak Zefa sedikit manja.


     “Ada air hangatnya nanti, tinggal di stel, gampang,” sahut Dirga lalu memperlihatkan raut wajah penuh harapan.


     Zefa tertawa melihat wajah itu bahkan dia tertawa geli, melihat tawa Zefa yang geli membuat Dirga juga tertawa. “Ya ampun Mas, mukanya jangan seperti itu sih,” ungkap Zefa yang seperti tidak bisa menghentikan tawanya.


     Merasa jadi badut di mata Zefa saat ini, Dirga menarik pergelangan tangan Zefa untuk   membawanya ke kolam renang. Zefa sampai terseok mengikuti langkah cepat Dirga. Sampai di sisi kola pria itu langsung melepaskan kain yang menempel di tubuhnya kecuali boxer pendek untuk menutupi si junior.


     Zefa sedikit berpaling, dia merasa tidak nyaman melihat Dirga melakukan itu di depan matanya. Pria tersebut tersenyum seraya berkata, “Jangan sungkan, aku rela kok semua buat kamu.”


     Wanita itu tersenyum malu, pipinya memerah dan dengan jahilnya Dirga menarik lengan Zefa. Teriakan terdengar, Zefa berteriak kalau dia tidak ingin langsung masuk air namun Dirga terus memaksanya. Dirga terus memaksa sampai wanita itu merasa lelah karena Dirga berhasil membuat tubuhnya lelah.


     “Ya ampun kamu itu Mas,” keluh Zefa ketika mereka sudah masuk air dan bersandar santai di sisi kolam, “kamu sengaja yah, aku kan sudah bilang kalau aku tidak ada baju.”


     “Kamu itu bagaimana, tadi ada bajunya Milea, sudah jangan diperpanjang,” gerutu Dirga yang mulai sedikit kesal.


     “Iya, tapi untuk dalemannya bagaimana, masa aku gak pakai daleman sih Mas!”


     Mendengar itu Dirga langsung membuat mereka saling berhadapan, pakaian Zefa yang sudah basah membuat bentuk tubuhnya sangat jelas terlihat. Gundukan yang tadi sudah menggoda kini semakin menggoda bahkan membuat Dirga tidak kuat menahan rasa.


     Tanpa aba-aba Dirga membuat bibir mereka saling menempel, membuat Zefa terkejut dan matanya membesar namun perlahan tautan itu mereka nikmati. “Mmhh,” gumam Zefa seraya mendorong Dirga pelan.

__ADS_1


__ADS_2