
Dirga tidak mau menghiraukan ucapan Zefa, pria itu kembali melancarkan serangannya membuat mereka kembali saling bersentuhan. Pria yang sudah sangat merindukan Zefa kini mengeluarkan rasa rindunya pada wanita itu.
Zefa dibuat tidak bisa bergerak, tubuhnya di kukung dan tangannya benar-benar seperti dipasung. Bukan hanya mengeluarkan rasa rindunya tetapi Dirga sudah berhasrat karena sentuhan yang sedang mereka lakukan.
Sentuhan itu dibuat memanas membuat kini gairah dalam tubuh Dirga melesat cepat bagai rudal yang baru saja diluncurkan. Zefa merasa tubuhnya mulai sedikit dingin karena mereka sedang berendam di air tetapi sepertinya Dirga tidak merasakan hal yang sama.
Perlahan tangannya mulai melepas satu persatu baju bagian luar Zefa, wanita itu hanya bisa sedikit meronta yang sebenarnya mau tapi juga tidak. tetapi apalah daya wanita apalagi jika dia sudah suka sudah tentu lama kelamaan Zefa akan pasrah.
“Mas … disini? kalau nanti ada yang lewat bagaimana!” tanya Zefa yang ragu untuk melakukannya di tempat itu padahal dalam benak dia masih sedikit takut mendapati Dirga yang kini dirasa sedikit agresif.
“Tidak ada orang disini selain kita Ze, kamu mau bermalam disini atau pulang?” tanya balik Dirga yang membuat Zefa diam.
“Pulang Mas, aku malah belum kasih kabar sama Mas Primus,” balasnya.
Dirga kian mendekat, mendekatkan wajahnya ke telinga Zefa dan berhasil membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Desir merambat dari tubuh bagian belakang Zefa ke tangan langsung ke kepala, baju yang tadi sudah terbuka setengah oleh Dirga kini benda yang menghalanginya itu dilempar sembarang.
Bukan hanya bagian atas yang kini tinggal penutup dua buah semangkanya, Dirga membuat kain penutup bagian bawah tubuhnya pun terbuka serta hanya disisakan kain segitiga menutup daerah intimnya.
Seperti sedang menikmati rasa buah yang manis, Dirga lahap menikmati dua buah semangka Zefa yang kenyal juga bisa memberi rasa puas pada dirinya. Pijatan-pijatan yang Dirga lakukan di benda kenyal tersebut membuat hasrat Zefa perlahan naik.
“Ah Mas, pelan-pe ….”
Dirga sedikit terkejut karena tanpa sengaja dia sudah membuat Zefa merasa sakit, “Iya maaf sayang,” sahutnya dengan raut merasa bersalah.
“Dan juga jangan disitu Mas, jangan ada bekas juga please … aku takut nanti Mas Primus lihat terus jadi bahan pertanyaan,” tuturnya.
__ADS_1
Dirga menghela nafas, dia baru ingat kalau Zefa bukanlah miliknya. Wanita itu bukan hak paten untuk dimiliki seutuhnya, mungkin jika Zefa tidak mengatakannya Dirga tidak akan sadar akan hal tersebut.
Niatnya untuk memberikan tanda di beberapa bagian tubuhnya kini harus ditangguhkan karena masih ada pihak yang lebih berhak nanti untuk melakukan membuat tanda di setiap detail tubuh indah itu.
Setelah sedikit terjeda kini mereka melanjutkannya kembali, Zefa yang saat ini sudah tidak merasakan dingin lagi karena tubuhnya sudah dibuat sedikit memanas sebab sentuhan juga gesekan Dirga.
Sementara itu Raka yang masih berada di ruangannya dan tidak mau diganggu sudah membuat tubuh dari janda sintal memanas. Seluruh kancing dari kemejanya yang memang sangat ketat digunakan juga terlihat sangat sesak dipakai kini sudah membuat dua gunung besarnya bisa bernafas lega.
“Buka saja semua, ribet,” pinta Raka yang merasa jika kemeja pendek yang masih berada di tubuh Kalina mengganggunya.
“Nggak ah, sudah begini saja nanti aku suka malas pakai lagi,” sahutnya manja.
Wajah malas Raka terlihat, “Ya sudah yang penting bagian depan tidak terhalangi,” guraunya, “enak banget ini,” timpalnya sambil meremas gemas dua gunung besar Kalina.
“Tapi rasanya berbeda, bentuk dan besarnya juga!” Sahut lucu Raka.
“Rasanya sama hanya bentuk dan besarnya saja yang berbeda,” balas Kalina sedikit merasa kesal.
“Ah au ah,” sahut Raka yang juga kesal karena perdebatan kecil di tengah apa yang mereka kerjakan.
Raka tidak ingin perdebatan itu memanjang, pria itu lagi membuat tubuh Kalina berada dalam kurungannya. Tubuh Kalina kini tidak lagi berada di atas meja, tubuh itu terlihat sangat ringan di gendong Raka. Dua tangan Kalina dengan santai melingkar di leher pria tersebut.
Gunung besar yang kini terlihat jelas begitu menantang Raka, perlahan tubuh sintal Kalina direbahkan di atas sofa panjang yang ada dalam ruangan itu. Mata menatap tubuh yang terlentang pasrah, perlahan ada bagian tubuhnya yang juga perlahan mulai membesar.
Raka bergerak sedikit, “Kenapa?” tanya Kalina yang sebenarnya sudah tahu karena melihat gerakan Raka.
__ADS_1
Sambil terus bergerak dia membalas, “Sempit!”
Kalina tertawa. Kembali tautan mereka lakukan namun hanya sebentar sebab Raka tidak nyaman dengan celananya yang semakin terasa sempit. Pria itu menghentikan gerakan sejenak lalu membuka kancing celananya dan menurunkan sedikit resleting.
Kalina yang melihat itu diam membiarkan, wanita yang sangat berpengalaman tersebut sangat hafal maksud dari apa yang dilakukan Raka saat ini. Dia juga sudah bisa menebak apa yang dimau pria yang sangat menyukai tubuh wanita tersebut.
Wanita itu bukan hanya kali ini berhadapan dengan pria semacam Raka, Kalina janda yang belum dikaruniai anak dan Kalina juga memiliki jiwa yang bebas. Wanita itu janda ditinggal mati jadi dia bebas sebebasnya.
Beberapa orang berpikir jika mungkin karena hal tersebut Kalina merasa bebas seperti masih belum menikah dulu. Selama menjanda Kalina tidak kekurangan kebutuhan lahir dan batinnya, wanita itu sebisa mungkin memenuhi dua kebutuhannya tersebut secara seimbang agar tubuh serta pikirannya sehat.
“Makasih sayang, peka banget sih,” ucap Raka saat tangan wanita itu menyentuh ularnya yang sudah berdiri siap mematuk.
“Sama-sama, aku bukan wanita awam juga,” sahutnya dengan senyum menggoda dan mendapat satu ******* lembut.
Raka tertawa tipis kemudian melihat Kalina dengan tatap menggoda, “Oh iya aku lupa, kamu kan sangat berpengalaman, “ lalu tersenyum memikat, “bisa dong buat aku puas?”
Kalina tersenyum lalu melingkari kembali kedua tangannya di leher pria tersebut, satu kecupan mendarat di bibir Raka yang kemudian mereka melanjutkan kenakalan malam itu. Kalina dibuat mendesah sama halnya wanita itu juga membuat Raka mengeluarkan rasa nikmatnya.
Baru Kalina bergerak tetapi Raka sudah dibuat tidak berdaya, Kalina memang sangat tahu bagaimana cara membuat pria tidak berdaya di bawah kakinya. Pria itu dibuat sedikit lemas, sampai merasa tidak bisa lagi bertumpu pada kaki serta dua tangannya.
Kalina menawarkan agar pria itu berganti posisi dan dengan sangat senang hati Raka mau. “Jadi aku nih yang akan buat kamu puas, bukannya seharusnya kamu yah!”
“Gak masalah kan, nanti kita gantian, bagaimana?”
“Okey,” jawab Kalina dengan tatapan menggoda.
__ADS_1