
Dalam benaknya Milea berfikir, ‘Tumben Mas Dirga panggil aku sayang.’
Dimata Dirga saat ini yang masih terlihat samar dia berpikir jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Zefa. Wanita itu memenuhi isi kepala Dirga sampai pria itu harus benar-benar butuh waktu untuk membuat dirinya benar-benar sadar.
Milea masih terdiam, beberapa kali Dirga memejamkan matanya sampai akhirnya dia bisa melihat dengan sangat jelas. Matanya sedikit dibesarkan lagi ketika dia melihat senyuman manis yang berbeda dari manisnya Zefa.
Dirga bangun terduduk lalu berkata, “Mil,” seru Dirga lalu clingak clinguk seperti orang baru sadar dari pingsannya lalu tidak tahu dia berada.
Maliea tertawa melihat Dirga seraya berkata, “Kamu lupa saat ini ada dimana yah Mas?”
“Iya, tadi … tapi sekarang aku sudah ingat, ini di rumah Primus kan?”
Senyum dilemparkan Milea lalu menjawab, “Iya Mas, yo bangun sekarang, Kak Primus sama Zefa sudah menunggu di bawah tuh.”
“Emm, ya sudah kamu ke bawah duluan nanti aku susul karena aku mau cuci muka dulu,” balasnya yang lalu beranjak dari tempat tidur dan langsung jalan menuju kamar mandi sementara itu Milea keluar dari kamar kembali bergabung dengan pasangan romantis di bawah.
Mereka duduk berbincang ringan sambil menunggu kedatangan Dirga, kurang dari lima belas menit Dirga ikut bergabung dan mereka langsung makan malam bersama. Suasana hangat terasa ketika makan malam tersebut namun di sela itu semua ada beberapa kejadian yang menggelitik hati Zefa juga Dirga.
Keduanya sesekali saling curi pandang tanpa sepengetahuan pasangan mereka masing-masing. Zefa dibuat berdebar dengan sikap Dirga yang terang-terangan seperti itu namun sisi lain dari Zefa sangat menikmati kejadian kecil di sela makan malam tersebut.
Makan malam berakhir, mereka berbincang sejenak setelah makan malam yang cukup hangat tadi. Beberapa kejadian hari itu membuka peluang rasa baru tumbuh Dirga juga Zefa, kejadian hari itu menjadi awal untuk apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Milea pamit, Primus dan Zefa mengantar mereka sampai depan pintu. Sapa hangat mereka lakukan untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar keluar dari rumah itu. “Ya sudah kami pamit dulu Mas,” tutur Milea.
“Iya Mil, kalian hati-hati dan terima kasih atas semuanya,” jawab Primus.
__ADS_1
“Iya Mas, makasih juga untuk hari ini dan kapan-kapan kita makan bareng lagi yah, seru,” balas Milea sambil tersenyum manis.
Zefa dan Primus mengangguk serempak, keduany ain mengatakan jika mereka bisa kapan saja dan mereka akan usahakan nanti. Baru Milea putar badan, dirinya sudah balik badan lagi seraya berkata pada Primus, “Emm Mas, besok kita jadi kan mau ketemu?”
“Oh iya, nanti aku kabarin lagi aku bisanya jam berapa yah Mil,” jawab Primus.
“Gitu. Ok Mas, aku tunggu kabarnya nanti yah.”
Di sela Milea dan Primus berbincang, Dirga yang berdiri di belakang Milea melirik juga tersenyum nakal pada Zefa. Lirik serta senyum nakal Dirga membuat jantung Zefa berdebar sedikit cepat, wajah nya seketika bersemu merah.
Malam ini Zefa dibuat sangat emosional dengan sikap Dirga, pria yang memang diakuinya sudah membuat dia sangat tertarik sejak mata itu melihat. Zefa juga mengakui kalau dia terus teringat dan sangat ingin tahu semua hal mengenai pria tersebut.
Zefa masuk dan duduk termenung di sisi jendela sementara itu Primus masih berada di bawah untuk mengunci dan mematikan semua lampu rumah. Pria itu langsung menaiki anak tangga setelah memastikan semua kunci dan jendela tertutup rapat.
“Hei, kamu melamun!” Tegur Primus membuat Zefa sedikit terkejut kemudian pria itu duduk di hadapannya.
Sontak Zefa menoleh. Wanita itu sedikit terkejut tetapi tetap memberikan senyum manisnya lalu menjawab, “Emm, tidak melamun hanya bengong aja nunggu kamu lama.”
Primus merasa ada hawa sejuk menyapa tubuhnya, dia menoleh dan ternyata jendela masih terbuka setengah, “Kamu sengaja masih buka ini?”
“Iya Mas, udaranya sejuk banget, kayaknya mau hujan deh,” balasnya.
Primus tersenyum lalu beranjak dari duduknya kemudian mendekati dan duduk disamping Zefa. Tanganya bergerak merangkul Zefa dan meletakkan wajah tampannya di bahu wanita itu seraya berbisik, “Suasana mendukung nih sayang.”
Di tempat lain Dirga dan Milea tidak langsung kembali ke rumah, Milea meminta pada Dirga untuk melipir sejenak ke supermarket terdekat. Selama perjalanan Dirga terlihat kurang bersemangat namun Milea tidak berpikir macam-macam.
__ADS_1
Wanita itu hanya berpikir mungkin suaminya masih lelah atau masih ingin tidur karena tadi istirahatnya terganggu dan sepertinya saat di bangunkan tadi Dirga sedang nyenyak-nyenyaknya tertidur.
Milea bertanya apa dia mau kalaupun tidak dirinya tidak masalah namun Dirga tidak akan bisa menolak keinginan Milea apalagi dirinya sedang tidak melakukan pekerjaan apapun. Pria itu berkata jika dirinya baik dan akan mengantar Milea ke tempat yang dituju.
Sampai di supermarket Dirga memilih untuk tetap di dalam mobil dengan alasan dirinya mengantuk, “Ya sudah, aku juga gak lama kok Mas,” kata Milea sebelum dia meninggalkan Dirga.
Setelah Milea masuk, Dirga langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celana, Beberapa saat dia berpikir, pria itu mempunyai keinginan untuk menghubungi Zefa hanya untuk sekedar mengucapkan selamat malam.
Niatnya itu tidak langsung dilakukan, Dirga memikirkannya kembali dan kali ini dia bisa berpikir dengan jernih. Pria itu berpikir jika dia menghubungi atau mengirim pesan singkat saat ini bisa saja ada Primus di sampingnya.
“Yah, bisa jadi seperti itu. Mereka pasti saat ini sedang bersama atau mungkin sudah ada di atas kasur,” katanya pada diri sendiri, “agak malam saja deh nanti,” timpalnya.
Dirga mencoba untuk menghilangkan rasa itu, rasa yang ingin berbincang manja dengan Zefa tetapi sepertinya itu sedikit sulit dilakukannya malam ini. Dirga berteriak kesal karena ternyata keinginan itu sangat kuat malam ini walau dia sudah mencoba untuk menghilangkan rasa tersebut.
Beruntung Milea tidak lama jadi Dirga bisa sedikit tertolong dengan kehadirannya. Kali ini diperjalanan menuju rumah Dirga sedikit banyak bicara dan itu membuat Milea sedikit heran dengan perubahan sikap Dirga yang.
“Mas, kamu baik-baik saja kan?” penasaran akhirnya Milea bertanya.
Dirga tersenyum tipis lalu menoleh seraya menjawab, “Iya, aku baik kok.”
“Emm, bagus lah,” balasnya, “kamu apa masih mau makan lagi nanti kalau sampai di rumah?” timpalnya.
“Tidak, aku masih kenyang Mil, langsung tidur saja,” jawabnya.
Bisikan Primus membuat bulu kuduk Zefa berdiri, di tambah pelukannya yang semakin di pererat. “Bagaimana, apa kita bisa melakukannya malam ini?”
__ADS_1