P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
ADA SAJA


__ADS_3

     Dirga tidak melarang, pria itu bahkan senang namun dia tetap mengatakan pada Milea agar selalu memberi kabar padanya. Hal tersebut dilakukan agar dia juga bisa mengetahui kapan mereka akan kembali jadi dia juga bisa tahu kapan waktunya nanti dia dan Zefa pulang.


     Setelah menghubungi Dirga raut wajah Primus berubah, dia sedikit tersenyum lalu mengacak-acak rambut Milea layaknya seorang kakak pada adiknya. “Kamu yah!” tuturnya sambil gelengkan kepala.


     Milea kembali ke mobilnya untuk mengambil tas juga beberapa barang pribadinya karena mereka akan berangkat dengan menggunakan mobil milik Primus sedangkan kendaraannya tetap di parkir disana. Detik itu juga mereka pergi menuju puncak Bogor dengan suasana yang ceria.


     “Hmm …  bosan juga ternyata,” keluh Zefa yang duduk sejak beberapa menit yang lalu menunggu Dirga.


     Baru ucapananya selesai dia melihat Dirga menerima telepon entah dari siapa namun terlihat pria itu menjauh. Zefa memperhatikan juga menerka, apa mungkin yang menghubunginya adalah Milea sebab raut wajah berbeda juga cara bicaranya.


      Dirga melihat ke arah Zefa ketika dia selesai bicara dengan Milea sambil masukkan ponsel ke saku celana. Dia memberikan senyum manisnya pada Zefa juga dengan wajah sumringah dan yang membuat Zefa sedikit terkejut juga tidak habis pikir adalah Dirga mengedipkan satu matanya.


     “Ya ampun, apa sih Mas Dirga itu kalau ketahuan orang kan malu,” ucapnya yang langsung mengalihkan pandangan dengan menutup sebagian wajahnya dengan satu telapak tangan.


     Melihat Zefa malu-malu seperti itu Dirga merasa gemas, dia ingin sekali menghampiri wanita tersebut namun ia masih tidak bisa melakukan itu karena masih ada yang harus di urusnya. Dirga kembali bergabung dengan Raka juga koleganya, setelah hampir setengah jam sejak dia menerima telepon dari Milea, urusan Dirga selesai.


     “Lo mau kemana Ga?” tanya Raka ketika ria itu sudah bali badan seperti hendak meninggalkannya.


     “Oh iya gua lupa Ka, urusan sudah kelar dan hari ini gua izin dulu yah, lo urus aja semua pekerjaan hari ini dan seperti biasa lah,” balas Dirga.


     “Ya ampun Ga, nanti kalau Bos gede datang gua harus bilang apa!”


     “Emm, yaudah nanti gua telepon Big Bos deh,” sahutnya yang langsung meninggalkan Raka dengan perasaan kesalnya.


     ‘Nih bocah kayaknya udah tergila-gila sama cewek itu,’ batin Raka sambil sedikit gelengkan kepala.

__ADS_1


     Dirga dengan senyum sumringah mendekati Zefa yang sedang asyik dengan ponselnya. Dia membuat Zefa terkejut dengan menepuk pelan bahu wanita itu kemudian menggeser kursi sampai berjarak satu jengkal.


     “Kita pergi sekarang yuk,” ajak Dirga to the point karena dia tidak ingin buang waktu.


     “Kemana? Aku harus pulang Mas.”


     “Sudah ikut saja, sekarang … jangan buang waktu,” balasnya kemudian menarik lengan Zefa.


     “Tunggu, aku belum bayar minuman ini,” cegahnya.


     Dirga tetap menggenggam pergelangan tangan Zefa dan membawanya ke kasir setelah itu mereka pergi. Raka bertemu mereka di parkiran, teman Dirga itu hanya bisa menghela nafas. Dia berpikir kalau mau dia juga ingin sekali dekat dengan Zefa.


     Mama Rita dan Lala baru saja keluar dari bandara lepas mengantar saudara mereka yang pergi umroh. Perjalanan yang awalnya terlihat santai dan tenang tiba-tiba sedikit menegang karena satu pemandangan yang baru saja mereka lihat.


     Lala berpikir jika hanya dirinya saja yang melihat pemandangan tersebut namun ternyata Mamanya juga melihat setelah dirinya membuka mata indah itu lebar-lebar namun keduanya masih belum bicara. Lala mempercepat laju kendaraannya karena dia ingin memastikan apa benar penglihatannya tadi.


     “Iya Mah, maaf,” sahutnya, “aku mau memastikan apa yang di dalam itu Mbak Zefa atau bukan,” ujarnya membuat Rita terkejut.


     “Kamu lihat juga!” Seru Rita membuat kedua mata Lala membesar, “ya sudah, coba kejar karena Mama juga penasaran” timpalnya.


     Lala merasa kesal karena ternyata kendaraan yang diyakini dalamnya ada Zefa melaju dengan lihat dan kencang sehingga Lala sedikit kesulitan untuk menyusulnya sementara itu Dirga yang memang tidak mengetahui jika dirinya sedang di ikuti terus melaju kencang.


     Dirga melaju cukup cepat karena dirinya memang ingin segera sampai ke tempat tujuan tanpa tahu mereka diikuti. Setelah beberapa saat mencoba tetap Lala tidak bisa menyusul keberadaan Dirga bahkan dirinya kehilangan jejak.


     Lala kesal, dia lalu diskusi dengan mamanya. Bicara bagaimana caranya agar mereka

__ADS_1


     bisa mematikan apa benar yang ada dalam mobil itu adalah Zefa atau orang lain.


     “Mah, coba deh Mamah telepon Mbak Zefa, tanya ada dimana dia sekarang,” saran Lala yang dijawab cepat Rita sambil menganggukan kepalanya.


     “Iya kamu benar La, “ jawabnya sambil meraih ponselnya dia mengangguk kemudian langsung menghubungi nomor Zefa.


     Ponselnya berdering, Zefa langsung mengeluarkan benda pipihnya dari dalam tas lalu melihat notif yang ternyata adalah Rita yang menghubungi. Wanita itu tidak langsung menjawab sehingga menjadi bahan pertanyaan Dirga yang melihatnya.


     “Siapa?” “Mamah,” sahut Zefa. “lalu, kenapa tidak dijawab?” tanya Dirga lagi, “aku takut Mas,” tuturnya, “aku takut jika beliau tanya macam-macam bahkan berkata kasar, pasti ditanya-tanya,” timpanya.


     Zefa mengatakan jika dirinya takut karena ibu mertuanya itu suka ahu dimana saja dia berada dan ngapain aja bahkan Zefa mengatakan jika mamah mertuanya itu seperti cenayang baginya. Kali pertama dia memang merasa takut pakai sekali namun seiring berjalannya waktu dia mulai terbiasa namun tetap harus terus waspada.


     Dirga tertawa mendengar cerita kemudian dia mencari cara agar mama mertuanya tidak tahu keberadaan Zefa. Soal mencari alasan Dirga sudah bisa dibilang sangat lihat, kemudian dia memberi saran yang sangat disetujui Zefa.


     Pria itu pasang musik cukup keras dan ketika Rita menghubunginya kembali Zefa di minta menjawab. Wanita itu, mengangguk lalu menjawab dan benar saja apa yang dipikirkan Zefa. Baru saja dia menjawab, wanita itu sudah bertanya yang membuat Zefa terkejut.


     “Kamu dimana Ze, sedang bersama lelaki yah, mau kemana kamu?” tanya Rita langsung tanpa basa basi.


     Sejenak Zefa terkejut keapa pertanyaan mertuanya itu sama persis dengan apa yang sedang dialaminya saat ini. ‘Apa Mamah sedang melihat aku saat ini?’ benaknya lalu clingak-clinguk mencari.


     “Ada apa Ze?”


     Pertanyaan Dirga tidak di jawab karena wanita itu sibuk mencari namun dia tidak melihat sosok seperti mertuanya dimanapun. “Tidak Mah, aku sedang di kamar temanku, kami sedang dengar musik sambil karaoke,” jawabnya.


     “Jangan bohong kamu, Mama sama Lala lihat kamu dan tidak mungkin kami salah,” balasnya..

__ADS_1


     Mendengar jawaban Rita membuat Zefa menelan salivanya dan kembali membuat dia berpikir jika benar mungkin mama mertuanya sudah melihat dia dan Dirga karena tidak mungkin beliau memberikan pertanyaan yang pas banget, pikir Zefa.


__ADS_2