P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
PESAN LAGI


__ADS_3

     Dirga melihat Milea dengan tatap tegang, ‘Kok!’ dia berpikir apa mungkin Milea tau kalau   dirinya memang habis mengeluarkan banyak energi dan energi itu mengeluarkan hasrat.


     “ini Mas silahkan,” ucap Milea menawarkan makanan namun dia melihat Dirga berwajah tegang.


     “Kamu kenapa Mas, kok kamu tegang seperti itu?” tanya Milea heran.


     “Eh,” seru Dirga pelan namun masih bisa terdengar Milea, “tidak,” ucapnya gugup, “aku tidak apa-apa kok Mil, hanya saja tadi aku sempat kepikiran kata-kata kamu tadi,” timpanya.


     “Yang mana Mas?”


     “Itu, kamu bilang kalau aku habis mengeluarkan banyak energi.”


     Milea tertawa tipis mendengar Dirga lalu dia mengatakan kalau dia berkata memang benar adanya hanya saja apa yang ada di kepala Milea dan Dirga berbeda penangkapan. Milea berpikir lurus, dia berkata seperti itu karena memang seharian penuh Dirga bekerja sangat keras sehingga menghilangkan banyak energi.


     Sedangkan yang ada di kepala Dirga berpikir jika Milea tahu kalau dirinya sudah menghabiskan energi untuk mengeluarkan hasratnya. Hela lega dilakukan pria itu karena ternyata apa yang ada di kepalanya hanya rasa takut saja.


      Dirga mulai bergerak untuk makan dan Milea menyusul. Percakapan ringan mereka lakukan, Dirga bertanya apa hari ini Milea akan keluar rumah dan wanita itu menggeleng. Milea berkata jika dirinya saat ini sedang malas keluar, ia hanya ingin berada dirumah dan rebahan.


     “Ya sudah, ku pergi dulu yah.”


     “Iya Mas, hati-hati yah.”


     Kali ini Milea tidak pergi menemani Dirga kedepan, wanita itu izin untuk tidak mengantar karena dirinya mau merapikan dapur. Dirga memberikan kecupan singkat di kening Milea seperti biasa.


     Pria itu meluncur menuju tempat kerjanya sementara di rumah lain beberapa jam sebelumnya Zefa juga Primus melakukan rutinitas seperti biasa. Seperti pasangan muda lainnya, Zefa juga masak sarapan dan makan bareng di meja makan.


     Selesai ritual pagi Primus pergi untuk bekerja, dia tidak bertanya mengenai kejadian semalam. Primus masih enggan untuk bertanya pada istrinya mengenai kejadian semalam. Primus hanya memberitahu jika semalam Fadil adiknya coba menghubungi Zefa.

__ADS_1


     Setelah Primus pergi Zefa langsung mencari ponselnya. Dia menghubungi Fadil untuk menanyakan ada apa adiknya itu coba menghubungi dirinya. “Kamu telepon Kakak semalam Dil?”


     “Iya Kak, apa Kakak tidak apa-apa, kamu baik saja kan?”


     “Iya Kakak baik-baik saja kok, memangnya ada apa, tumben kamu tanya itu sama Kakak, biasanya juga jarang tanya kabar Kakak,” jawab dan sindir Zefa untuk adiknya.


     “Iya memang Kak, hanya saja aku mimpiin Kakak  tapi mimpinya itu bikin aku gak enak hati Kak dan karena itu aku coba hubungi Kakak!” ujarnya.


     Zefa tersenyum senang karena adiknya itu sangat mengkhawatirkan dirinya tetapi sayang senyum tersebut tidak bisa di lihat Fadil. Dari senyum tu terpancar jika Zefa terlihat jelas sangat menyayangi adik satu-satunya itu.


     Sudah merasa lega karena bisa menghubungi kakaknya, Fadil masih tetap berharap kalau mimpi itu bukanlah firasat. Zefa heran kenapa Fadil bisa secemas itu hanya karena mimpi dan menurut Zefa mimpi Fadil dirasa tidak memiliki hal yang aneh.


     Baru saja dia ingin meletakkan ponselnya, tiba-tiba sudah berbunyi lagi. “Ya ampun, siapa lagi sih,” keluhnya karena saat ini yang ada di kepala Zefa adalah pekerjaan rumah yang menumpuk.


     “Mas Dirga!” Seru nya saat melihat siapa yang sudah menghubungi. “Iya halo Mas,” sapa Zefa ramah.


     Zefa terlihat malas karena saat ini dirinya belum mandi dan masih dengan kostum rapi-rapi. “Mas, aku tidak bisa saat ini,” tuturnya.


     “Kenapa Ze?” rengeknya.


     “Aku belum mandi.”


     Dirga tidak mau tahu, pria itu memaksakan kehendaknya sampai akhirnya Zefa mau melakukan keinginan Dirga. Pria itu terus melemparkan rayuan serta segala macam godaan pada Zefa. Melihat Zefa yang mengenakan daster pendek seperti itu membuat ketegangannya perlahan bergerak.


     Zefa dibuat terkejut saat dirinya diberitahu kalau pria itu sudah kembali mentransfer sejumlah uang dan itu cukup besar. Zefa menolak tetapi pria itu seperti biasa memaksakan kehendaknya yang bikin Zefa tidak bisa berbuat apa-apa.


     Dirga mengatakan jika dirinya akan memberikan apapun pada siapapun yang dia sukai, sama halnya dengan yang sedang dilakukan saat ini. Kembali dia menanyakan apa Zefa hari ini benar-benar tidak keluar rumah dan Zefa menjawab dengan jawaban yang sama.

__ADS_1


     Obrolan itu terhenti ketika Dirga sudah masuk ke gerbang kantornya walau awalnya ia Zefa tidak senang mendapat telepon dari Dirga pagi buta namun ketika pria itu berpamitan ada sedikit rasa tidak rela.


      Zefa meletakkan ponsel dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah yang sangat banyak. Dia bergegas melakukannya sebab siang nanti dia sudah ada jadwal untuk melihat film kesukaannya di televisi. “Beres-beres, yuk semangat yuk,” seru Zefa menyemangati dirinya sendiri.


     Dalam perjalanan menurut tempat usahanya Primus kembali mendapat chat misterius dari seseorang yang tidak dikenal. Kali ini sosok itu tidak mengirimkan pesan suara tapi sebuah foto yaitu foto Zefa dengan pria lain.


     “Rese juga nih orang,” geram Primus setelah melihat foto tersebut. Primus langsung menghubunginya langsung, ternyata sosok itu menjawabnya langsung.


     Terdengar tawa mengejek dari sosok di ujung telepon yang membuat Primus muak. “Aku tahu kalau kamu pasti akan langsung menghubungi aku,” ucapnya.


     “Siapa kamu dan apa maksud dari semua ini, kenapa kamu mengirim hal-hal seperti ini sama aku!” Tukas Primus bernada tinggi.


     “Sabar Mas Bro, masa hal seperti itu saja harus kamu tanyakan,” jawabnya, “sudah pasti aku mau kamu itu tahu kelakuan Istri kamu saat ini,” timpalnya.


     “Iya tapi siapa kamu!”


     “Kamu tidak perlu tahu, tapi yang pasti kamu harus tahan Istri kamu itu keluar rumah jika kamu ingin rumah tangga kalian baik-baik saja dan berumur panjang,” jawabnya santai.


     Primus langsung memutuskan sambungan telepon dengan sosok itu karena dia sangat marah. Bukti yang diberikan kali ini Zefa sedang bersandar manja di bahu seorang pria namun tidak terlihat wajah pria tersebut.


     Primus sedang dalam mode tidak stabil emosinya jadi biarpun dia sudah mengamati dan mengingat siapa sosok yang sedang dibuat bersandar Zefa pria itu masih tidak bisa mengingatnya.


     Akibat pesan singkat tersebut seharian ini Primus jadi tidak bisa konsentrasi dengan semua pekerjaannya. Pria itu bahkan beberapa kali menjatuhkan barang, terkadang dia marah tanpa alasan pada salah satu karyawannya.


     Di bagian pojok ruangan, dua orang pegawai sedang berbisik, mereka bertanya ada apa dengan bos mereka kali ini. “Aku juga gak tahu, apa Kak Primus sedang ada masalah sama Mbak Zefa yah,” salah satu dari mereka menduga-duga.


     “Yah bisa jadi atau usaha yang sedang dirintis tidak berjalan lancar?”

__ADS_1


__ADS_2