P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
JALAN BARENG


__ADS_3

     Zefa masih diam seolah tidak mendengar pertanyaan temannya dan kesadarannya kembali setelah sosok yang kian mendekat itu menyapa dirinya.


     Wanita tersebut memberikan senyum manisnya, dalam hati dia merasa senang karena Dirga ada di hadapannya saat ini.


     “Hai!” kembali Dirga menegur, “apa sudah mau pulang Ze?”


     Belum Zefa menjawab dia sudah merasa satu pukulan mendarat di tubuhnya, sontak Zefa langsung menoleh dengan tatapan sedikit nanar seraya berkata, "Sakit tau, apaan sih!"


     "Ya elo ditanya gak dijawab, mikirin apa sih!" Seru salah satu temannya.


     "Tau, sadar woy," ejek teman satunya membuat Dirga tertawa kecil.


     "Iya sorry," sahutnya dengan wajah cemberut lalu melihat Dirga dan menjawab, "iya aku mau pulang, kenapa?"


     Tanpa basa basi Dirga langsung ajak Zefa untuk pulang bersamanya. Kedua temannya itu saling lirik sambil sengar-sengir meledek Zefa sementara itu wanita tersebut berlagak tidak suka namun dalam hati dia berdebar.


     Kedua temannya yang sangat peka langsung meninggalkan Zefa, mereka pamit lebih dulu dengan mengatakan agar Dirga menjaganya dan mengantarnya kembali ke pemilik hak, Primus.


     Mendengar ejekan dua teman Zefa, pria itu menjawab juga dengan kelakar, "Kalau aku bawa dulu semalam boleh gak yah sama suaminya!"


     Sontak pertanyaan itu membuat kedua temannya riuh, Dirga benar-benar sudah tidak merasa malu. Perlakuan Dirga membuat Zefa malu namun juga senang, setelah kedua temannya pergi Dirga langsung ajak Zefa bersamanya.


     Dalam perjalanan mereka terus saling lirik membuat sedikit demi sedikit hasrat mereka menggelitik. Kata yang keluar dari bibir Dirga membuat Zefa semakin ingin lebih dekat lagi dengan pria tersebut. Kata-kata manisnya membuat hati Zefa yang memang lunak semakin meleleh.

__ADS_1


     Zefa bahkan membiarkan tangannya di ganggam Dirga setelah mereka melaju setengah perjalanan. Dirga tidak menjawab ketika Zefa bertanya mereka mau kemana, dia hanya meminta agar Zefa duduk manis dan menikmati perjalanannya.


     Sementara itu Milea yang saat ini sudah sampai di halaman rumah meraih ponselnya untuk melihat apa suaminya sudah melihat bahkan membalas pesan singkat darinya. Raut wajah kecewa terlihat, ternyata pesan singkat darinya masih belum dilihat.


     “Kemana Mas Dirga, apa dia masih sibuk dengan semua pekerjaannya,” ucap Milea dengan sedikit rasa kecewa.


     Wanita itu membuka pintu lalu mengerjakan pekerjaan rumahnya sebelum suami tercinta pulang. Milea tidak memiliki pikiran buruk tentang suaminya walau dia tahu kalau suaminya itu termasuk lelaki yang bisa di bilang genit. Milea mencoba berpikir baik menurut dirinya, selama suaminya tetap kembali ke rumah dia tidak masalah selama perasaannya pun baik-baik saja.


     Kali ini dia tidak memiliki perasaan yang aneh mengenai suaminya jadi Milea santai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya dan dia juga menyempatkan diri untuk masak makanan kesukaan suaminya tersebut.


     “Aku tau nanti kamu pulang kerja pasti lapar Mas jadi aku masakin semua makanan kesukaan kamu supaya bisa ke isi lagi tenaga kamu nanti,” tuturnya sambil tersenyum dan membayangi wajah Dirga yang senang mendapat perhatian darinya.


     Hari ini di tempat usahanya Primus memang sedikit sibuk walau tidak sesibuk kemarin tetapi pengunjung hari ini datang dan pergi bergantian tetap ramai dan membuat mereka tidak berhenti bergerak.


     Hela nafas lega terdengar sambil kembali pria itu menyeka keringatnya lalu berkata, “Alhamdulillah, sangat melelahkan tapi ini adalah berkah, terima kasih ya Tuhan,”  tuturnya dengan senyum sumringah.


     Primus melihat sekeliling, dia melihat bagaimana para pekerjanya juga merasa lelah dan sekilas dia berkata dalam benak, ‘Aku akan memberi reward pada mereka karena mereka sudah bekerja sangat keras beberapa minggu ini.’


     Pria itu berdoa agar niat baiknya bisa terlaksana. Primus memanggil salah satu karyawan kepercayaannya lalu berkata, “Apa semua bahan masih banyak Dre?”


     “Iya Pak, semuanya masih aman terkendali soalnya tadi kita beli bahan memang di lebihin,” jawab Andre.


     “Oh iya, kamu beli sesuai dengan catatan yang tadi saya kasih itu yah, memang semua saya buat lebih, syukur deh kalau begitu,” balasnya.

__ADS_1


     “Iya Pak, semua tinggal diolah seperti biasa karena tadi kita langsung siangi semuanya, sesuai perintah Bapak,” timpalnya.


     Primus tersenyum sumringah, dia senang karena memiliki pegawai yang peka juga sangat cekatan. Andre diminta melanjutkan kembali pekerjaannya sementara itu Primus melangkah menuju meja kasir.


     Pak bos meminta rekap sementara dari penghasilan hari ini karena sudah pukul enam sore, sudah setengah hari mereka buka dan pria itu ingin melihat pemasukan. Apa sesuai dengan yang ada di rekam otaknya saat ini.


     Di lain tempat Dirga masuk ke parkiran sebuah rumah makan, Zefa tidak bertanya dan wanita itu hanya mengikuti dengan manis. Dirga lapar sedangkan Zefa karena baru saja makan jadi dia hanya memilih menu makanan ringan saja untuk menemani Dirga.


     Perbincangan ringan mereka lakukan selama makan, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan dan kali ini Dirga membawa Zefa ke sebuah klub milik salah satu temannya. Zefa tidak keberatan sama sekali karena dirinya bukan hanya kali ini pergi ke tempat seperti itu.


     “Aku akan kenalkan kamu dengan temanku jadi kalau nanti kamu kesini bersama teman-teman kamu bisa langsung dapat tempat walau penuh,” ucapnya yang dibalas senyum oleh Zefa, “dan siapa tau kamu juga bisa dapat diskon kalau tidak nanti aku yang hajar dia,” guraunya membuat Zefa tertawa.


     Pintu terbuka dan seperti biasa  lampu berkilauan juga musik yang menghentak menyambut setiap pengunjung datang ke tempat itu. Tangan Zefa tidak lepas dari genggaman tangan Dirga, pria itu seolah tidak ingin Zefa lepas atau jauh darinya.


     Seperti kata Dirga di awal, pria itu langsung membawa Zefa ke ruangan pribadi temannya yang bertindak sebagai CEO di tempat tersebut. Pria itu terlihat ramah ketika mereka saling menyapa pertama kali namun setelah beberapa saat Zefa merasa risih dengan tatapan teman Dirga tersebut.


     “Emm, bisa banget. Kapan saja kalau kamu mau kesini sama teman atau mungkin sendiri bisa langsung ke tempat ini atau hubungi aku dulu juga tidak masalah,” tuturnya lalu menoleh ke arah Dirga, “Ga, boleh gak kalau gua tukar nomor sama dia?” tanya Raka.


     Dirga tersenyum tipis lalu menjawab, “Tanya orangnya lah, kalau gua selama itu buat kepentingan dia nggak masalah.”


     Raka tertawa tipis lalu bertanya pada Zefa yang dijawab anggukan kepala. Mereka mengeluarkan ponsel masing-masing lalu saling tukar nomor telepon. Dirga terlihat santai dan tidak ada masalah dengan sikap Raka, dia tidak sadar jika Zefa merasa sedikit risih dengan temannya tersebut.


     Zefa merasa lega ketika Dirga ternyata sangat peka dengan satu sentuhan darinya, pria itu meminta pada Raka agar ruangan untuknya dipersiapkan sekarang. “Private class Mas Bro?” tanya Raka.

__ADS_1


__ADS_2