
“Ya sudah sana, ingat yah jam sebelas Mamah ambil dan kamu jangan suka bilang macam-macam nanti sama Primus, jangan suka mengadu domba kami,” ancamnya lalu menutup telepon sepihak.
Zefa menghela nafas lalu beranjak dari tempat tidur dengan malas, “Ampun deh, kenapa sih anak sama Mamahnya beda banget,” keluhnya, “untung saja Mas Primus sangat baik dan sabar,” timpalnya,” kemudian dia kembali berkata sambil jalan keluar dari kamar, “coba kalau tidak, sudah aku tinggal dia sejak lama mungkin.”
Kekesalannya membuat Zefa terus menggerutu halus, Lala melihat hal itu dan dia selalu merasa senang jika Zefa di marahi atau di beri celoteh oleh Mamanya. Lala dengan sengaja jalan santai sambil memegang camilan dan melirik dengan tatap mengejek lalu bernyanyi membuat Zefa mengendus kasar.
Wanita itu mulai melihat-lihat bahan yang ada di dalam lemari pendinginnya, memang selalu ada banyak bahan di rumah itu karena Primus dan Zefa memang suka ada yang memesan catering dadakan jadi mereka selalu menyiapkan sedikitnya bisa memasak sekitar lima puluh porsi.
‘Semangat Ze,’ batin Zefa menyemangati dirinya sendiri.
Satu-persatu bahan dikeluarkan dari dua lemari pendingin, setelah semua keluar muncullah di kepala Zefa menu apa yang akan dibuatnya. “La, apa kamu bisa bantu aku disini?” teriak Zefa yang coba meminta bantuan adik iparnya itu walau dia sudah tahu pasti jawabannya.
“Tidak, maaf aku sibuk!” Jawabnya lalu tertawa membuat Zefa kesal walau dia sudah tau jawabannya namun tetap saja.
Zefa mulai mengerjakan semua karena dia melirik jam di dinding ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat. Wanita itu sudah biasa dengan masak memasak apalagi jika semua bahan sudah ada di depan mata plus hanya mengerjakan dua puluh box. Bagi Zefa itu adalah hal yang sangat mudah.
Dia sengaja memilih menu yang gampang untuk di olah. Hal pertama yang dilakukannya adalah memasak nasi terlebih dahulu sebab nasi memang cukup memakan waktu memasaknya. Setelah itu Zefa mulai menyiangi sayuran juga bumbu dapur dan yang lain.
Dirga masih belum menerima balasan dari Zefa ketika dirinya melihat ponsel pagi tadi bahkan sampai detik ini dirinya sampai di kantor, wanita itu hanya membacanya saja namun masih belum di balas.
“Kenapa masih belum dibalas juga sih Ze, kamu sengaja atau bagaimana!” gerutu Dirga dengan menghela nafas.
__ADS_1
Dirga kembali mengirim pesan singkat pada Zefa karena wanita itu masih juga belum membalasnya. “Kali ini kamu harus balas yah, aku yakin kalau jam segini suami kamu sudah pergi,” ujarnya.
Pria itu menunggu sekitar tiga menit setelah dia mengirim pesan tetapi Zefa masih belum membalas bahkan membukanya. Rasa kesal Dirga tertahan sebab dirinya diminta untuk ikut meeting oleh rekan kerjanya.
Sementara itu Milea melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga setelah suaminya pergi bekerja. Meski kehidupan rumah tangganya berkecukupan bahkan lebih tetapi Milea tidak ingin ada pelayan di rumah itu jadi dia yang mengerjakan semua sendiri.
Dirga sudah beberapa kali menyarankan agar Milea mencari orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena baik dirinya juga Milea memang terkadang sibuk dengan urusan masing-masing namun Milea menolak.
Wanita itu mengatakan jika semua masih bisa diatasi, Milea baru akan mencari pembantu jika dirinya sudah mengandung nanti. “Emm, kok seperti bau …,” kata Milea ketika dia hendak memasukkan baju Dirga yang habis semalam dipakai dengan mengerutkan dahi.
Milea mencium bau yang berbeda di pakaian suaminya, “Apa Mas Dirga pergi ke tempat lain kemarin?”
Lea kembali melanjutkan pekerjaannya dan kini dia menemukan ada secarik kertas parkir dari sebuah tempat. “Emm, jadi semalam dari sini,” ucapnya lagi setelah dia melihat nama tempat yang tertera di kertas tersebut.
Dia mengetahuinya karena memang Raka adalah temannya juga tetapi dia tidak mau terlalu mengenal pria itu. Pertama memang tidak diperbolehkan oleh Dirga dan yang kedua Milea juga memang tidak mau dekat setelah dia tahu pekerjaan Raka saat ini.
Merasa jika suaminya pergi ke tempat yang dia tahu dan biasa, Milea kini sedikit lebih tenang. Pukul sebelas kurang lima belas menit Dirga masih belum juga mendapatkan balasan pesannya pada Zefa. Pria itu kini merasa sangat kesal sampai dia akhirnya nekat menghubungi Zefa.
Sementara itu Zefa masih berkutat dengan tugasnya dan kini dia benar-benar berkejaran dengan waktu. Zefa sudah dalam tahap sentuhan akhir, dirinya tinggal menutup semua box yang sudah diisi lalu di masukkan dalam plastik besar.
Baru saja tangannya memegang tutup box, ponselnya yang tepat berada di atas meja berdering, Zefa tidak langsung menjawab, dia melihat siapa yang sudah menghubunginya dengan tangan tidak henti bergerak.
__ADS_1
“Mas Dirga!” Seru wanita itu kemudian dia ingat jika dirinya memang belum membalas chatnya yang semalam juga Zefa ingat belum mengucapkan terima kasihnya juga bertanya untuk apa uang itu diberikan padanya.
“Tanggung, tapi aku perlu bicara juga sama Mas Dirga, gimana yah,” ujarnya.
Zefa bergerak cepat, dia mengambil headset agar dia bisa bicara juga bekerja secara bersamaan. Ketika semuanya siap secara kebetulan Dirga yang tadi sudah mengakhiri sambungan teleponnya kini kembali menghubungi dirinya dan Zefa langsung menjawab.
Kata pertama yang terdengar dari bibir Dirga adalah kata keluhan karena wanita itu sampai saat ini masih belum juga membalas pesan darinya dan saat ini Dirga menuntut hal tersebut dari Zefa.
“Iya Mas maaf, aku memang sedang sibuk, apa bisa nanti kita lanjut Mas,” sela Zefa yang langsung ditolak Dirga.
“Tidak Ze, aku mau bicara dengan kamu sekarang, memangnya kamu sibuk apa sih?” tanya Dirga dengan nada kesal.
Zefa menjelaskan jika dirinya pagi tadi ada pesanan mendadak dari mertuanya dan akan diambil pukul sebelas saat ini jadi Zefa benar-benar tidak memiliki waktu untuk memegang ponselnya. Wanita itu juga berbicara dengan suara yang cepat juga terdengar sedikit terengah.
“Sebentar lagi harus kelar dan harus bergegas menyelesaikannya Mas jadi bisa kita lanjut nanti kan!” Pinta Zefa agar Dirga mengerti situasinya saat ini.
“Gitu, oke lah maaf, tapi kamu janji yah kalau sudah selesai langsung hubungi aku,” ancam Dirga yang hanya dijawab gumam Zefa.
Berselang setengah jam sejak pesanan itu diambil sendiri oleh mertuanya, bel rumah berbunyi. Baru saja Zefa ingin beristirahat setelah merapikan semua sisa pekerjaannya tadi dan entah siapa yang bertamu, Zefa merasa kesal karena kedatangannya dirasa tidak tepat.
“Siapa lagi ah!”
__ADS_1