
Mendapat pertanyaan yang menjurus membuat bulu kuduk Zefa berdiri, wanita itu sedikit menjauh dari Dirga namun gerakannya ditahan oleh pria tersebut. “Mau kemana?”
“Tidak,” jawabnya pelan sedikit takut-takut.
Wanita itu melihat keluar jendela, masih terang benderang. Senja akan menghampiri, setelah mereka sedikit menjauh ada rasa takut yang muncul di dirinya karena sekilas Primus hadir dalam bayangan pikirannya.
Dirga tidak ingin lagi kehilangan kesempatan. Ia merayu, menggoda dan membuat Zefa kembali terlena dengan semua yang dilakukan untuk dirinya. Kembali pria itu mendekat dengan menindih tubuh Zefa untuk kemudian memberikan sentuhan lembut di bibirnya lalu bergerak menaikkan hasrat.
Sedikit menolak karena ia teringat akan suaminya namun hal tersebut tidak bertahan lama, sentuhan juga gerak yang kembali diberikan Dirga padanya membuat rasa itu hilang. Dirga sudah berikan rasa yang selama ini tidak didapatnya dari Primus, rasa yang berbeda dari yang biasa.
“Mas!” Cegah Zefa dengan tangan yang menahan gerakan Dirga.
“Kenapa, jangan bilang kamu menolak,” balasnya, “kamu bukan menolak Ze, kamu itu hanya menahan diri, jangan lakukan itu,” timpalnya.
Kedua tangan itu masih saling menahan dengan mata yang terus berpandangan, “Harus sampai seperti ini yah Mas!”
Mendengar ucapan Zefa membuat Dirga menjauh dengan raut wajah kecewa, pria itu kembali mengenakan pakaiannya seraya berkata, “Kita sudah sama-sama dewasa Ze dan aku tahu kamu tidak selugu itu.”
Ucapan Dirga tidak Zefa ambil hati karena ia tahu kalau saat ini Dirga sedang dalam keadaan kecewa karena penolakannya. Zefa merapikan kembali pakaiannya yang sudah sedikit terbuka juga merapikan rambut yang juga acak-acakan.
Wanita itu mendekat namun Dirga menjauh dengan alasan jika Zefa mendekat dirinya tidak bisa memastikan kalau dia bisa menahan gairahnya pada Zefa. Sontak langkah wanita itu terhenti, permintaan maaf keluar dari bibir tipisnya.
__ADS_1
“Tidak, kamu tidak perlu meminta maaf Ze, jujur aku kecewa tapi aku sadar jika rasa kecewa ini karena kesalahanku yang memang terlalu berharap denganmu sedangkan kamu tidak merasakan hal sama juga seperti aku,” ujarnya penuh rasa kecewa.
Zefa menyanggah ungkapan itu, dia berkata jika Dirga tidak salah dan dia juga berkata jujur kalau dirinya juga memiliki rasa yang sama dengan Dirga namun dirinya masih bisa berpikir jernih. Zefa sadar kalau yang mereka lakukan saat ini dan beberapa kejadian lalu semua salah tetapi kali ini wanita itu berusaha menahan diri.
Rasa kecewa yang ada dalam diri Dirga tidak bisa ditutupi, ia tidak ingin membahas itu lagi. Saat ini juga Dirga minta agar mereka kembali, dia tidak ingin berlama-lama lagi dengan Zefa sebab jika tidak dirinya bisa hilang akal.
“Baiklah Mas, maaf sekali lagi,” ujarnya, “Mas, apa tidak sebaiknya kita melihat hape kita masing-masing untuk cari tahu kabar pasangan kita atau memberi mereka kabar balik?”
Dirga menjawab hanya dengan gumam lalu dia meraih tas serta barang berharganya yang lain kemudian berkata pada Zefa jika dirinya akan menunggu Zefa didalam mobil. Belum sempat wanita itu menjawab, Dirga sudah pergi dan menutup pintu sedikit keras.
Hembus nafas panjang dilakukan Zefa, dia sadar jika sudah membuat Dirga marah apalagi dia tahu betul bagaimana rasanya laki-laki jika keinginannya tidak terpenuhi. Dengan langkah yang tidak bergairah Zefa mulai merapikan diri dan mengambil barang bawaannya tadi.
Selesai mereka bertemu dalam mobil, tidak ada kata yang keluar dari mulut Dirga. Pria itu langsung membawa kendaraannya melaju cepat. Setengah jam perjalanan mereka hanya diam, Zefa sesekali melirik namun dia tidak berani bicara lebih dulu.
“Iya sama-sama, telepon atau chat aku kalau ada apa-apa, ok!”
“Siap Mas, semoga semua baik dan sekali lagi makasih,” balas Milea.
Mereka datang lebih dulu karena pertemuan yang kedua tadi tidak lama, hanya sekitar dua puluh menit sebab teman Primus masih harus melakukan perjalanan. Keduanya memutuskan untuk langsung kembali juga kebetulan jala hari ini tidak macet.
Primus bisa melaju dengan sangat cepat dan membuat mereka akhirnya bisa sampai lebih dahulu dari Zefa juga Dirga. Niat Zefa yang ingin melihat ponselnya lebih dulu terhenti karena terburu-buru akhirnya Zefa lupa buat ponselnya aktif kembali.
__ADS_1
Sama halnya dengan Zefa, Dirga juga masih membuat ponselnya mati karena tadi tidak ingin diganggu. Milea yang tiba lebih dulu seperti biasa dia membersihkan rumah kemudian mempersiapkan akan untuk Dirga nanti jika dirinya tiba sementara itu Primus setibanya di rumah langsung membersihkan diri.
“Mmm … masih belum aktif juga, kemana kamu Ze,” sedikit hela juga pertanyaan yang sama beberapa kali keluar dari bibir Primus.
Baru saja bersandar ponselnya berbunyi, Primus bergegas meriahnya dan berpikir jika itu adalah Zefa namun dia menelan rasa kecewa sebab yang menghubunginya ternyata mama Rita. “Iya Mah,” sapa Primus terdengar lemah.
“Kamu sudah pulang?” “sudah Mah,” jawabnya, “apa Istri kamu ada di rumah?”
Dirga tidak langsung menjawab, pria itu sedikit berpikir jawaban apa yang akan dikatakan. “Emm sudah, dia sudah tidur Mah,” jawabnya berbohong namun ternyata apa yang dilakukannya itu ketahuan oleh Rita.
“Jangan bohong sama Mamah, kamu pikir Mamah tidak tahu kalau Istri kamu itu masih berkeliaran di luar sana,” jawabnya membuat Primus terdiam.
Rita tidak peduli dengan apa yang akan dipikirkan Primus nanti, saat ini dia tidak ingin anaknya terus-terusan dibohongi oleh Zefa. Selama ini Rita tidak suka dengan sikap Zefa yang dilihatnya tidak bisa menjaga nama baik suami juga keluarganya.
Rita mengatakan jika tadi pagi menjelang siang dirinya juga Lala melihat Zefa pergi dengan seorang pria mengendarai sebuah mobil. Mereka berusaha menahan, menari bukti tetapi tidak berhasil karena Lala kehilangan jejak mereka.
“Mamah tau kalau kamu tidak akan percaya jika tidak ada bukti tapi Mamah mau kamu jangan terlalu membiarkan Istri kamu itu bebas dengan dunianya, ingatkan dia kalau saat ini dia sudah memiliki Suami, memiliki keluarga lain yang harus dijaga juga nama baiknya,” ujar Rita yang terdengar sedikit emosi.
Panjang lebar Rita berkata namun Primus hanya menjawab singkat, “Iya Mah.”
Hela nafas terdengar, Primus kembali merebahkan tubuhnya sementara itu di luar sana Zefa baru saja tiba dengan diantar Dirga. “Terima kasih Mas,” ucapnya sambil membuka seat belt dan Dirga hanya menjawab dengan gumam tanpa melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Mas, sudah jangan marah lagi, bagaimana caranya agar kamu tidak marah seperti ini!”
Dirga menoleh, melihat Zefa dengan tatapan dalam, “Aku mau itu dan hanya itu yang bisa membuat marah aku mereda,” jawabnya yang membuat Zefa tidak bisa membalas.