P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
SAMA NAMUN BERBEDA


__ADS_3

     Zefa, walau dirinya memiliki ketertarikan pada Dirga namun dia tidak berpikir akan berhubungan sampai sejauh apa yang ada dalam pikiran pria itu untuk saat ini. Wanita itu tidak tahu bagaimana dirinya nanti pada Dirga yang pasti detik itu Zefa masih ingin memberikan pelayanan terbaiknya pada sang suami.


     Mereka melalui malam yang panas malam itu, malam yang sampai detik ini tidak ada yang dapat mengganggu. Belum memiliki anak digunakan mereka sebaik-baiknya untuk tetap berusaha, Primus menginginkan segera tetapi Zefa masih bersikap santai..


     Wanita itu bersikap pasrah, jika diberikan cepat akan diterima walaupun masih belum juga tidak masalah sebab dirinya berpikir jika usia pernikahan mereka masih di bisa baru saja dimulai. Memang sudah melewati satu tahun tetapi masih banyak yang di atas mereka tapi masih bisa bersikap santai.


     “Ze, tahan,” seru Primus ketika dirinya merasa akan mengeluarkan gairahnya.


     Zefa menghentikan gerakannya, perlahan mereka bertukar posisi dan Primus meminta posisi yang sekiranya pas agar bagi dirinya dan Zefa bisa merasakan pencapaian ke puncak nikmat itu bersama. Wanita itu ingin begini sedangkan Primus ingin begitu jadilah mereka ambil jalan pintas.


     Posisi Zefa yang terlentang mereka setujui sebagai posisi terakhir untuk mencapai puncak, posisi biasa tetapi untuk mereka sama saja bisa memuaskan rasa. Primus bergerak cepat dengan tekanan yang membuat Zefa berteriak dan mencengkeram erat.


     Sedikit teriakan terdengar dari mulut Primus ketika dirinya hendak menembakkan peluru cair yang diharapkan akan menjadi cikal bakal dirinya memiliki keturunan. Deru nafas Primus yang masih memburu dan tubuh penuh peluh menetes mengenai bagian tubuh Zefa.


     “Mmpp,” terdengar suara wanita itu saat perlahan Primus melepaskan pedang panjang dari lembah basahnya.


     Primus memeluk hangat Zefa, tubuh mereka yang masih berkeringat tidak membuat keduanya merasa risih. Mereka menikmati kehangatan dan kasih sayang yang saat ini masih mengalir dalam diri keduanya.


     Satu kecupan singkat diberikan Primus di kening Zefa seraya mengucap, “Makasih ya sayang, i love u.”


     “Aku juga Mas,” jawab Zefa yang juga memberikan rasa sayangnya di pipi Primus.

__ADS_1


     “Kita istirahat yah, besok aku berangkat agak siang jadi setelah subuh kita bisa tidur lagi,” ujarnya.


     “Iya mas, aku memang sangat lelah,” balas wanita itu dengan senyum, Primus memang suami yang sangat pengertian bahkan sejak mereka baru saja dekat pria itu sudah terlihat  perhatiannya pada Zefa dan itu juga salah satu kenapa Zefa memilih Primus.


     Mereka mulai bergerak sedikit menjauh, selimut tebal dinaikkan ke bagian atas dada keduanya. Sesaat Primus beranjak meraih celana pendek lalu menoleh ke arah Zefa setelah memakainya. Istrinya itu sudah tidak bergerak namun suaminya ini masih ingin mengganggunya sedikit dengan mendekat dan memberi kecupan singkat di pundak Zefa.


     “Sayang,” tegurnya pelan yang hanya dijawab gumam Zefa tanpa membuka mata, “kamu tidak ingin pakai baju? apa kamu tidak kedinginan atau kamu sengaja yah supaya nanti kita melanjutkan ronde kedua,” lanjutnya dengan bisik menggoda.


     Sontak Zefa sedikit meronta seraya menjawab manja, “Mas apaan sih, tidur ah sana.”


     Primus tertawa lalu dia menjauh dan menurunkan suhu pendingin ruangan kamar agar Zefa tidak merasa kedinginan nanti. Tidak ada yang berubah dari kehidupan rumah tangga Zefa dan Dirga walau mereka memiliki banyak kekurangan.


     Semua kekurangan finansial itu selalu bisa ditutupi oleh Primus dengan kasih sayangnya pada Zefa. Perhatiannya, serta yang selalu menjadikan Zefa prioritas menjadi salah satu kunci wanita itu tidak bisa lepas dari dirinya.


     Berbeda dengan kehidupan rumah tangga Zefa dan Primus, keadaan dalam rumah Dirga juga Milea sudah pasti memiliki masalah namun dengan kasus yang berbeda. Dirga yang memiliki semuanya tidak bisa menjaga hati Milea walau pria itu selalu memenuhi kebutuhan Milea bahkan lebih.


     Harta yang selalu diberikan Dirga tidak serta merta membuat Milea merasakan damai dalam hatinya. Seringkali wanita itu dibuat was-was dan sedih bahkan sampai sakit hati dengan berita yang didengar mengenai suaminya diluaran sana.


     “Mil, sampai dimana kerjasama kamu sama Primus, apa semua lancar?”


     Dirga bertanya setelah sekitar satu minggu sejak pertemuan itu dengan Zefa, mereka tidak berkomunikasi dan selama itu Dirga tidak bisa menghilangkan bayangan Zefa walau dirinya sudah mencoba.

__ADS_1


     “Iya Mas, alhamdulillah semua lancar,” jawabnya, “kami sudah menemukan tempat dan sudah beberapa barang ada disana, aku dan Mas Primus tinggal membeli sedikit bahan dan barang lagi Mas,” timpalnya.


     “Emm gitu, baguslah dan semoga semuanya lancar,” balas Dirga yang terlihat hari ini kurang bersemangat di mata Milea.


     Milea takut jika itu hanya perasaan dia saja jadi dirinya tidak bertanya sampai Dirga hendak berangkat kerja dia mengantarnya sampai depan pintu seperti biasa. Milea melihat Dirga beberapa kali menghela nafas dengan rasa berat.


     Wanita itu jadi penasaran lalu dia bertanya namun Dirga menjawab kalau dirinya baik-baik saja. Milea tidak ingin bertanya lagi dan dia hanya berharap kalau hari ini Dirga bisa bekerja dengan baik dengan mood yang baik juga.


     “Memang terlihat yah kalau aku tidak bersemangat?” tanya Dirga pada diri nya sendiri lalu pria itu melihat wajah serta dirinya ke kaca, “emm, sepertinya memang iya, wajahku terlihat lesu dan memang aku nggak bergairah sih,” timpalnya.


      Dirga sangat sadar dan tahu akan hal itu juga sebab kenapa dirinya sampai seperti itu. Satu nama terukir di benaknya sudah beberapa hari ini, Dirga dengan sengaja tidak lagi menghubungi Zefa namun ternyata wanita itu tidak juga menghubungi dirinya.


     Dirga merasa enggan untuk menghubunginya lebih dulu walau dirinya sangat ingin. Dia memilih untuk menahan rasanya selama beberapa waktu sampai dia merasa jika dirinya merasa sudah tidak kuat.


     Dirga menceritakan tidak bisa menahan kegalauannya sendiri jadi dia membuat janji dengan Raka hari ini namun masih belum juga pesan singkatnya di lihat. Dirga berpikir jika mungkin saat ini Raka masih berada di atas tempat tidur karena dia memang selalu tidur menjelang pagi.


     Hari ini Primus merasa tidak enak badan tetapi Zefa tidak bisa menghentikannya untuk terus bekerja. “Sudahlah Mas, istirahat saja dirumah kan ada Alim yang jaga,” ucap Zefa yang coba menahan kepergian Primus.


     “Hanya sedikit tidak masalah,” jawabnya, “oh iya, kamu pergi saja kalau memang nanti rasa tidak enak ini berkepanjangan aku akan hubungi kamu,” timpalnya.


     Primus pergi juga karena merasa memiliki tanggung jawab yang besar dengan pekerjaannya sementara itu Zefa langsung membersihkan rumah kemudian merapikan diri karena hari ini dia ada arisan bersama beberapa temannya di putih biru.

__ADS_1


     “Nomor siapa ini!” Seru Zefa dengan kening yang mengkerut.


__ADS_2