P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
BIKIN GAK TENANG


__ADS_3

     “Apakah Anda tahu saat ini dimana keberadaan Istri Anda Tuan Primus, dia sedang bersama pria yang akan membuat diriya perlahan berpaling dari Anda sebagai Suaminya.”


     Sontak suara itu membuat tubuh Primus mematung, kembali dia melihat dengan teliti nomor yang sudah mengirimnya pesan suara tersebut. Beberapa saat Primus mengingat tetapi dia merasa tidak mengenal nomor itu.


     “Sial, siapa ini!”


     Primus mencoba untuk menghubunginya namun ternyata nomor tersebut sudah tidak aktif. Sepertinya  sosok si pengirim pesan singkat tersebut sengaja mematikan teleponnya karena tahu Primus pasti akan menghubunginya.


     “Pasti sengaja dimatikan, kurang ajar,” rajuk pria itu.


     Hela nafas kasar dilakukan, kembali dia bersandar pada sofa dan membuat tubuhnya sedikit rileks. Saat ini karena pesan suara tersebut Primus merasa jika dirinya jadi tidak bisa tenang.


     Primus kepikiran akan pesan itu, “Dua kali dalam satu hari, apa mungkin ini bukan karena kebetulan,” pikirnya.


     Pria itu melihat pesan terakhir yang dikirim Zefa dan ternyata itu sudah sejak pagi hari. Primus tidak sadar karena hari ini dirinya juga banyak pekerjaan dan urusan, pria itu juga sudah terbiasa dengan tidak adanya Zefa ketika dia pulang bekerja.


     “Aku coba hubungi deh,” ucapnya yang lalu saat itu juga menghubungi Zefa namun ternyata ponselnya tidak aktif.


     “Tidak aktif,” kata Primus lalu menghela nafas panjang.


     Ponsel diletakkan di sisi kanan, dia mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk mengenai Istri tercintanya. Beberapa kali dia mencoba jika pikiran itu datang namun tidak semudah yang disangka.


     Akhirnya Primus coba untuk beristirahat kembali, dia berharap kalau tidur akan membuat dia bisa melupakan pikiran buruk tersebut.


     Di tempat yang tidak seharusnya dia berada saat ini, Zefa sudah membersihkan diri begitu pula dengan Dirga yang sudah terlihat rapi. Mereka saat ini sudah bersiap untuk pulang walau Dirga masih belum bisa menyatukan tubuh dengan Zefa tetapi dia tetap merasa senang.


     “Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanya Zefa karena memang Dirga senyum sendiri.


     Pria itu tertawa tipis, “Nggak, aku hanya merasa senang  saja akhirnya bisa ketemu kamu lagi bahkan sampai bisa berdua sama kamu tadi,” jawabnya dengan wajah sumringah.


     Zefa jadi tertawa tipis mendengar jawaban Dirga, dia tidak tahu itu klise atau bukan namun yang pasti jawaban itu sudah membuat  hatinya senang. “Gombal.”

__ADS_1


     “Tidak Ze, aku berkata jujur,” balasnya, “kamu tahu tidak alasan aku dan Raka janjian tadi?” tanya Dirga yang di respon dengan gelengan kepala.


     “Aku sengaja ajak Raka ketemu untuk ngobrol tentang kamu Ze!”


     Wajah terkejut terlihat dari wanita itu seraya berkata, “Hah, aku!”


     “Iya” sahut Dirga yang lalu menceritakan kegalauan hatinya selama mereka tidak bertemu.


     Pria itu bercerita panjang lebar namun Zefa tidak percaya dengan semua ucapannya membuat Dirga berusaha sedikit keras agar Zefa percaya. Dia bahkan berkata jika dirinya sampai ingat wajah Zefa ketika berhubungan dengan Milea.


     Sontak saja satu pukulan mendarat di bahu Dirga, Zefa mengingatkan pria itu jangan pernah melakukan hal itu lagi namun Dirga tidak tahu bagaimana cara menyingkirkannya.


     “Kan datang sendiri tanpa diundang, diusirnya susah lagi,” keluhnya bikin Zefa tertawa.


     Sementara Dirga dan Zefa pulang dalam keadaan senang, ada yang pulang dalam keadaan hati yang sebaliknya. Pintu dibuka dengan kasar sampai menimbulkan suara cukup keras membuat penghuni dalam rumah terkejut.


     Lala yang sedang asik menonton sinetron kegemarannya dikejutkan dengan suara yang membuat dirinya harus melonjak. Wanita muda itu bergegas ke arah suara karena ingin tahu apa itu.


     Kembali dia jalan mendekat seraya berkata, “Mamah, biasa aja kali, bikin kaget aja.”


      Wanita paruh baya itu duduk dengan wajah yang ditekuk tujuh, tas kecil yang dibawanya dilempar sembarang.


     “Diamlah, Mama lagi kesel nih,” geram dia meminta.


     “Ini nih yang aku tidak suka, marah karena apa dan dimana tapi dibawa pulang, kan akhirnya aku yang kena imbas,” jawabnya kesal lalu berdiri.


     Langkah Lala terhenti karena mamanya minta, “Apa lagi!” malas Lala membalas.


     “Mamah kesal dengan Kakak kamu itu,” ujarnya, “tadi Mamah kesana untuk memberi tahu jika mungkin saat Istrinya itu sedang dengan lelaki lain,” timpalnya membuat Lala  mendekat.


     Wajah wanita itu berubah sangat antusias, dia mendekat sambil berkata, “Lalu apa jawaban dari Mas Primus?”

__ADS_1


     “Biasa, dia terus saja membela Istrinya itu dengan sekuat tenaga bahkan dia minta agar Mamah dan kamu jangan ikut campur urusan rumah tangganya.”


     Lala terkejut campur marah mendengar itu, dia mengumpat kakaknya yang tidak tau diri dan sudah dibutakan  oleh cinta sampai-sampai tidak menghormati mamahnya lagi.


     Adik dari Primus itu juga memaki dan memarahi Zefa penuh emosi. Tuduhan-tuduhan jelek mengalir dari bibirnya untuk Zefa yang malah membuat mamanya menjadi sangat membenci menantunya tersebut.


     Lala seakan menjadi kompor, menjadi bensin yang menyulut api bisa menjadi lebih besar kobarannya. Mereka memang tidak pernah menyukai Zefa dan Lala selalu buat mamanya semakin membenci Zefa.


     Di luar kota Fadil tiba-tiba teringat akan kakaknya Zefa karena semalam dia bermimpi jika Zefa sedang mengayuh sampan di lautan dan di sisi pantai ada Primus yang terus berdiri sambil menatap kepergian Zefa.


     “Gak biasanya aku mimpiin Kakak, apalagi kami belum lama bertemu,” ucapnya pagi itu ketika bangun tidur.


     Pikiran itu seharian hilang karena banyaknya pekerjaan satu hari yang harus dikerjakan membuat dia lupa akan mimpi tersebut namun ketika dia ingin beristirahat, Fadil kembali ingat akan mimpinya itu.


     “Iya yah, aku sampai lupa mau menghubungi kak Zefa karena sibuk hari ini,” ucapnya, “aku hubungi sekarang deh,” timpalnya lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Zefa.


     Dua kali dia mencoba tetapi ponselnya masih tidak aktif dan yang kedua diberi jeda sekitar setengah jam. “Kemana dia, gak biasanya hapenya sampai mati kayak gini,” kata Fadil.


     Sedikit perasaan tidak enak muncul, “Semoga tidak terjadi sesuatu sama Ka Zefa,” ucapnya lalu langsung ingat dengan Primus kakak iparnya, “oh iya, kenapa aku tidak coba hubungi Mas Primus saja yah!”


     Fadil kembali meraih ponselnya untuk kemudian menghubungi Primus dan kebetulan hanya berdering beberapa kali langsung dijawab. Di dalam mobil menuju pulang Zefa teringat akan Kalina, dia menghubungi wanita itu untuk menanyakan kabarnya.


     Lega dirasa Zefa karena saat ini ternyata Kalina sudah sampai rumah namun dia harus pergi lagi karena masih ada yang harus diurus.


      “Syukur deh klo udah ada di rumah,” balas Zefa, terus diantar sama Raka atau bagaimana?”


     “Soal itu nanti saja ceritanya,” jawab Kalina yang buat Zefa penasaran.


     Sambungan dari Fadil langsung dijawab Primus ramah, “Iya Dil, ada apa?”


     “Mas, apa Kak Zefa ada?”

__ADS_1


     ‘Tumben Fadil tanya Zefa sampai menghubungi aku, ada apa yah!’


__ADS_2