P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
TIDAK TAHAN SENTUHAN


__ADS_3

     "Kami tau mana teman mana teman dekat, kamu pikir kami bodoh!"


     Zefa diam sambil menahan emosi, wanita itu merasa geram dan berniat ingin mengeluarkan amarahnya juga saat ini. Dia merasa sudah cukup menahan diri, rasa yang saat ini ada dalam diri Zefa karena belum lama dia juga dibuat sangat terkejut dengan kedatangan Dirga ditambah dengan datangnya Milea secara tiba-tiba.


      Belum selesai rasa terkejut juga deg degan yang buat seluruh tubuh nya lemas karena takut ketahuan, kini emosinya kembali bercampur aduk dengan kedatang orang yang sama tidak disangka juga diharapkan Zefa.


     Rasa yang bercampur aduk tersebut membuat emosinya jadi tidak stabil sampai membuat wanita itu ingin sekali mengeluarkan kemarahannya yang sudah terpendam selama ini. Tangannya mencengkeram kuat, terlihat sudah mulai bergetar.


     ‘Apa aku memang seharusnya marah kali ini,’ benak Zefa.


     Dirga yang melihat hal itu langsung mengambil posisi dimana sekiranya Zefa bisa melihat. Pria itu langsung melambaikan tangan dan Zefa melihatnya. ‘Mas Dirga! Dia masih ada di sini?’ dalam hati wanita itu berkata.


     Hela nafas panjang dilakukan Zefa, dia mencoba untuk menahan diri. Mencoba untuk menahan emosi yang sudah berada di ujung tenggorokan. “Mah, aku tidak mau berdebat jadi tolong jika tidak ada kepentingan lagi …,” ucap Zefa yang tidak dilanjutkan.


     Lala beranjak dengan penuh emosi seraya berkata dengan nada tinggi, “Jadi kamu usir kami, beraninya, gak sopan banget kamu dasar wanita gak tau diri!”


     Zefa spontan berdiri dan langsung menjawab ucapan Lala yang menurutnya sudah kelewatan, “La … kalau kamu masih tidak bisa bicara sopan sama aku,  aku gak segan untuk bicara kasar sama kamu,” sentak Zefa yang sudah kesal dengan semua tingkah adik iparnya.


     “Jangan kamu coba berani mengancam anakku, sudah cukup kamu berbuat semena-mena dengan anakku yang satu dan jika kamu berani menyentuh yang ini aku akan langsung menghancurkan mu Ze,” ancam Mama dengan nada renda dan tatap nanar.


     “Mah, apa kalian tidak sadar kelakuan kalian selama ini sama aku,” keluh Zefa, “dan selama ini aku diam karena aku tau jika kalian tidak suka tapi lama-lama aku tidak kuat diperlakukan seperti ini,” ungkapnya lagi.


     “Mamah tidak peduli, kamu tau kalau kami tidak menyukaimu lalu kenapa masih memaksakan masuk keluarga kami?”


     “Apa kalian tidak merasa kasihan dengan Mas Primus, aku melakukan itu karena aku juga mencintai Mas Primus, Mah,” balasnya.

__ADS_1


     Saat itu juga Zefa mengeluarkan uneg-unegnya, dia berkata kalau selama ini dirinya sudah berusaha menjadi istri juga menantu yang baik. Semua dia lakukan agar Primus senang juga agar Mamah serta Lala bisa menerima dirinya dalam keluarga itu


     Zefa mengatakan jika dirinya sadar apa yang membuat mereka tidak suka tetapi selama ini dirinya juga sudah berusaha merubah diri namun tetap di mata mereka semua tidak berarti. Wanita itu sampai mengatakan jika dirinya mulai lelah berjuang agar di terima di keluarga itu.


     Dua keluarga Primus sepertinya tidak bergeming, mereka tidak percaya dengan airmata yang keluar dari mata Zefa adalah tulus. Keduanya meminta agar Zefa meninggalkan Primus atau mereka yang akan membuat mereka terpisah.


     “Mah, Mamah setega itu, apa mamah tidak memikirkan bagaimana perasaan Mas Primus?”


     “Dia akan sedih tapi Mamah yakin itu hanya sesaat dan sebentar, nanti lama kelamaan juga Primus akan sembuh sendiri dari rasa sakit hatinya.”


     Zefa merasa percuma bicara dengan mereka berdua, apapun yang sudah dilakukan selama ini tidak akan pernah dianggap. Kembali Zefa minta pada mertuanya itu untuk meninggalkan rumahnya karena dia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.


     Mereka akhirnya pergi juga karena memang merasa sudah tidak perlu bicara dengan Zefa. Wanita itu terus melihat sambil berdiri kepergian keluarga dari suaminya tersebut sampai ia melihatnya sudah menaiki taksi online yang dipesan.


     Zefa masuk rumah dan bergegas mencari Dirga yang tadi melambaikan tangan padanya dari kamar samping. Wanita itu melangkah cepat menuju ruangan tersebut dengan raut wajah terlihat kesal. Sampai disana ternyata Dirga tidak ada, Zefa kembali keluar dan mencari.


     Zefa menoleh ke asal suara lalu menghela nafas, “Kamu ngapain disana, sini keluar,” pinta Zefa masih dengan wajah kesal.


     “Mereka sudah pulang?”


     “Emm,  kita ke ruang tengah dan kalau bisa kamu pulang sekarang Mas,” ujar Zefa sambil berjalan menuju ruang tengah yang diikuti Dirga.


     Pria itu langsung menarik pergelangan tangan Zefa, menghentikan langkah wanita itu lalu langsung membuat tubuh Zefa memutar dan membuatnya jatuh di pelukan Dirga. pekik pelan terdengar karena Zefa terkejut, berada dalam jarak dekat membuat Zefa membisu.


     Pandangan mereka bertemu, keduanya bisa merasakan deru nafas halus orang didepannya. Suasana sunyi sejenak, keduanya diam dan perlahan membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.

__ADS_1


     Sadar dengan dirinya Zefa bergerak menjauh namun Dirga tidak membiarkan hal itu. Dia kembali menahan tubuh Zefa menjauh dari dirinya. “Aku tidak mau pergi dari ini Ze, kamu tau itu,” kata Dirga  tanpa melepaskan pandangannya.


     “Mas, tolong lah … hari ini sangat membuat perasaanku kacau balau jadi aku mohon Mas mengerti,” pintanya.


     “Aku akan buat semua rasa itu hilang dan berganti agar mood mu berubah Ze,” jawab Dirga sambil terus menatap dalam.


     Zefa malas berdebat, dia meronta agar Dirga melepaskan dekapannya namun pria itu masih dengan pendiriannya. Dia membuat dekapannya semakin erat sampai Zefa tidak bisa lagi berkutik, wajah keduanya kini hanya berjarak setengah jengkal.


     “Mas!”


     Dirga tidak menjawab, pria itu langsung membuat bibir mereka menempel lalu Dirga dengan lembut menggerakkannya sampai gerakan itu dibalas Zefa, “Emm,” gumam Zefa terdengar.


     Di kendaraan yang sedang melaju cukup cepat, Lala sedang berdiskusi dengan mamanya mengenai obrolan mereka tadi dengan Zefa. Mereka mengatakan


jika keduanya harus memiliki bukti kuat agar Primus percaya sehingga mereka bisa mengeluarkan Zefa dari rumah itu.


     Keduanya sepakat akan mencari bukti tersebut, di seperempat jalan mama terdiam. Sejenak dia mengingat bagaimana tadi Zefa sempat menangis ketika mengatakan perasaannya, Wanita paruh baya itu sedikit terenyuh, dalam lubuk hatinya ia merasa sedikit iba.


     “Mah, Mamah kenapa?” tanya Lala saat sadar ketika melihat mamanya melamun dengan pandangan kosong.


     “Tidak, Mamah tidak apa-apa,” jawab wanita paruh baya tersebut.


     “Aku tidak percaya, bilang sama aku, jangan buat aku khawatir.”


     Di dalam rumah, Zefa dan Dirga semakin menikmati permainan bibir mereka. Keduanya sudah merasa melayang dengan permainan itu, jari lentik Zefa masuk ke sela rambut rapi Dirga dan sedikit menekan kepalanya.

__ADS_1


     ‘Mulailah sayang,’ batin Dirga merasa senang dengan gerak Zefa yang mulai mengikuti kemauan tubuhnya.


__ADS_2