
‘Benarkan, mereka pasti melihat aku dan Mas Dirga, tapi mereka dimana!’ dalam hatinya Zefa berpikir dengan mata berputar mencari.
Dirga melihat raut wajah Zefa yang berubah, dia berpikir sepertinya ada sesuatu yang tidak baik dengan obrolannya. Pria itu ternyata sangat peka, dia bertanya dengan bahasa isyarat namun Zefa sedang tidak ingin diganggu.
Wanita itu sedang putar otak bagaimana caranya agar dia bisa bebas dari pertanyaan sang mertua tetapi Dirga penasaran dan akhirnya Zefa mengatakannya melalui secarik kertas. Dirga membacanya lalu dia tertawa kemudian berpikir mencari jalan.
Karena memang sudah keahliannya, hanya dalam hitungan kurang dari lima menit Dirga sudah dapat alasan untuk menutupi kebersamaan mereka. “Nih, baca,” titah Dirga sambi menyodorkan kertas kecil.
“Apa!” Seru Zefa terkejut, “tidak, kamu gila!” timpalnya setelah membaca isi kertas pemberian Dirga tadi sementara itu Rita yang masih ada di ujung telpon terus memanggil nama Zefa sebab ia tidak merespon pertanyaan dirinya.
“Iya Mah, aku masih disini,” sahut Zefa dengan gelengan kepala setelah dia membaca kertas dari Dirga. Pria itu mengatakan jika sebaiknya Zefa katakan saja dengan jujur jika dirinya memang sedang bersama Dirga.
“Benar kan apa kata Mamah, kamu sedang sama seseorang kan?”
“I … iya benar Mah, gak sama seseorang kok tapi ada beberapa, cewek dan cowok, biasa lah Mah lagi pada kumpul disini,” balasnya.
“Banyak, kalian sedang melakukan apa dalam kamar beramai-ramai!” Sentak Rita membuat Zefa menepuk jidatnya seraya berkata dalam hati, ‘aduh!’
“Iya Mah, tidak… kami tidak melakukan apa-apa.”
Zefa akhirnya kembali berbohong dengan mengatakan jika temannya itu hanya sebuah kosan kecil yang berisi satu kamar. Satu ruang digunakan untuk tidur dan yang lain dengan kamar mandi kecil juga disana.
Dirga sengaja berperan menjadi salah satu temannya yang berteriak kalau Zefa terlalu lama teleponan dan dia minta untuk memutuskan sambung telepon tersebut. Sontak ucapan itu membuat Rita meradang.
Rita mengatakan jika temannya itu kurang ajar, tidak punya sopan santun dan lain sebagainya. Sejak detik itu Zefa merasa bahwa itulah saat yang tepat untuk dirinya mengakhiri obrolan.
__ADS_1
“Iya maaf Mah, aku tutup teleponnya dulu yah Mah, bye,” balas Zefa lalu langsung menutup sambungan telepon sementara itu Rita yang berada di ujung telepon sana mencak-mencak, ngoceh gak jelas memaki Zefa.
Lala yang melihat itu bertanya ada apa, setelah diceritakan oleh mamanya Lala sama menjadi kesal juga marah dan memaki Zefa sementara itu Dirga tertawa geli melihat Zefa yang menghela nafas lega dan berwajah tegang sambil menutup telepon cepat-cepat.
Satu pukulan diberikan Zefa pada tubuh Dirga karena pria itu sudah membuat rasa tegangnya menjadi sesuatu yang lucu dan menggelikan untuk dirinya. Tanpa diketahui Zefa ternyata tiba-tiba Dirga mengatakan sudah tiba tempat tujuan.
Seketika Zefa menoleh dan clingak-clinguk melihat keadaan sekitar. “Kita kesini Mas?” kata Zefa sedikit bingung campur takut.
Dirga tertawa tipis melihat wajah bingung serta takutnya wanita yang ada di depannya saat ini. Semua gerak dari Zefa di mata Dirga saat ini terlihat sangat menggemaskan. “Iya, memangnya kenapa, kamu tidak mau?”
Zefa menoleh dengan bibir yang sedikit dibuat maju, “Mau, tapi mau apa kita kesini, apa mau karaoke?”
Pertanyaan Zefa membuat Dirga tertawa geli, otak kotornya langsung muncul ketika Zefa berkata “mau karaoke.” Pria itu tidak bisa menghentikan tawanya, dia membuka pintu dan mengabaikan Zefa yang menunggu balasan darinya.
Mereka jalan barengan ke kamar yang sudah dipesan, Zefa tidak banyak tanya. Tanpa canggung Dirga merangkul pinggang rampingnya, Zefa ingat ucapan Dirga sebelum mereka pergi jika pria itu akan menceritakan kenapa hari ini Dirga tidak merasa takut sama sekali kalau mereka pergi bersama.
Dirga akan mengatakannya jika mereka sudah berada di dalam, jawab pria itu santai sambil membuka kunci pintu kamar. “Silahkan masuk cantik,” ucap Dirga dengan tatapan penuh goda dan tubuh yang dibuat sedikit menunduk.
“Makasih Mas,” balas Zefa lembut dan jalan yang dibuat sedikit meliukkan tubuh indahnya.
Senyum terlihat di wajah Dirga, dia menutup pintu kemudian masuk menyusul Zefa yang saat ini sudah duduk disisi tempat tidur berukuran big size dan empuk. Zefa tersenyum manis melihat dan menyambut kedatangan Dirga yang mendekat.
“Mau minum apa Ze?”
__ADS_1
“Apa saja Mas, kita kesini mau ngapain Mas?”
“Kenapa tanya itu terus sih,” keluh Dirga dengan wajah yang dibuat cemberut lalu duduk di samping Zefa.
Zefa yang melihat reaksi Dirga langsung merasa bersalah kemudian dia minta maaf. Suasana sunyi tercinta beberapa menit namun Dirga segera mencairkan suasana. Mereka terlihat canggung karena memang baru kali ini mereka duduk berdua di satu kamar yang memang benar-benar terasa milik mereka berdua.
Dirga ajak Zefa berbincang ringan, sesekali Dirga mengeluarkan kelakarnya dan selalu berhasil membuat Zefa tertawa. Wanita itu memang merasa jika Dirga selalu bisa membuat dirinya tertawa tidak seperti Primus yang kaku serta jarang sekali memuji dan bercanda.
Dalam perbincangan itu beberapa kali Zefa membandingkan suaminya dengan pria yang saat ini ada dihadapannya. Wanita itu tidak berkedip menatap Dirga yang terus membuatnya tersenyum, pujian terucap dalam hatinya sesekali.
“Mas, apa Milea sudah menghubungi kamu lagi?” tanya Zefa sedikit cemas.
“Emm, belum … kenapa?” balasnya, “kamu tidak perlu cemas, mereka akan kembali malam jadi saat ini sampai nanti malam aku mau kamu tidak memikirkan hal lain selain aku Ze,” pinta Dirga.
Hembusan nafas halus terdengar, “Mas … aku tahu kalau yang kita lakukan ini salah tapi jujur aku mulai tidak bisa membohongi diriku,” ucapnya.
“Soal apa?” tanya Dirga kembali padahal dia sudah tahu maksud dari ucapan Zefa namun Dirga ingin mendengar langsung dari Zefa sendiri.
“Yah itu … kalau aku mulai nyaman dekat sama kamu Mas.”
Kata-kata yang keluar dari bibir Zefa membuat hati Dirga berbunga-bunga. Tanpa ragu dia meluapkan rasa senangnya itu degan memeluk Zefa yang ada di sampingnya seolah wanita itu adalah pasangan hidupnya.
Pelukan itu dibalas Zefa, ia membalasnya dengan mendekap erat tubuh Dirga namun dengan kehangatan yang bisa langsung dirasakan oleh Dirga. Untuk beberapa saat mereka terhanyut dalam pelukan hangat yang mereka ciptakan.
__ADS_1
“Ze,” tegur Dirga. “Emm,” sahut Zefa singkat. “Kenapa saat ini aku merasa kalau kita seperti pengantin baru yah,” kembali Dirga berkata yang membuat Zefa melepaskan dekapannya.