P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
MANTAN


__ADS_3

     Tanpa melihat dia mengatakan permintaan maafnya karena sudah menabrak walau tidak sengaja. Wanita itu mematung ketika melihat Primus begitu pula pria itu yang langsung diam saat melihat siapa wanita yang dibuatnya marah tersebut.


     Kalina dan Zefa yang sudah berada didepan sedikit jauh dari Primus karena mendengar suara pekik dari wanita itu. Mereka saling tatap dan Kalina menghentikan langkah Zefa ketika wanita itu mau menghampiri Primus.


     “Kenapa!” Tanya Zefa heran.


     “Tunggu, liat sebentar aja,” sahutnya.


     “Iya kenapa?”


     Kalina diam dan hanya melihat tanpa berkedip Primus dengan wanita itu yang membuat akhirnya Zefa tanpa sadar mengikuti. Ternyata kedua orang itu saling kenal, setelah mereka saling tatap dalam diam. Mematungnya mereka disadarkan oleh suara teriak wanita itu.


     “PRIMUS!”


     Wanita itu langsung maju dan memeluknya, Primus yang terkejut hanya diam. Dia tidak membalas pelukan namun tidak juga menjauhkan wanita tersebut. Zefa yang memperhatikan kini ingat siapa wanita itu.


      ‘Karin,’ batin Zefa dengan tatap dalam.


     Kalina berkata jika dirinya merasa familiar  dengan wanita tersebut. Dia merasa kalau pernah mengenalnya namun saat ini Kalina tidak ingat sama sekali kapan dan dimana. Dengan pandangan yang terus mengarah pada suaminya serta wanita itu Zefa mengatakan kalau dia adalah Karin.


     “Kayak pernah denger tapi kok gua ngerasa gak enak hati yah denger nama itu,” balasnya sambil berpikir.


     Zefa menghela nafas, dia mengajak Kalina untuk duduk dan melihat Primus di kursi yang hanya berjarak sekitar lima langkah disamping mereka. Di tempat duduk panjang itu Zefa mengatakan sedikit tentang Karin yang membuat Kalina ingat  siapa wanita tersebut.

__ADS_1


     Sementara itu Dirga juga Raka yang sedang penat sudah sampai di tempat tujuan. Raka tidak ajak Dirga ke ruangannya tetapi dia memilih ruang VIP untuk menghabiskan malam ini bersama temannya tersebut.


    Raka meminta pelayanan terbaik juga pelayanan extra untuknya juga Dirga pada pegawainya sebelum mereka masuk ruangan. Masuk Raka langsung bernyanyi, dia mengeluarkan emosinya dengan berteriak.


     Dirga gelengkan kepala namun setelah beberapa saat Dirga ikut ambil mic dan berteriak dengan Raka. Pelukan wanita itu terlepas dengan sendirinya setelah beberapa saat, wajah sumringah saat terlihat jelas.


     “Ya ampun Mas, aku senang loh bisa ketemu kamu lagi, rasanya sudah lama banget dan jujur aku memang sangat mengharapkan bisa ketemu kamu lagi dan akhirnya doaku dikabulkan juga oleh Tuhan walau yah lumayan lama,” cerocosnya.


     Primus tersenyum tipis, dia tidak bisa berkata banyak dan hanya senyum juga mengangguk pelan. “Kok kamu diam saja sih, kamu sama siapa kesini, sendiri?”


     “Tidak, aku sama Istriku dan temannya,” jawab Primus yang akhirnya buka suara.


     “Wow, dimana dia, aku mau ketemu dong, mau kenalan sama Istri kamu, kamu tidak undang aku waktu nikah jadi aku tidak tahu siapa Istri kamu sampai detik ini,” ucapnya.


     Wanita itu menyalahkan Zefa karena menurutnya Zefa adalah alasan kenapa sampai bisa Primus memutuskan hubungan mereka padahal Primus memilih Zefa setelah mereka putus hubungan selama setahun namun karena primus masih sangat bersikap baik dengannya jadi dia salah tangkap.


     Karin berpikir jika hubungan mereka masih bisa terajut kembali dengan baik karena sikap Primus yang dirasa tidak berbeda untuknya padahal pria itu hanya berusaha bersikap baik dan tidak ingin menyakiti hatinya saja.


     “Iya gua ingat sekarang,” jawab Kalina malas lalu berdiri, “kita pergi aja dari sini, males banget gua liat cewek itu,” timpalnya ajak Zefa tidak memperhatikan suami serta temannya tersebut.


     Sambil berdiri Zefa menjawab, “Emm, gua juga malas, pasti ribut kalau ketemu dia, rame nanti dan yang ada bikin malu aja.”


     Dua wanita itu masuk ke toko yang ada tepat di belakang mereka, mata Primus melihat itu. Primus bisa menerka apa yang akan terjadi bila Karin bertemu Zefa tidak ingin mereka bertemu. Pria itu mencoba menolak namun Karin tetap memaksa.

__ADS_1


     Primus tidak bisa lagi menahan Kalina, wanita itu memang sangat keras kepala. Hal itu juga salah satunya yang membuat Primus memutuskan tidak bisa lagi berhubungan dengan wanita itu. Selain keras kepala Karin juga tidak mau mendengar masukan dari siapapun termasuk dirinya.


     Karin sangat egois, dia melakukan apa saja yang dia mau walau itu salah. ‘Oke, sepertinya dia memang sangat tidak ingin aku tahu siapa Istrinya itu, tapi itu malah buat aku sangat penasaran siapa dan kenapa Mas Primus sepertinya sangat menyembunyikan dia dari aku,’ batinnya.


     Karin memberikan senyum manisnya yang dulu selalu bisa membuat Primus luluh, dia mendekat dan berkata, “Ya sudah Mas, kalau kamu tidak mau kenalin aku pamit.’


     Merasa tidak enak hati akhirnya pria itu meminta maaf, “Iya maaf yah Rin, mungkin lain waktu,” ucapnya yang hanya direspon anggukan kepala, “aku pamit yah Rin, kamu hati-hati,’ timpalnya lalu meninggalkan Karin.


     Primus pergi tanpa menoleh, pria itu menyusul Zefa dan Kalina tanpa sadar jika Karin mengikutinya. Primus menghampiri Istrinya juga Kalina yang sedang melihat-lihat barang di toko tersebut. Dua wanita itu tidak membahas pertemuan Primus dengan Karin karena mereka malas.


     Mereka berlagak tidak tahu pertemuan itu karena hanya akan membuat mood keduanya jadi buruk. Primus bergabung, Zefa ajak suaminya itu ikut memilih satu untuk dirinya walau enggan namun akhirnya dia melakukannya karena paksaan Zefa.


     Ketika Kalina menjauh dan pasangan itu sedang asik memilih tanpa sadar ada satu tatapan yang fokus melihat kedekatan mereka.


     ‘Ternyata dia berhasil juga mendapatkan amu Mas pantas saja kamu tidak mau undang dan mengenalkan siapa pasangan kamu sama aku,’ geram Karin berkata dalam hatinya.


     Karin terus melihat lalu perlahan mendekat, ada rasa yang sangat tidak terima dalam diri wanita itu saat melihat kemesraan Primus dengan Zefa. Karin terus mendekat, wanita itu mengikuti langkah Zefa dan Primus tanpa diketahui mereka..


     Wanita itu terkejut ketika ada pukulan lembut di bahunya seraya terdengar kata, “Ngapain, menguntit!”


     Karin balik badan, tatapan langsung nanar tertuju pada wanita yang sudah menepuk bahunya itu, “Jangan asal ngomong lo!” Tandasnya.


     Smirk terlihat di sudut bibir Kalina,  tatap serta raut wajahnya jijik melihat Karin, “Gua gak asal, tapi fakta kan!”

__ADS_1


     Mendapat sindiran seperti itu sontak saja membuat Karin yang saat ini memang sedang sedikit panas melihat kedekatan Zefa dan Primus semakin panas. Karin mendorong tubuh Kalina seraya berucap, “Terus kenapa, masalah sama lo!”


__ADS_2