
Zefa sedikit enggan untuk menjawab sambungan itu karena dia tidak mengenali nomor tersebut. “Paling malas aku dapat telepon seperti ini,” keluhnya lalu meletakkan ponsel tersebut di atas meja kemudian ditinggal. Ia pergi ke kamar mengambil sesuatu yang tertinggal.
Zefa mengabaikan telepon yang beberapa kali berbunyi. Wanita itu menghubungi salah satu temannya karena memang sudah berjanji akan pergi bersama Zefa. Menunggu beberapa menit tidak membuatnya bosan sebab ia membuka media sosial yang memang sudah beberapa lama tidak dilihat..
“Emm, ternyata tidak ada juga,” ucapnya ketika tidak ada yang mengirim pesan melalui media sosial miliknya, “kemana dia, apa dia benar-benar marah sama aku?” ucapnya lagi.
Hela nafas dilakukan, dia melihat pesan yang baru saja masuk. “Sebenarnya malas banget aku datang, tapi kalau nanti dapat yang gak datang malah di masukin lagi, sayang kalau memang hari ini aku dapat,’ ucapnya malas.
Dua puluh menit berlalu, Zefa melihat ada kendaraan yang berhenti di depan gerbang rumahnya. Zefa berpikir kalau itu mungkin temannya namun dia berpikir kembali, “Sepertinya bukan, tadi Karlina bilang kan dia mau bawa motor bukan mobil,” katanya dengan raut wajah yang terlihat sedikit berpikir.
Zefa pergi untuk memastikan siapa yang datang, dirinya menunggu sampai pintu kendaraan tersebut terbuka lalu keluar sosok yang membuat raut wajahnya tidak ramah. Lala keluar dengan wajahnya yang selalu tidak ramah pada Zefa dan ternyata seperti biasa ia tidak sendiri.
“Halo Mbak tercinta,” sindirnya, “kayaknya lagi nunggu seseorang, lelaki kah?” kembali dia memberikan sindiran dengan nada dan raut wajah ketus sementara itu mama Rita baru saja keluar dengan di bantu Lala sedikit.
“Mah,” sapanya pada mama mertua dan dia mengabaikan tegur sapa dari Lala yang membuat dirinya tidak ingin menyambut kedatangan mereka.
“Emm,” sahut singkat mama Rita, “kamu mau pergi?” tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam dan sangat tidak ramah. Mata besarnya yang juga dibuat sangat tajam melihat penampilan Zefa dari ujung kaki sampai wajahnya.
Zefa sangat malas melihat tatapan mertuanya itu yang sangat menjengkelkan, dalam benaknya Zefa terus menguatkan diri agar bersabar dengan apa yang akan mereka ucapkan dan juga apa yang akan terjadi kedepan beberapa menit lagi.
“Iya Mah, aku ada arisan sama teman-temanku,” jawabnya yang masih berusaha bersikap ramah.
“Yakin sama teman-teman bukan sama lelaki selingkuhan kamu!”
__ADS_1
Mata Zefa langsung menatap tajam namun tatapannya langsung dikatakan tidak baik olah Lala. Wanita itu tidak suka dengan tatapan Zefa kepadanya. “Kenapa, gak suka, jangan lihat aku seperti itu … percuma aku gak takut.”
“La, kamu bisa tidak menghormati aku sebagai Kakak ipar kamu, jaga kata-kata kamu!”
Lala tertawa mengejek, “Apa! Gak salah kamu minta aku menghormati kamu lalu apa yang kamu lakukan pada Kakakku, apa kamu menghormatinya sebagai Suami!” ketus Lala yang tidak mau kalah.
Zefa hanya bisa menghela nafas, dia tidak ingin urusan seperti ini menjadi panjang. Zefa menoleh ke mama Rita dan meminta agar beliau membantu supaya Lala bisa sedikit menghormatinya tetapi apa yang diharapkan ternyata berbanding terbalik.
Senyum menyeringai terlihat dan Zefa melihatnya sedikit ngeri, “Maaf tapi Mama tidak akan melakukan itu dan kamu tau apa alasannya?”
“Mah, sudahlah … aku tidak mau seperti ini terus, aku tidak melakukan apa-apa pada Mas Primus,” tuturnya, “dan setiap aku pergi Mas Primus selalu tahu kemana saja juga dengan siapa saja,” timpalnya.
“Iya, kamu memang selalu bilang padanya tapi apa kamu juga bilang kalau kenyataannya kamu tidak selalu berkata jujur sama Suamimu itu!”
“Tau! Mbak sudah sering berselingkuh dari Kakakku!” tuduh Lala membuat Zefa geram.
“Lala! Jaga bicaramu, aku tidak pernah melakukan itu!”
“Jangan bohong!” Sela sang mertua membuat Zefa mengendus kesal, “kamu pikir kami tidak tahu, kamu bisa saja membohongi Primus tapi tidak kami Ze,” timpalnya yang juga sudah bernada tinggi, “aku tidak rela anakku diperlakukan seperti itu sama kamu,” katanya lagi dengan nada tinggi.
“Mah!” Seru Zefa dengan emosi yang sudah semakin tinggi dibuat kedua orang kesayangan suaminya tersebut. Ingin sekali Zefa mengeluarkan kata-kata kasar namun ternyata Tuhan melarangnya dengan mendatangkan Kalina tepat waktu.
PIM PIM
__ADS_1
Terdengar suara klakson motor seiring masuknya benda besar tersebut ke halaman rumah dan berhenti tidak jauh dari Zefa. Seketika mereka diam, Lala pasang wajah sangat tidak ramah pada Kalina begitu pula dengan mama Rita.
Hela nafas panjang terdengar, Zefa merasa sedikit tenang ketika Kalina datang. Seketika emosinya sedikit turun. “Mah, maaf aku harus pergi,” pamit Zefa pada Rita lalu mendekat padanya kemudian meraih tangan untuk menyalami.
Rita membiarkannya namun dengan tatapn dingin dan terlihat jelas wanita itu tidak rela memberikan restu serta doanya pada Zefa namun ia tidak peduli. Zefa tetap jalan dengan temannya, sesaat setelah Kalina pamit tanpa menjawab Rita juga Lala pergi.
Keluar dari rumah Zefa laju kendaraan itu sedikit diperlambat oleh Kalina. Wanita tersebut bertanya ada apa dengan dua wanita yang ada di rumah Zefa, kenapa mereka bersikap sangat tidak ramah.
“Sudahlah Lin, gua gak mau bahas mereka,” balas Zefa kesal.
“Ok, tapi asli gua penasaran aja, gak mungkin mereka tamu sebab jika iya tamu gak akan bersikap seperti tadi, jutek bin judes,” sahutnya yang sudah pasti kesal dengan sikap Lala juga Rita.
“Mereka Mertua dan Adik ipar gua.”
“WHAT!”
Selama perjalanan Zefa berusaha membuat moodnya kembali normal, datang ke arisan itu memang tidak terlalu diinginkan Zefa sebab dirinya akan bertemu beberapa teman yang sangat menyebalkan. Mereka sombong dan sering menyindir juga menjatuhkan teman yang lain.
Kata-kata pedas selalu keluar dari bibir mereka dan Zefa bisa dibilang adalah musuh besar bagi mereka sebab wanita itu selalu membalas semua kata jahat dari orang-orang seperti itu dimanapun dia berada.
Zefa dan Kalina datang sedikit terlambat, arisan itu diadakan di sebuah rumah makan. Mereka booking satu ruangan khusus untuk acara tersebut, satu ruangan yang cukup besar. Kedua wanita itu memang sengaja datang terlambat karena mereka tidak ingin mendengar sambutan-sambutan yang gak penting menurut keduanya.
Ternyata kedatangan mereka membuat semua mata tertuju fokus membuat baik Zefa dan Kalina merasa sedikit heran. “Kenapa mereka, kok kayak kita yang paling ditunggu?” tanya Kalina di sela mereka jalan mendekat.
__ADS_1
“Tau, perasaan gua gak enak nih,” sahutnya membuat Kalina menoleh dan mengangguk pelan tanda dirinya sependapat dengan Zefa.