P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
AKHRINYA


__ADS_3

     Mereka mulai atur posisi, Zefa dengan senyum manisnya membuat gairah tubuh Dirga yang tadi sangat bergejolak tidak beraturan kii bergejolak dengan tenang melihat senyum itu. Perlahan dengan tatapan dalam Zefa mulai melakukan aksinya membuat Dirga kembali bergairah agar bisa mengeluarkan hasratnya.


     Desah pelan pria itu terdengar setelah beberapa saat Zefa melakukan sentuhan pada bagian tubuh Dirga yang sudah mengeras dan siap untuk mengeluarkan tembakannya. Ternyata Zefa sangat lihai memberikan rasa di bagian inti tubuh Dirga.


     Pria itu dibuat terus mendesah, matanya terpejam menikmati rasa nikmat yang luar biasa. Jari-jari besarnya memasuki sela rambut basah Zefa kini, terkadang dia meremas gemas saat merasa jika sentuhan serta gerak yang dilakukan Zefa membuat hasratnya naik pesat.


     “Damn Ze!” Teriak Dirga seraya meremas semakin kuat namun masih bisa di kontrol.


     “Emm,” gumam Zefa yang semakin cepat membuat cairan yang ada di batang pistol Dirga semakin meruncing ke bagian atas.


     “Akh!” terdengar teriakan pria itu sambil mengangkat wajah Zefa.


     Hanya sepersekian detik ketika wajah cantik itu terangkat, satu tembakan kuat terjadi yang membuat peluru berhamburan keluar. Zefa menghela nafas lega seraya menghapus beberapa cairan yang ada di bagian wajahnya.


     Erang DIrga terdengar membuat Zefa tersenyum senang walau dia tidak bisa memberikan kepuasan seutuhnya malam ini namun dirinya tetap merasa senang melihat Dirga yang mengerang nikmat karena sudah mencapai nikmat.


     Keduanya diam sesaat, mereka mencoba untuk mengatur nafas masing-masing. Zefa meraih handuk saat sudah merasa nafasnya sedikit teratur. Dirga melihat wajah manis itu, wajah yang semakin membuatnya terus memikirkan wanita itu.


     “Ze,” tegur halus Dirga setelah mereka menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk, “sini,” pintanya agar wanita itu duduk di sisinya.


     “Kenapa Mas?”


     Dirga hanya tersenyum lalu dia memeluk Zefa dengan hangat. Zefa diam, dia menikmati kehangatan tubuh sertarasa pria yang sedang mendekapnya erat itu. Bel berbunyi beberapa kali, Primus yang saat itu sudah pulang dari urusannya dengan malas beranjak dari tempatnya saat ini.

__ADS_1


     Dia mengeluh malas untuk membuka pintu karena memang baru saja dia ingin beristirahat, tidak mungkin Zefa karena dia memiliki kunci rumah sama seperti dirinya. Mereka memang pegang kunci rumah masing-masing.


     Hal itu mereka lakukan agar satu sama lain tidak mengganggu pasangan nya jika mereka pulang malam dan pasangan mereka sudah beristirahat. Sampai di lantai dasar Primus melihat jam dinding dan saat ini hari sudah cukup malam.


     “Siapa sih,, sudah jam segini masih saja bertamu,” gerutu Primus.


     Lampu dinyalakan kembali, Primus membuka pintu dan matanya yang tadi lelah ini membulat sempurna saat melihat ternyata mamanya yang ada di depan pintu. ‘Mamah!’ Seru Primus dalam benaknya.


     “Mamah! Kok datang malam-malam gini, ada apa?” tanya Primus heran.


     “Apa kamu tidak nyuruh Mama masuk dulu!” Tukas wanita yang sudah melahirkan Primus.


     Primus terkejut dan bingung karena kedatangan mamanya yang tiba-tiba jadi buat dia sedikit ngeblank. Sedikit terbata dia mempersilahkan mamanya masuk, “Oh iya Mah maaf, soalnya aku kaget tiba-tiba mama datang,” jawabnya.


     Wanita itu tidak langsung menjawab, beliau clingak clinguk dan malah mempertanyakan keberadaan Zefa mantunya. Beliau bertanya apa Zefa sudah tidur atau mungkin wanita itu memang belum pulang.


     “Kenapa diam, kenapa dia dan jangan coba-coba kamu berbohong sama Mama!” Ancam wanita paruh baya tersebut.


     “Mah, sudahlah. Aku sudah bilang ratusan kali kalau Mama jangan seperti ini,” jawab Primus dengan raut wajah malas.


     “Gak bisa, Mamah tidak mau kamu terus membiarkan wanita itu bergerak terlalu bebas, kamu juga sebagai laki-laki jangan lemah Prim, jangan takut sama Istri kamu itu,” dengan nada tinggi.


     “Mah!” Keluh Primus yang malas mendengar ucapan mamanya karena terus berputar selama bertahun-tahun.

__ADS_1


     “Dengar mamah, kamu laki-laki, jangan biarkan Istri kamu terlalu bebas, kamu memangnya tidak pernah mendengar ucapan buruk tetangga mengenai Istri kamu itu,” tukasnya, “dan satu lagi, Mamah sama Adik kamu sudah mengatakan tarusan kali juga mengenai kelakuan Istri kamu yang sangat kamu sayangi itu tapi kamu tidak pernah mau dengar,” timpalnya, “istri kamu itu selingkuhi kamu Prim, kenapa sih kamu tidak bisa merasakan itu!”


     “Mah, sudahlah aku mohon,’ pinta Primus dengan amat sangat lalu beranjak dari  duduknya, “kita sudah sering membahas ini dan kalaupun itu benar itu urusan rumah tangga kami Mah dan sudah ratusan kali juga aku meminta agar mama tidak terlalu jauh dalam keluarga kecilku,” kembali dia berkata seperti meminta dengan sangat.


     “PRIMUS! Mamah melakukan ini karena Mamah tidak ingin melihat kamu hancur karena wanita itu, sampai saat ini Mamah masih tidak tau kenapa kamu bisa sangat mencintai wanita seperti itu.


     Primus menghela nafas, dia coba untuk menahan emosi menghadapi sikap Mamanya. Pria itu balik badan kemudian meminta jia obrolan itu mereka hentikan, Primus mau mereka menghentikan bahasan mengenai Zefa karena tidak akan pernah ada titik temu didalamnya.


     Tatap tajam dengan rasa marah terlihat, wanita itu menyimpan marah yang cukup besar untuk anak yang dianggapnya sudah tidak pernah mendengar segala ucapannya tersebut. Dengan rasa geram wanita itu pamit dan dia berkata kalau apa yang diucapkannya nanti adalah nyata maka Primus jangan pernah menyesal.


     Jantung Primus terasa berhenti untuk beberapa saat, dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya namun tidak mengerti apa itu. Primus merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya setelah beberapa kata keluar dari mulut mamanya.


     “Ya ampun Mah,” keluh Primus setelah dia menutup pintu dan melihat mamanya pergi dengan kendaraannya yang juga membawanya ke tempat itu, “kenapa selalu seperti ini,” keluhnya yang sangat menyayangkan kejadian seperti ini selalu terjadi di sela rumah tangganya.


     Pria itu melempar tubuhnya duduk bersandar,  berpikir sejenak kembali memikirkan semua kata yang diucapkan mamanya tadi. “Sedikitpun aku tidak pernah ada rasa atau apapun itu yang membuat aku kepikiran kalau Zefa selingkuh,” ucapnya.


     Primus memutar kembali otaknya ke beberapa tahun yang lalu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menikahi Zefa. Dia memutar kembali kenangannya bersama Zefa di setiap harinya selama menjalani hidup dengan wanita itu.


     “Yah, tidak ada, dia tidak pernah memperlihatkan kejanggalan apapun selama kami bersama, aku ingat betul semuanya,” kembali dia berkata  setelah mengingat beberapa kenangan kecilnya.


     Hela nafas panjang dilakukan, Primus merasa cukup mengingat juga merasa tidak perlu memikirkan semua ucapan  mamanya tadi. Mungkin mamanya berkata seperti itu karena memang sejak pertama beliau tidak pernah menyetujui pernikahannya dengan Zefa. Baru dia akan beranjak tiba-tiba ponselnya bergetar.


     Ada yang mengirim voice note dari nomor yang tidak dikenal, pria itu langsung membukanya dan matanya membesar saat mendengar apa yang dikatakan oleh pengirim misterius tersebut.

__ADS_1


__ADS_2