
Dirga dan Raka yang saling tatap seolah bicara dengan bahasa isyarat melalui matanya. Mereka seolah berkata sial karena mereka sudah bisa berbohong pada dua wanita itu. Dirga bersikap biasa ketika baru saja bergabung dengan mereka.
Zefa berusaha bersikap biasa didepan semua namun sesekali dia tampak gugup saat matanya dan Dirga bertemu. Primus tidak melihat sedikit kejanggalan itu pada istrinya karena dia tidak memiliki kecurigaan sedikitpun pada Dirga sebab pria itu adalah suami dari teman baiknya.
Mereka ngobrol seperti biasa namun lama kelamaan Dirga tidak tahan saat mulai melihat Primus dan Zefa yang mulai terlihat mesra. Sesekali dia palingkan wajah jika melihat canda mesranya primus pada Zefa, pria itu merasa ada amarah yang muncul.
“Kalian jangan mesra-mesraan di depan gua sih, bikin bete aja,” gerutu Kalina dengan raut wajah yang ditekuk.
“Kamu kenapa sih Lin, mereka kan Suami Istri jadi biarkanlah,” timpal Raka yang buat Dirga menggerutu dalam hati, Dirga memencak Raka karena ucapannya itu, ‘Sial si Raka, dia berlagak gak tau apa emang sengaja mau bikin gua marah, dasar!’
“Iya aku tau, tapi gak harus gitu juga kali,” keluh Kalina kesal.
“Kamu Lin, kayak baru liat saja aku sama Zefa seperti ini,” ujar Primus yang lalu merangkul manja sang istri.
Dada Dirga terasa sesak, suhu tubuhnya memanas. Pria itu merasa kalau dia tidak bisa berlama-lama melihat wanita yang saat ini berada dalam tahta kedua di hatinya mesra dengan pria lain walau dia tahu jika itu adalah suaminya.
Dirga menggeser duduknya sedikit lalu menggerakkan kaki untuk menyentuh kakinya Raka. Beberapa kali dia melakukan itu namun Raka malah dengan sengaja hanya meliriknya lalu tertawa tipis. Melihat reaksi Raka yang dengan sengaja cuekin dirinya membuat Dirga meradang.
‘Sial, sengaja lagi dia. Gua lupa kalau otaknya lagi gak beres apalagi di depannya ada si Kalina, rese juga nih anak,’ kesal benak Dirga berkata.
Dirga berdiri seraya berkata, “Ga, jadi mau pergi gak, soalnya kalau nggak gua mau balik duluan,” ujar Dirga yang seperti sebuah peringatan untuk Raka dan temannya itu sangat peka.
Hela nafas dilakukan seakan dia menjawab jika dirinya malas mengikuti Dirga tetapi dia tidak bisa apa-apa kali ini karena tadi memang dirinya yang minta di temani. “Oke Brother oke, padahal gua masih mau disini mumpung Kalina sudah jinak,” jawabnya dengan wajah cemberut dan bibir yang dibuat sedikit maju.
__ADS_1
Kalina tertawa mendengar jawaban Raka lalu dia membalas, “Sudah tenang, tadikan aku sudah bilang kalau aku akan hubungi kamu setelh semua urusanku selesai.”
“Iya tapi lama, kamu tega banget sih sama aku Lin,” rengeknya.
Dirga kesal dengan sikap manja yang diperlihatkan Raka untuk Kalina, sok imut di depan cewek itu buat Dirga muak melihatnya. Malas terus melihat itu akhirnya Dirga menarik kerah baju Raka dan memintanya untuk pergi saat ini juga.
Sambil pamit Dirga terus menarik temannya yang sedang bucin tersebut, dia tidak memperdulikan Raka yang terus berteriak minta dilepaskan. Kalina serta dua temannya tertawa melihat itu.
Sampai di parkiran Dirga mendorong tubuh Raka dan menatapnya tajam. Raka membalas dengan tatapan malas karena dia tahu apa yang akan dikatakan Dirga padanya. Sebelum Dirga berkata-kata Raka sudah mulai lebih dulu berucap, “Udahlah Ga, gua tahu kok lo mau bilang apa.”
“Lo parah yah, udah bikin gua kesal didiemin malah makin-makin lo Ka,” tukasnya.
“Iya, pokoknya gua minta maaf sama lo, udah kita pergi sekarang!” tukasnya.
Raka tertawa, dia mengatakan kalau Dirga lucu karena temannya itu bodoh. “Baru kali ini lo main dan suka sama cewek yang udah punya pasangan, lo kan tau apa resikonya?”
“Udah jangan ceramahin gua, jelas lah gua udah tau tapi lo tau juga kan kalau perasaan
tidak bisa dibohongi,” jawabnya, “lo juga nih, kenapa jadi oon sih, geli gua liat lo tadi didepan Kalina, jaga sikap sih,” ocehnya.
Raka tertawa karena dia sadar bagaimana dirinya tadi dan ketika dia mengingat sikapnya tadi membuat dia ngakak sendiri. Raka minta Dirga jangan ingatkan dia dengan kejadian tadi sebab dia juga merasa geli dengan dirinya sendiri.
Baru saja mereka masuk ke mobil raka melihat Kalina dan Zefa juga Primus keluar dari tempat itu. Raka meminta agar Dirga menunggu mereka jalan bahkan dia minta pada Dirga agar mengikuti Kalina.
__ADS_1
Dirga menolak sebab dia tidak mau melihat Zefa dan Primus. Jujur pada Raka, dia mengatakan kalau dirinya sangat cemburu melihat kedekatan mereka. Dia mengatakan kalau ingin sekali dirinya menarik lengan Zefa dan menjauhkan wanita itu dari Primus.
“Yaudah, sekarang kita hilangkan semua rasa yang ada, yang bikin kesal, marah apapun itu, kita ke tempat gua, oke!”
“Masih sore, gua laper juga nih,” sahutnya kesal.
“Sore juga tempat gua lo tau sendiri, sudah ramai Mas Bro,” balasnya, “makanlah kalau lapar,” ketus kembali dia menjawab.
“Di tempat lo yah, inget yang ngajak gua itu elo jadi gua bisa makan sepuasnya kan terus juga gua bisa melakukan apa aja di sana, deal!”
Raka terkejut, “Wah … wah … parah lo,” serunya, “ini sih bukannya temen, pemerasan ini namanya,” dengan bergurau dia berkata.
Dirga tertawa, dia tidak mau tahu. Akhirnya mereka menghentikan niat untuk mengikuti mobil di depan mereka. Dirga putar balik menuju tempat Raka dan mereka akan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.
Hampir dua jam Primus menemani dua wanita itu berbelanja, di tengah shopping Zefa sempat berkata jika saat ini semua barang yang akan mereka beli juga pengeluaran lainnya pakai uang Kalina. Semua dilakukan agar Primus tidak curiga.
Zefa akan ganti transfer nanti. Primus terus menggelengkan kepala dan hela nafas melihat banyaknya yang dua wanita itu beli. Primus melihat berbeda Zefa, dia melihat Zefa terlihat sangat bahagia. Dia terlihat sangat bebas dan tidak memiliki beban hidup.
‘Zefa terlihat senang sekali, aku senang tapi aku juga sedih,’ ucapnya.
Primus terus memperhatikan istrinya selama mereka jalan, pria itu sedih karena tidak bisa membuat Zefa senang seperti saat ini. Primus memang bisa membuatnya bahagia namun dia tidak pernah melihat Zefa sebahagia ini.
Primus tahu jika Zefa suka sekali jalan, bebas seperti saat ini walau dia tidak bisa memberikan terus menerus apa yang bisa membuat istrinya itu bahagia karena terus memperhatikan Zefa akhirnya tanpa sadar Primus menabrak seseorang.
__ADS_1
“Akh!” Suara pekik terdengar, “Kamu jalan bagaimana sih!” Sentaknya dengan tatapan nanar pada Primus.