P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
PESAN BIKIN RESAH


__ADS_3

     Mereka bicara cukup serius sampai tidak sadar jika Primus datang dan tanpa sengaja menjatuhkan panci yang terbuat dari stainless. Suara keras terdengar membuat bukan hanya dua karyawan itu saja yang terkejut tetapi beberapa yang lain juga.


     Salah satu dari mereka mendekati Primus lalu membantu pria yang sedang tidak baik-baik saja tersebut. “Biar aku bantu Mas,’ ucapnya.


     “Makasih ya Man,” jawab Primus lemas.


     “Iya, kalau Mas sedang tidak sehat sebaiknya istirahat atau pulang saja, nanti di sini biar aku yang handle,” balasnya.


     Hela halus dilakukan Primus, dia sadar kalau sepertinya dirinya memang memerlukan hal itu. Akhirnya Primus mengikuti saran dari salah satu pegawai kepercayaannya tersebut. Primus pamit, dia memilih kembali namun tidak saat ini.


     Primus akan kembali saat jam makan siang sudah berakhir karena dari jam sebelas sampai pukul satu siang tempatnya akan ramai. Tidak mungkin dia meninggalkannya saat jam sibuk. Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, dia akan menyelesaikannya.


     Di jam sibuk Primus bisa melupakan hal yang membuatnya kacau hari ini. Pria itu sebisa mungkin buat dirinya sibuk memang, agar dia bisa menghentikan otaknya yang terus kepikiran siapa lelaki itu.


     Melihat pengunjung sudah mulai sepi Primus pamit, dengan wajah lemas dia melangkah keluar. Siap Primus hari ini menjadi bahan obrolan seluruh karyawannya. Sama sekali pria itu tidak menghubungi Zefa mengenai kepulangannya yang lebih cepat.


     Di rumah Zefa sedikit bingung dengan uang pemberian dari Dirga, uang itu baginya cukup banyak karena dia bisa mendapatkan uang dengan sejumlah itu sekitar beberapa kali uang bulanannya.


     “Mau aku apakan ini uang, jujur aku sangat senang tapi bingung juga punya uang jajan sebanyak ini,” tuturnya senyum-senyum sendiri melihat isi rekening pribadinya.


      Ponsel berbunyi, Kalina menghubungi dan Zefa langsung menjawab karena pas banget dia sedang butuh teman curhat. “Pas banget sih Lin lo telepon,” ucapnya senang.


     “Iya lah, gua terpasti tahu kalau saat ini lo butuh gua, Kalina gitu loh,” sahutnya bangga, “ada apa memangnya sih cantik?” tanya Kalina selanjutnya.

__ADS_1


     Zefa menceritakan kebingungannya. Kalina terkejut mendengar cerita Zefa namun dia juga tertawa karena merasa  lucu. Zefa selama ini selalu ingin memiliki uang lebih agar dirinya bisa membeli apapun yang disuka karena selama ini uang yang diberikan Primus tidak cukup untuk biaya pribadi dirinya.


      Selama ini Primus memang selalu memberikan uang rutin dan uang lebih jika Zefa meminta namun tidak selalu dia memberikan untuk keperluan pribadinya. Zefa masih harus mencari uang sendiri jika dirinya menginginkan sesuatu dengan harga yang cukup besar.


     Tidak jarang Zefa harus pakai uangnya sendiri jika ingin bepergian dengan teman  atau keluarganya. Selama ini Primus memang bekerja keras namun semua uang yang dihasilkan masih hanya bisa terus berputar dalam lingkungan usahanya.


     Membayar gaji karyawan, kebutuhan resto dan yang lain juga kebutuhan rumahnya perbulan. Makan serta sedikit kebutuhan lain dalam rumah tangga. “Iya juga sih, tapi jujur gua bingung, banyak yang gua mau tapi …,” ucapnya.


     “Gimana kalau kita healing beberapa hari,” ide Kalina yang membuat wajah Zefa sumringah.


     “SETUJU!” sahutnya penuh semangat.


     “Langsung setuju aja, inget punya Suami Bu!” Ejek Kalina.


     Zefa tertawa, dia memang melupakan suaminya tadi karena bahagia dapat uang banyak. Kalina ajak mereka untuk bertemu jika Zefa tidak ada acara dan wanita itu langsung menjawab cepat jika dia bisa saat ini juga jika memang mau.


     “Emm, masak dan semuanya sudah,” ucapnya sambil melihat hasil kerjanya, “ok, sekarang tinggal mandi dan siap-siap,” timpalnya dengan hati yang gembira. Zefa tidak mengerti kenapa dia bisa sesenang ini padahal sejak kemarin dirinya sudah berniat untuk tidak keluar rumah hari ini.


     Selesai mandi dia terkejut karena melihat Primus terbaring di atas tempat tidur. ‘Tumben, apa Mas Primus sedang tidak enak badan, lalu rencanaku bagaimana!’ batinnya yang bingung sendiri tiba-tiba suaminya pulang.


     Perlahan Zefa mendekat, ia melihat Primus memejamkan kedua matanya dan bernafas tenang. Beberapa detik dia memastikan apa Primus tidur atau hanya memejamkan mata saja, tangannya dibuat bergerak depan mata Primus dan pria itu memang tidak bergerak sama sekali.


     “Mas, apa kamu tidur?” tanya Zefa pelan.

__ADS_1


     “Emm,” gumamnya lalu perlahan Zefa melihat kedua matanya terbuka.


     Zefa duduk di sisi Primus, memeriksa suhu tubuhnya yang dirasa tidak ada masalah sama sekali. “Apa kamu baik-baik saja Mas?” tanya Zefa sedikit cemas, “kenapa kamu pulang cepat?”


     “Emm,” kembali hanya itu yang keluar dari mulutnya, “aku sedang gak mood, gak enak hati, malas, apa kamu ada waktu?” timpalnya.


     Zefa menghela nafas lega karena ternyata apa yang ada dalam kepalanya tidak terjadi, wanita itu sempat berpikir tadi kalau Primus sakit. “Tadi memang niatnya aku ingin di rumah saja Mas, tapi …,” jawabnya yang terlihat ragu untuk melanjutkan cerita.


     “Tapi apa?”


     Zefa mengatakan jika tadi Kalina menghubunginya dan meminta dia untuk menemani wanita itu. Otak Primus langsung berputar, dia berpikir apa mungkin yang dikatakan Zefa benar. Apa dia memang ingin bertemu Kalina atau dia dengan pria lain, pria yang tadi dilihatnya dalam foto.


     Primus menjadi curiga dengan istrinya, rasa yang selama ini tidak pernah muncul bahkan tidak pernah ada dalam pikirannya jika dia bisa merasa seperti itu pada Zefa tetapi karena dua kali dia menerima pesan singkat dari orang yang tidak dikenal itu kini rasa tersebut muncul.


     Ada kecurigaan kalau istrinya bisa jadi berbohong, ada sedikit ketakutan dalam dirinya. Pikiran Primus berkecamuk, pria itu berperang melawan dirinya sendiri sampai-sampai membuat dia diam mematung karena segala pikirannya itu.


     “Mas, apa kamu baik-baik saja, kok malah bengong sih?” tanya Zefa yang membuat lamunan Primus buyar.


     “Emm, iya maaf tadi emang bengong sedikit, tanya apa kamu tadi?” tanya ulang Primus karena tidak mendengar pertanyaan Zefa tadi.


     Zefa enggan kembali berucap, dia mengatakan apa Primus memberinya izin untuk pergi saat ini karena ia sudah janjian di satu tempat setengah jam lagi. Jawaban Primus membuat Zefa terkejut sebab tidak biasanya Primus melakukan itu.


     Primus mengatakan jika dirinya mau ikut Zefa bertemu dengan Kalina dan itu bukanlah Primus sama sekali. Primus selama mereka berpacaran sampai saat ini sudah menikah beberapa tahun jarang sekali mau diajak oleh Zefa pergi bersamanya.

__ADS_1


     Pria itu lebih memilih bekerja dan bekerja walau hasilnya belum kelihatan banget sampai detik ini. “Kamu yakin Mas mau ikut, tumben,” balasnya heran, “kenapa?” timpalnya dengan tatap penuh selidik.


     “Aku mencurigai sesuatu,”  jawabnya buat dua mata indah Zefa membulat sempurna.


__ADS_2