P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
MERASA PANAS


__ADS_3

     Gerakan yang sengaja dibuat awal perlahan oleh Dirga membuat Zefa merasa ada desir halus yang masuk lalu menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Zefa tidak mungkin menolak sentuhan itu, sentuhan lembut yang membuat matanya terpejam dengan sendirinya karena menikmati rasa yang diberikan Dirga.


     Sentuhan itu membuat keduanya terbuai dalam sentuhan rasa, Dirga membuat perlahan tubuh Zefa terbaring tanpa melepaskan tautan yang sedang mereka lakukan. Dalam benaknya Dirga memuji balasan yang dilakukan Zefa, balasan kelembutan yang membuat hasratnya yang perlahan naik ingin segera muncul ke permukaan.


     ‘Sial, kenapa lembut dan balasannya langsung buat aku naik,’ batin Dirga sementara itu Zefa juga ternyata mempunyai kata-kata juga dalam hatinya.


      Wanita itu berkata, ‘Berbeda, sentuhannya berbeda dengan Mas Primus, kenapa aku langsung bergairah disentuh Dirga, tubuhku menerimanya bahkan meminta lebih.’


     Apa yang dikatakan Zefa dalam hatinya benar, tubuh Zefa menerima semua sentuhan yang dilakukan pria itu padanya. Zefa terbaring dan kini posisi Dirga  berada di atasnya, pria itu melepaskan tautannya dan kembali melemparkan pujian pada Zefa.


     “Kamu sangat cantik Ze, kamu membuat aku jadi ingin selalu dekat sama kamu,’ ucapnya dengan tatapan yang dalam.


     Wanita itu hanya tersenyum manis sebagai respon dan ucapan Dirga berhasil membuat wajah Zefa memerah. Tatapannya membuat Zefa membuang pandangan ke arah lain sebab dirinya tidak kuat bertatapan langsung dan berlama-lama dengan Dirga dalam jarak yang sangat dekat seperti saat ini.


     Perlahan Dirga kembali mendekat lalu melakukan sentuhan yang sama seperti tadi. Zefa kali ini sudah sedikit tidak merasa malu atau sungkan dan gerak yang dilakukan oleh Dirga kini membuat hasratnya berjalan cepat ke permukaan.


     “Emm,” gumam Zefa dan terkadang Dirga juga yang kini gumam yang menikmati itu kian sering terdengar. Hasrat yang kian muncul membuat tubuh mereka kini terasa sedikit panas. Pendingin ruangan yang sudah menyala seakan tidak berpengaruh banyak.


     Dirga mulai memainkan keahlianya dalam hal ***** *******, jerat lidah mulai dilakukan dan Zefa menerima semua sentuhan itu tanpa canggung bahkan wanita itu membalasnya dengan sangat lihat.


     Gerakan yang mereka lakukan membuat bukan hanya gumam yang sering terdengar kini tetapi keduanya sudah membuat suhu dalam tubuh mereka seketika meningkat sedikit cepat. Di lain tempat Lala dan mama Rita yang belum lama tiba di rumahnya langsung melempar tubuh mereka di atas sofa empuk.

__ADS_1


      “Kalau saja tadi ada bukti, Mamah pasti akan langsung berikan pada Kakakmu La,” ketus Rita.


     “Iya Mah, aku kesal deh, kenapa selalu saja kita tidak bisa membuktikan apa yang kita lihat, jadi percuma saja walaupun kita mengatakannya sebab Mas Primus hanya ingin bukti,” balasnya yang juga merasa sangat kesal.


     “Sampai detik ini Mama gak habis pikir kenapa bisa Kakak kamu kepincut dengan Zefa,” tuturnya lalu menghela nafas berat.


     “Iya Mah, beda jauh banget Mas Prius sama dia, berbanding terbalik dari semuanya,” sahut Lala.


     Bukan hanya mereka yang bingung ketika Primus memutuskan bahwa pria itu akan menikahi Zefa, para tetangga sekitar tempat tinggal Primus pun merasakan hal yang sama. Mereka berpikir seperti itu karena memang karakter keduanya yang sangat berbeda.


     Primus yang terkenal baik sedikit kalem seperti terbanting dengan Zefa yang dilihat dari penampilannya saja orang sudah tahu bagaimana dirinya. keluarga itu sempat menjadi bahan perbincangan orang di tempat tinggal mereka selama beberapa waktu karena hal tersebut.


     Sejak saat ini baik Lala juga mama Rita semakin tidak menyukai Zefa yang memang memiliki jiwa bebas dan santai. Primus merasa kalau dirinya cocok dengan Zefa, pria itu berpikir kalau wanita itu bisa menutupi kekurangan dirinya.


     Sementara itu pria yang sedang jadi bahan perbincangan keluarganya itu sedang asik menikmati harinya dengan bersenda gurau bersama teman-teman lamanya. Catur yang terus menggoda Milea membuat wanita itu ingin sekali melayangkan pukulan ke wajahnya.


     “Hei sudah lah, nanti ada yang marah kau buat Milea gerah seperti itu,” pinta Tegar di tengah kelakar Catur.


     “Siapa yang marah, Primus? kalau dia sih aku bodo amat,” guraunya dan kali ini Milea akhirnya berhasil juga memukul Catur karena rasa kesalnya yang selalu bicara sembarang.


     “Kamu tuh!” geram wanita itu sambil memukul membuat semua tertawa.

__ADS_1


     Primus mengatakan ucapan terima kasihnya pada teman mereka yang sudah mau datang saat ini, dia merasa senang dan beruntung masih bisa menjalin silaturahmi dengan semuanya termasuk Milea yang merespon semua kata-kata Primus seolah dia juga ingin mengatakan hal yang sama.


     Pria itu juga mau tidak mau harus pamit sebab dirinya dan Milea masih harus menemui orang lagi untuk masalah pekerjaan. Semua berdiri dan mengatakan jika mereka juga senang dengan pertemuan kali ini, mereka mengatakan jika semoga masih ada lain kali juga nanti akan lebih banyak lagi yang datang.


     Primus dan Milea pamit, mereka langsung meluncur untuk menemui kolega Primus yang Milea tidak tahu kali ini siapa. Selama perjalanan Milea terus kembali menceritakan kebersamaannya yang tadi bersama teman-teman mereka.


     Wanita itu mengatakan rasa senangnya dan kebetulan hari sudah semakin sore, Primus meluncur cepat agar mereka bisa kembali malam ini juga. Tempat yang akan mereka datangi bisa ditempuh sekitar satu jam perjalanan tetapi karena Dirga melaju cepat jadi mungkin bisa satu jam kurang.


     Hembus nafas panjang terdengar oleh Primus yang dilakukan Milea, dia melihat raut wajahnya yang kini berubah lemas. “Kenapa Mil?” akhirnya dia bertanya, “Dirga!”


     “Emm, dia masih belum juga buka ponselnya setelah terakhir kami saling chat tadi siang,” jawabnya.


     “Mungkin Dirga sedang berada di luar kantor, di proyek atau sedang meeting, jangan terlalu dipikirkan, kamu tau sendiri kan bagaimana pekerjaannya?”


     Kembali hembusan nafas terdengar kini dengan sedikit anggukan kepala Milea seraya menjawab, “Iya Mas.”


     Sebenarnya Primus juga sedikit cemas sebab Zefa juga sama, wanita itu masih belum juga menghubungi dirinya sejak tadi ia mengantar Fadil ke bandara namun pria itu berpikir jika mungkin istrinya tersebut langsung beristirahat atau main dengan temannya seperti biasa.


     Sementara itu kedua orang yang sama-sama sedang sudah membuat pasangannya merasa cemas karena masih juga belum memberi kabar ini sedang merasakan panas di tubuh mereka sebab darah keduanya yang kini mulai mendidih.


     “Aku gerah Ze,” tutur Dirga setelah dia melepaskan tautannya lalu sedikit menjauh untuk kemudian dia bergerak membuka satu persatu kancing kemejanya.

__ADS_1


     Dirga sengaja melihat Zefa tidak berkedip, dia ingin tau bagaimana reaksi wanita itu melihat dirinya membuka sebagian pakaiannya. Zefa perlahan menelan saliva secara halus lalu memalingkan wajahnya setelah matanya melihat dada bidang Dirga yang sangat menggoda.


     “Kamu tidak merasa panas juga Ze?”


__ADS_2