P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
MUSUH LAMA


__ADS_3

     Zefa  merasa jika dirinya dan Kalina menjadi pusat perhatian. Kedua wanita itu tidak tahu kenapa namun mereka sadar kalau pasti ada sesuatu mungkin saja ada yang membuat sesuatu terjadi.


     Zefa dan Kalina berusaha untuk tetap bersikap tenang namun keduanya tetap bersikap waspada. Temannya yang menjadi MC menyambut kedatangan mereka, sambutan hangat yang membuat keduanya menjadi pusat perhatian.


     “Selamat datang untuk kalian berdua,” sapa MC sambil menghampiri, “kalian sengaja yah datang terlambat?” tanya wanita tersebut.


     “Hai Vi, iya kita sengaja, memangnya kenapa!” Ketus Kalina.


     “Ya ampun Lin, masih begitu saja sama aku,  ya sudah kalian gabung saja sama yang lain,’ jawabnya kemudian melirik ke arah Zefa, “hai Ze, kok makin …,” timpalnya yang menggantung.


     Zefa mengerutkan kening mendengar ucapan Vika yang digantung sementara itu Kalina langsung menjawab, “Jangan suka cari masalah, minggir lo!” ancam Kalina seolah tahu jika Zefa akan dikerjai.


     Dengan wajah yang dibuat garang Kalina menggandeng Zefa kemudian mencari tempat untuk mereka bergabung dengan teman yang lain. Beberapa teman disapa, mereka mengabaikan ocehan Vika yang sudah membuat mereka bete saat baru datang.


     Untuk beberapa saat keadaan aman, semua mengikuti acara dengan sumringah dan Vika memandu dengan sangat baik sehingga acara tersebut tidak membosankan. Dirga sudah bertemu dengan Raka, mereka bertemu sebelum jam makan siang di satu tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Raka.


     Untuk kali ini Dirga mau mengalah dengan temannya tersebut karena dia ingin Raka menemani dirinya yang sedang galau. “Lo janji sama gua kan!”


     “Iya bawel, pokoknya hari ini gua yang tanggung semua,” jawaban Dirga yang terasa sedikit berat untuk dikatakan.


      Terdengar tawa puas Raka yang membuat Dirga sedikit kesal. “Rese loh,” keluhnya.


     “Bodo, yang ngajak lah yang harus tanggung jawab,” sahutnya.

__ADS_1


     Dirga rela yang penting Raka menemaninya sebab pria itu merasa jika hanya dia yang bisa membuat dirinya merasa lebih baik. Dirga mau melakukan hal tersebut juga karena Raka memang sangat sulit bertemu dengan teman-temannya termasuk dirinya sebab Raka merasa jika uang yang terpenting.


     “Kalo lo gak punya duit boro-boro lo diajak buat ngumpul atau ditemani, tapi kalau duit lo banyak asli mereka bakal datang dengan sendirinya tanpa lo minta,” ujarnya di satu kesempatan.


      Raka dan Dirga bertemu dan Raka ternyata sudah datang lebih dulu. Ada yang membuat dirinya tertarik, beberapa rombongan yang terlihat sedang menikmati acara terlihat sosok yang pria itu merasa kenal.


     Penasaran dengan sosok yang dilihatnya Raka mendekat, sebuah ruang aula yang cukup besar dengan dinding transparan membuat dirinya bisa dengan jelas melihat sosok wanita yang dicurigainya kenal.


     “Apa benar itu dia?” ucapnya semakin mendekat dengan tatap penuh selidik.


     Raka diam memperhatikan untuk memastikan, beberapa menit matanya fokus pada satu sosok yang diraka kenal. Mata besarnya semakin membesar ketika Raka yakin dengan penglihatannya. “Benar itu dia, Zefa … cewek mainnya si Dirga,” ucapnya.


     Seulas senyum terlihat di wajah Raka. Setelah merasa yakin dengan apa yang dilihat pria itu kembali ke tempat yang tadi sudah di booking. Minuman dipesan sambil menunggu Dirga yang masih juga belum datang setelah dia menunggu hampir setengah jam.


     Mereka kadang tertawa melihat tingkahnya juga kadang malu pada sikap wanita-wanita yang sedang dalam mode lupa sekeliling. Pria-pria itu memilih duduk di pojokan daripada mereka menjadi bahan ghibah wanita iseng yang ada diantara mereka.


     “Halo Ze,” tiba-tiba terdengar sapa julit yang membuat Zefa malas membalas saat menoleh dan mengetahui siapa yang menyapanya.


     Seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat glamor memberikan senyum yang sulit diartikan Zefa dan Kalina. Kalina membalas dengan smirk sapa fake itu, kedua wanita tersebut tahu pasti siapa wanita yang ada di hadapan mereka saat ini.


     “Elo, ngapain lo ada disini?” tanya ketus Kalina, “gua pikir lo gak bakal datang diacara kayak gini, bukan level lo kali!” Sindirnya lalu.


     Wanita cantik dan berpakaian glamor itu tersenyum tipis, “Wah,, ternyata yang jawab bodyguardnya, kenapa … apa putri satu ini bisu atau malu?” kembali sindiran diberikan namun pada Zefa bukan Kalina.

__ADS_1


     Zefa menghela nafas, hal seperti ini salah satunya yang membuat dirinya malas datang ke acara yang diadakan setiap tiga bulan sekali ini. Pasti akan ada saja yang membuat moodnya jadi buruk, akan ada saja yang buat emosinya naik.


     Zefa tidak ingin mencari keributan atau cari musuh.  Dengan kehidupannya saja wanita itu sudah merasa cukup pusing apalagi jika ada musuh atau yang lain yang akan menguras emosi. “Kita pergi,” ajak Zefa sambil meraih pergelangan tangan Kalina keluar dari ruangan itu.


     Acara sudah hampir selesai, arisan sudah dibagi dan mendapati mereka bertemu dengan sosok yang akan buat masalah Zefa cepat ajak Kalina pulang. Temannya itu tidak mau menjauh dari sosok yang dia sudah sangat tahu akan berbuat onar.


    Kalina ingin sekali menghajar Sisil yang terus saja mengganggu Zefa sampai detik ini. Zefa tidak mengizinkan karena saat ini mereka berada di tempat yang di rasa salah bahkan jika Kalina melakukan itu maka mereka yang akan dibuat malu.


     “Sudahlah Lin, kita pergi saja,” pinta Zefa berbisik.


     Kalina menatap Zefa tajam, dia kesal karena Zefa selalu mengalah. “Tidak, cukup gua rasa, mau sampai kapan dia terus bikin lo malu, dendamnya harus segera diakhiri Ze supaya kita damai,” sahutnya kesal.


     Zefa terus tarik lenga Kalina sampai mereka berada di luar, Zefa bahkan pergi tanpa berpamitan dengan teman yang lain karena lupa menghindari Sisil. Raka yang sampai detik itu masih memperhatikan Zefa beranjak dari duduknya saat melihat ada gelagat yang tidak baik.


     Pria itu lalu menghampiri Zefa juga Kalina yang baru saja keluar dari aula kemudian menyapanya. “Hai.”


     Zefa juga Kalina saling tatap sebab mereka merasa sama-sama tidak kenal dengan pria yang sudah menegurnya barusan. Dengan sedikit terbata juga raut wajah bingung kompak mereka menjawab, “Hai juga.”


     Keduanya terkejut tersadar jika mereka kompak sedangkan Raka tertawa, “Kalian kenapa keluar?”


     Mendengar pertanyaan itu sontak membuat darah Kalina mendidih kembali. Wanita itu langsung menceritakan kenapa mereka keluar dan menjauh. Dengan sangat menggebu Kalina bahkan menceritakannya sedikit detail.


     Raka ajak mereka untuk bicara di meja tempatnya akan bertemu Dirga tetapi sampai detik ini batang hidungnya masih juga belum muncul. “Tunggu!” Seru seorang wanita yang membuat mereka menghentikan geraka.

__ADS_1


__ADS_2