
Jessi berteriak sambil melayangkan tangannya ke wajah Raka. Tau akan gerakan tersebut Raka segera menahannya sebelum tamparan yang terlihat sangat keras itu sampai ke wajahnya yang tampan.
“Sudahlah Jes,” kata Raka dengan wajah malas dengan tangan yang sudah menggenggam pergelangan tangan Jessi.
“Sial! Apa maksudmu dengan sudahlah,” tanya balik Jessi dengan emosi yang masih tinggi sementara itu Kalina memperhatikan keduanya dan memberi sedikit senyum melihat Raka juga kekasihnya itu.
Raka menghela nafas, “Kamu masih ingat apa yang sudah kita sepakati ketika mau berhubungan?” balasnya “kalau lupa akan aku ingatkan tapi sayangnya aku malas,” ucapnya lagi kemudian membuat tubuh Jessi tertarik ke arahnya sampai wanita itu sedikit terpekik kaget.
“Akh!” Pekik Jessi.
Jarak wajah mereka semakin dekat, keduanya menatap nanar. “Apa kamu pikir aku tidak tahu perbuatan kamu diluar sana sama lelaki lain!” bisik Raka membuat sepersekian detik nafas Jessi terasa berhenti.
“Kamu!” Perlahan Jessi balas dengan suara pelan.
Pergelangan tangannya dilepaskan Raka, mereka menjauh. Jessi melihat nanar ke arah Kalina yang saat ini sudah berpakaian rapi dan berdiri melihat pasangan di depannya dengan tenang.
Tatapan nanar Jessi dibalas dengan senyum tipis oleh Kalina, ingin rasanya Jessi menjambak rambut Kalina tetapi dia masih menahan diri karena ada Raka disana. Jessi mengatakan kalau dia berbuat seperti ucapan Raka tadi karena Raka juga.
Sontak ucapan Jessi dapat cibiran dari Kalina yang dengan percaya diri merasa sangat mengetahui karakter wanita seperti Jessi. “Yakin karena Raka, bukannya memang kamu yang seperti itu juga, sama seperti Raka!”
Sindiran Kalina membuat darah Jessi kian mendidih, wanita itu geram. Tanpa pikir panjang dan tidak memperdulikan Raka ada di sana Jessi bergerak cepat mendekati Kalina. Gerakan cepat Jessi tidak terlihat oleh Raka sehingga wanita itu kini sangat dekat dengan Kalina.
Ternyata Kalina sudah mempersiapkan diri akan segala kemungkinan yang terjadi. Jessi hampir saja menjambak rambut indah Kalina jika wanita itu tidak bergerak cepat untuk menghindar. Pergumulan dua wanita terjadi, mereka saling menjambak, ada rasa sama-sama ingin melukai.
Melihat hal itu Raka masih hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat dua wanitanya bergumul hebat. Tidak ada rasa ingin melerai karena dia sudah sangat malas dengan hanya melihatnya saja.
__ADS_1
Beberapa waktu berselang namun ternyata mereka semakin tidak terkendali, Raka merasa tidak bisa membiarkan hal tersebut. Pria itu menghela nafas kembali kemudian mendekati karena tidak tahan juga mendengar teriakan Jessi.
“Kalian sudahlah, hentikan!” Teriak Raka dengan tangan yang coba menjauhkan dua wanita yang sudah tidak mengendalikan diri mereka.
“Raka apaan sih, kenapa kamu malah bela cewek itu, hah!”
“Sudahlah Jes, tanpa kamu berteriak juga bisa mendengar dengan jelas dan satu lagi. aku tidak membela siapapun disini,” tuturnya.
Kalina tersenyum menyeringai dan tatapan meremehkan Kalina terlihat jelas oleh Jessi yang membuat emosi wanita itu kembali memuncak. “Heh, ngapain kamu lihat aku seperti itu?” Sentak Jessi dengan kaki melangkah mendekati Kalina.
“Stop!” Kembali Raka menahan gerakan Jessi dengan tangan nya lalu menatap tajam, “aku bilang sudah dan aku mohon kamu pergi dari sini.”
Ucapan Raka yang sangat jelas mengusir Jessi membuat darah wanita itu mendidih, satu pukulan keras mendarat di pipi pria tersebut. Jessi mengeluarkan seluruh emosinya untuk memukul pria tersebut yang membuat pukulan tersebut berhasil membuat bibir Raka pecah serta mengeluarkan darah.
Satu pukulan lagi diberikan dan diarahkan ke bagian perut Raka, gerakan yang tiba-tiba tersebut juga tidak dibaca oleh Raka atau Kalina. Akibat pukulan tersebut tubuh Raka tersungkur tiga langkah ke belakang.
Kalina berhasil menahan tubuh Raka berbarengan dengan Jessi yang balik badan dan berlalu seraya berkata kalau hubungan mereka sudah berakhir namun rasa kesalnya pada Kalina masih tetap akan dilampiaskan lain waktu.
Pintu dibiarkan terbuka, Jessi keluar dengan wajah yang penuh emosi sementara itu Kalina membantu Raka untuk berdiri tegak. Raka menggelengkan kepalanya saat berhadap-hadapan dengan Kalina dan membuat wanita itu tertawa tipis.
“Kenapa?” tanya Kalina dengan senyum manisnya, “nanggung yah,” ejek wanita itu.
Wajah malas Raka terlihat, Kalina tertawa semakin geli. “Lanjut,” ajak Raka yang langsung mendapat penolakan dari Kalina karena dia masih ada urusan yang sangat penting.
Jawaban Kalina membuat Raka merengek seperti bayi, pria itu memohon agar Kalina mau mengabulkan permintaannya namun tetap saja wanita itu menolak dengan tegas. Kalina mengatakan jika dirinya ada urusan bisnis dan ini adalah bisnis yang cukup besar untuknya.
__ADS_1
Apapun yang dilakukan Raka tidak membuat keputusannya goyah, dia tidak menanggapi keinginan pria yang ada di hadapannya lagi karena urusan yang akan dilakukannya bisa menunjang kehidupan kedepannya selama beberapa tahun.
Kalina selalu berpikir jika urusan keinginan batin dia bisa mendapatkanya dengan sangat mudah. Kalina berpikir jika urusan bisnis dengan benefit yang cukup besar belum tentu akan datang kembali atau datang dalam waktu dekat jika dia menolak yang ada.
“Maaf Ka, aku tetap tidak bisa,’ ujarnya.
“Ya sudah aku sama yang lain saja, pergilah,” tukasnya tanpa mau melihat wajah Kalina.
Wanita itu hanya tersenyum melihat Raka yang merajuk karena tidak dilayani tetapi dia sangat yakin kalau dalam waktu dekat dia akan memanggilnya kembali tau mencarinya lagi. Kalina pergi, dia sudah sangat mengenal sedikit banyak karakter pria.
Pria bisa dengan gampang dicari tanpa dia harus mencari, saat ini Kalina lebih mengutamakan bagaimana dia bisa bertahan hidup saat ini dan kedepannya nanti. Di tempat lain Dirga yang semakin panas karena darahnya yang sudah mendidih dan sudah juga membuat darah Zefa mendidih sudah bermandi peluh.
Mereka keluar dari dalam air yang sama sekali tidak membuat tubuh mereka yang kini hanya dibalut kain segitiga merasa dingin di terpa angin malam yang sepoi-sepoi. Mereka malah bermandi peluh, beberapa kali Dirga ingin melakukan penyatuan tubuh dengan Zefa dan selama itu juga wanita tersebut menolak.
“Ze, please,” bisik Dirga sangat memohon.
“Aku belum siap Mas,’ jawabnya tanpa menghentikan gerak mereka.
“Aku gak kuat Ze,” kembali dia berbisik.
“Aku keluarkan saja ya Mas,” saran Zefa yang direspon dengan helaan nafas halus Dirga.
Dirga merasa jika dia memaksa juga yang ada nanti hubungannya akan menjauh, mungkin juga Zefa akan ilfil dengannya karena memaksakan keinginan hasratnya saat ini. Alhasil pria itu mau tidak mau menyetujui saran Zefa daripada hasratnya tidak keluar saat itu juga.
“Oke deh sayang daripada gatot,” jawab Dirga dengan nada tidak terlalu bersemangat.
__ADS_1