
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
__ADS_1
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
__ADS_1
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
Bagian dada Kalina merasakan hangat dari cairan yang sudah keluarkan Raka dari dalam tubuhnya. Wanita itu juga mencium aroma yang tidak asing baginya dari cairan tersebut. Wanita itu menggumam halus dengan senyum sumringah di wajahnya, matanya terus menatap penuh rasa bahagia melihat Raka yang menutup matanya karena merasa puas dengan dirinya.
Desah puas Raka terdengar berbarengan dengan tubuhnya yang perlahan menjauh dari Kalina. Senyum sumringah terlihat di wajah Raka, pria itu sedikit menunduk seraya mengucap kata terimakasih seperti berisik disusul dengan satu kecupan singkat untuk Kalina.
Wajah Raka memerah, wajahnya di gerakan ke sebelah kiri karena dia tidak mau melihat tatapan Kalina yang sudah membuat hatinya masih saja bergetar sampai detik ini. “Apanya yang bagaimana?” tanya Raka balik yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kalina.
Wanita itu tertawa kecil namun manis, tangannya bergerak meraih selimut tebal yang ada di kakinya seraya menjawab, “Jangan berlagak tidak tahu maksud pertanyaanku,” ejeknya, “tapi ya sudahlah, tidak perlu diperpanjang walau sebenarnya aku ingin tahu supaya aku bisa mengambil keputusan kedepannya,” timpalnya.
Ucapan Kalina membuat Raka menoleh cepat, “Keputusan apa!”
Tubuhnya yang masih polos tetapi kini sudah di tutupi selimut tebal di rebahkan perlahan dengan mata yang tidak lepas dari gerak Raka, “Jawaban maksud aku, kalau kamu merasa puas mungkin lain kali aku akan mau jika kamu meminta tapi kalau tidak ….”
Belum selesai Kalina meneruskan ucapannya Raka langsung menyela ucapan wanita itu dengan cepat, “Puas! Aku sangat puas tadi dan aku sangat menikmatinya juga aku ingin melakukannya lagi lain kali,” cerocos Raka cepat membuat Kalina tertawa.
Raka menghela nafas, wajahnya memerah. Pria itu sadar jika apa yang dikatakan membuat dirinya merasa malu. Mendengar tawa Kalina yang berhasil membuat dia malu Raka langsung masuk dalam selimut dan langsung memeluk erat Kalina sampai wanita itu berteriak.
Sementara itu Zefa yang masih belum berhasil ditaklukkan oleh Dirga masih berusaha untuk menolak semua sentuhan dari pria tersebut tetapi kini tenaganya sudah melemah. Benteng pertahanan hatinya terus menerus runtuh oleh sentuhan serta desah nafas Dirga yang membuat seluruh tubuhnya melemah.
Zefa sadar jika dia sudah tidak lagi mendengar suara Kalina juga Raka, sempat dia berpikir apa mungkin mereka sudah menyelesaikan permainannya sementara itu Dirga terus berusaha meruntuhkan pertahanan Zefa yang saat ini semakin melemah.
“Mas …,” bisik Zefa yang terdengar melemah.
“Emm, jangan bicara dan kita ikuti saja mau tubuh kita yang sudah aku rasa sudah sama-sama panas ini,” balasnya.
Zefa tidak bisa menjawab, suaranya tidak bisa keluar dan bibirnya terasa kelu. Dirga tidak ingin berlama-lama lagi, bagian intim tubuh Zefa mulai disentuh dan dibuat dalam posisi siap menerima.
Erang manja terdengar, dalam kepalanya tidak menginginkan hal itu karena terlintas bayangan Primus sang suami namun gerak tubuhnya tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan lelaki tersebut. ‘Maafkan aku Mas,’ benak Zefa yang merasa sudah tidak bisa mempertahankan tubuhnya.
“Mmpp.” Kedua tangan Zefa mencengkeram erat bagian lengan Dirga yang penuh peluh dan berotot. Sedikit pekik menyusul saat Dirga berhasil membuat tubuh mereka menyatu, perlahan pria itu semakin membuat tubuh mereka mendekat sampai merekat sementara itu Zefa menahan rasa sedikit perih di tubuh bagian bawahnya.
“Bagaimana, apa bisa lanjut,” tanya Dirga sangat perlahan dan lembut dengan tatapan dalam.
Dengan wajah bersemu merah Zefa hanya mengangguk pelan, respon Zefa mendapat balasan senyum manis dari Dirga. Pria itu melanjutkan gerakannya perlahan namun lama kelamaan dia mulai memainkan ritme permainannya.
Raka yang merasa lelah dan sedikit sudah terlelap diganggu oleh Kalina yang penasaran dengan keadaan diluar sana. Dia penasaran apa yang dilakukan Zefa juga Dirga, apa mereka melakukan hal yang sama atau bahkan mereka malah keluar ruangan.
Wanita itu meminta agar Raka melihatnya tetapi pria itu menolak. Raka minta agar Kalina berdiam diri dan beristirahat sebab dia sudah memerintahkan pada staff jika tidak ada yang boleh mengganggu dia juga teman-temannya dalam ruangan itu. Kalina menurut namun tidak bertahan lama.
“Aku penasaran,” keluh Kalina dengan raut wajah kesalnya.
Matanya melirik dan melihat Raka sudah terlelap, perlahan wanita itu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Satu persatu tubuh polosnya mulai ditutup, sebelum melangkah Kalina menoleh untuk memastikan lagi apa Raka benar-benar sudah terlelap apa hanya berbohong.
Senyum tipis terlihat di bibir basahnya, “Tidak bergerak, aku rasa aman,” ucapnya perlahan.
Tubuhnya kembali dibuat balik arah, kakinya perlahan digerakkan maju menuju pintu. Kalina penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu di ruangan sana. Pintu dibuka perlahan, suara kerasnya musik mulai terdengar namun dia tidak mendengar suara manusia di sana.
Semakin penasaran, Kalina perlahan kembali melangkah. Baru beberapa langkah kakinya dihentikan bergerak, matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga karena melihat pemandangan yang sebenarnya sudah bisa ditebak namun masih saja tidak percaya.
Mulut yang menganga itu ditutup dengan dua telapak tangan agar tidak menimbulkan suara, ‘Gila, akhirnya!’ Batin Kalina dengan mata yang masih terbuka.
Tertawa dilakukan tanpa sadar, Dirga yang sedang bergerak memacu tubuhnya berhenti seketika mendengar samar suara tawa. Pria itu spontan berhenti dan gerak itu membuat Zefa juga merasa heran dan bertanya.
“Kenapa?” tanya Zefa penasaran karena Dirga menghentikan gerak lalu menoleh.
Tidak ada jawaban, Zefa mendorong tubuh Dirga ketika wanita itu melihat wajahnya bergerak seperti melihat sesuatu dan karena spontan gerak dorong itu sedikit keras sehingga membuat Dirga terkejut dan terpekik.
“Akh!”
“Apa!”
Sementara mereka terkejut, Kalina yang sudah mengeluarkan suara cukup keras dan sudah membuat kegiatan mereka terhenti, terganggu langsung balik badan dan lari kembali ke dalam ruangannya. Pintu itu segera ditutup rapat, nafasnya terengah karena ketahuan, rasa dalam dirinya bercampur aduk.
Ingin dia tertawa karena merasa lucu tapi juga dia merasa tidak enak hati sebab perbuatannya yang sudah mengganggu kenikmatan mereka. Raka terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit keras, pria itu membuka mata dan perlahan melihat Kalina berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kamu kenapa?”
Tubuhnya seketika kaku mendengar suara Raka, kakinya melangkah perlahan dengan wajah bingung dan suara terbata. “Emm, itu …,” balasnya tidak jelas.
“Emm apa! Jangan bilang kalau kamu keluar dan mengganggu mereka,” tukas Raka yang lalu bangun terduduk.
Dengan wajah merasa bersalahnya perlahan Kalina duduk di samping Raka, wanita itu tidak berani melihat Raka namun dia tetap membalas ucapan Raka, ‘Aku tidak sengaja, aku tadi hanya penasaran saja dan ternyata ….”
__ADS_1