
Ketika mereka sudah bersiap untuk beristirahat, Zefa dibuat terkejut dengan kata-kata Primus, “Apa kamu yakin Mas?” tanya balik Zefa memastikan.
Pria itu tersenyum manis lalu meminta Zefa mendekat dan berada dalam dekapannya. Satu kecupan singkat diberikan ada kening Zefa yang dibalas kecupan singkat Zefa di pipi suaminya.
"Aku serius, kamu boleh ikut dengan Kalina tapi …," balasnya yang buat Zefa penasaran.
"Tapi apa Mas, kamu kebiasaan deh suka bikin penasaran," keluh manja Zefa dengan bibir yang sedikit dibuat maju.
"Aku ikut," balas singkat Primus yang langsung membuat Zefa spontan menjauh dan menatap heran dengan mata membesar ada suaminya.
Primus tertawa kecil melihat reaksi Zefa, "Kenapa! Kamu gak mau aku ikut!"
Tangannya Zefa langsung bergerak seperti dadah seraya berkata, "Tidak bukan seperti itu Mas, aku hanya terkejut saja."
Kembali pria itu mengembang senyum manisnya, "Iy aku tau, sepertinya aku butuh sedikit refreshing, kepalaku sudah terlalu panas dan butuh di dinginkan," balasnya manis.
Zefa mengerti, dia tidak bisa menolak karena jika itu dilakukan maka Primus akan merasa curiga. Malam itu Primus minta jatahnya sebagai seorang suami, Zefa sebenarnya malas tapi ia tidak mungkin menolak.
Malam itu dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik. Zefa melayani suaminya seperti biasa tetapi kali ini Primus merasa ada yang berbeda.
Pria itu sempat menghentikan gerakannya ketika dia merasa ada rasa yang aneh. Melihat suaminya mematung Zefa langsung bertanya ada apa namun Primus hanya memberi respon senyum sambil gelengan kepala.
Primus kembali melanjutkan permainan, dia melakukan tugas sebagai suami yang coba untuk memberikan kepuasan pada istrinya namun ternyata apa yang dirasa Zefa berbeda.
Zefa juga merasa berbeda ketika berhubungan dengan Primus bahkan beberapa kali dia malah mengingat ketika dirinya berhubungan dengan Dirga. Ingatan itu sudah berusaha dibuang.
'Tidak boleh seperti ini, hayo dong Ze,' benak Zefa yang tidak ingin mengingat Dirga ketika dirinya bersama Primus namun ternyata sedikit sulit.
Selesai membuat tubuh mereka berkeringat Primus langsung membersihkan diri lalu tidur begitupula dengan Zefa. Lama mencoba memejamkan mata tetapi kepalanya terus berputar, Zefa membandingkan Primus dan Dirga.
'Ya ampun, kenapa aku jadi membandingkan mereka,' keluhnya dalam hati, 'apalagi membandingkan masalah di atas ranjang, seharusnya aku tidak seperti ini.'
Zefa mencoba untuk menolak semua yang ada di kepalanya sampai dia kesal sendiri dan malah jadi membuatnya tidak bisa tidur. Wanita itu tidak bisa menolak apa yang ada di kepalanya saat ini.
__ADS_1
"Sayang, ada Kalina sudah menghubungi kamu?" Tanya Primus pada Zefa saat mereka menyantap sarapan.
"Emm, belum. Jam segini dia belum bangun Mas, mungkinkah n sebentar lagi."
"Ow ok, aku hari ini tidak ke resto, aku harus ke gudang dan ketemu sama Pak Fadli," ujar Primus.
"Ok, nanti kalau Kalina telepon aku akan kasih kamu kabar lagi," balas Zefa.
Sarapan selesai Primus langsung pergi dan Zefa mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Ditengah kesibukannya tiba-tiba bel berbunyi, sambil jalan Zefa berpikir siapa yang datang pagi seperti ini.
Zefa terbelalak seketika karena ternyata yang ada di hadapannya kini adalah Dirga, pria itu mengatakan jika dirinya sejak tadi berada di luar dan menunggu Primus pergi dari rumah.
Wanita itu gelengan kepala dengan apa yang di lakukan Dirga, "Lalu kamu mau ap datang kesini pagi-pagi Mas!"
Dirga tidak menjawab, dia menoleh ke kiri dan kanan memperhatikan sekeliling. Zefa heran melihat tingkah Dirga dan pria Dirga langsung mendorong masuk tubuh Zefa saat dirinya merasa lingkungan aman.
Zefa terpekik kaget karena tiba-tiba Dirga mendorongnya masuk lalu menutup pintu. Zefa dibuat tersudut ke dinding, pria itu membuat Zefa tidak bisa bergerak.
"Aku hanya mau satu macam dari kamu," jawabnya dan dengan cepat dia membuat bibir Zefa tidak bisa mengeluarkan lagi kata-kata.
"Emm," gumam Zefa terdengar. Wanita itu sedikit meronta karena dia berpikir tidak mungkin dia melakukan itu di rumahnya bersama Dirga.
Benaknya menolak namun tidak dengan tubuhnya, desah Zefa terdengar setelah beberapa menit keduanya bersentuhan. Dirga kali ini bertindak cepat, pagi ini pria itu sangat bergairah.
Deru nafas keduanya terdengar dalam waktu singkat, pakaian Zefa sudah tidak berbentuk karena gerak kasar Dirga yang membuka paksa sesuka dirinya.
Pria itu membawa tubuh Zefa menjauh dari dinding tanpa melepaskan sentuhan di bibir juga gerakannya. Dirga mengarah ke sofa panjang yang ada di ruang tengah, Zefa mengikuti semua yang diarahkan pria itu.
"Mpp, Mas," ucapnya seraya berbisik.
"Aku sangat menginginkannya Ze," jawabnya dengan nafas memburu.
"Tapi …," balas Zefa yang terhenti.
__ADS_1
Dirga sepertinya tidak ingin ada apapun yang menghalangi keinginannya seperti biasa. Dia tidak membiarkan Zefa melakukan apapun selain melayani dirinya bahkan hanya untuk sekedar bicara.
Darah dalam tubuh mereka kian memanas dan Dirga sudah membuat tubuh bagian atasnya tanpa busana. Pria itu bersiap untuk melakukan penyatuan tubuh dan Zefa sudah mempersiapkan diri mendapat serangan Dirga.
Baru saja ujung pistol pria itu berada di sudut bibir bagian tubuh bawah Zefa, tiba-tiba terdengar bel rumah di telinga keduanya yang membuat mereka menghentikan gerak.
"Akh sial!" Seru kesal Dirga.
Spontan Zefa mendorong tubuh Dirga dan cukup keras sampai pria itu terhuyung ke belakang. Zefa merapikan pakaiannya seraya meminta maaf karena sudah sedikit kasar.
"Mas, cepat!" pinta Zefa agar Dirga segera merapikan diri.
Pria itu mengendus kesal tetapi dia tidak bisa berbuat banyak karena memang dia harus melakukannya. Dirga bergegas merapikan diri, mereka sama-sama melakukan itu dengan cepat.
Dirga diminta Zefa untuk bersembunyi karena dia tidak tahu siapa yang datang. Pria itu langsung mencari tempat persembunyian sementara Zefa bergerak melangkah menuju pintu sambil sesekali melihat kebelakang.
Zefa kesal karena Dirga masih belum menemukan tempat sembunyi, pria itu bingung dimana dia sembunyi karena dia berpikir jika mungkin yang datang adalah Primus yang notabene mengenal semua seluk beluk rumah.
Zefa menghela kasar saat sudah tidak lagi melihat Dirga, Hela nafas panjang dilakukan sebelum dia membuka pintu menyambut tamunya.
"Pagi Ze," sapa ramah seorang wanita dengan senyum manisnya.
"Milea!" Seru Zefa dengan senyum getir. Dia sangat terkejut melihat Milea yang datang.
"Hei Ze, kamu kenapa?" tanya Milea yang juga heran melihat Zefa mematung seperti sangat terkejut melihat dirinya disana.
"Ah tidak, kamu tumben pagi-pagi sudah datang kesini, ada apa?" tanya balik Zefa.
Milea mengatakan alasan kedatangan nya, dia terpaksa datang karena Primus sulit dihubungi sambil mereka masuk. Milea merasa mengenal harum yang ada di ruangan itu, setelah dia mengendus beberapa kali.
"Kenapa di ruangan ini aku cium bau parfumnya Mas Dirga yah Ze!"
__ADS_1