P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
LEBIH INTENS SEMAKIN DEKAT


__ADS_3

Zefa senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang saat ini ada di kepalanya. Dia merasa jika Dirga pasti akan menjadi suami yang sangat ideal untuknya.



Wanita itu juga berpikir mungkin saja jika dirinya lebih dulu bertemu dengan Dirga mungkin dia akan memilih Dirga daripada. Senyum sumringah terlihat terus di wajah cantik Di Zefa, ia terus membayangkan dirinya menjadi pasangan Dirga sampai akhirnya dia sadar sendiri.



Zefa sadar diri setelah dia mendengar teriakan kedua teman yang memanggil namanya dengan nada sedikit tinggi.



"Lagi mikir apa sih sampe senyum-senyum sendiri kayak gitu loh," gurau Nita.



"Udah kayak orang lagi jatuh cinta," timpal teman satunya.



"Kalian apaan sih, gak gitu juga kali," sahut Zefa yang terlihat jelas memerah wajahnya.



Melihat wajah temannya yang memerah mereka semakin menggoda Zefa. canda mereka ditunda sejenak karena makanan sudah datang namun bisa makan mereka tetap memberi sindiran-sindiran serta lelucon pada Zefa.



"Mas, kamu mau langsung makan?" tanya Milea pada Primus yang sudah duduk sekitar lima menit bersamanya.



"Iya Mil, aku laper banget nih, kita makan aja dulu yah," jawab Primus yang langsung di respon anggukan kepala Milea.



Milea melihat raut wajah Primus sedikit berbeda kali ini. Primus dimatanya terlihat seperti sedang memiliki banyak pikiran.



Wajahnya tidak seperti biasa, 'Ada apa dengan Mas Primus, apa dia terlalu memikirkan masalah usaha kita sampai mukanya ruwet gitu,' batin Milea.



Selesai makan Milea masih beberapa saat memperhatikan Primus yang masih terlihat lebih banyak berpikir. Hal itu terlihat ketika mereka bicara namun Primus lebih banyak diam.



"Mas, kamu sedang banyak pikiran yah? Aku perhatikan kamu sedang tidak fokus hari ini dan juga kamu lebih banyak bengongnya, ada apa Mas!"



Hela nafas panjang dilakukan Primus seakan dia memang memiliki banyak beban. Pria itu mencoba untuk sedikit tersenyum, melihat ke arah Milea dan memandangnya sejenak.



"Nggak banyak kok Mil, hanya beberapa saja tapi jujur salah satunya bikin aku gak tenang spai saat ini," balasnya.


__ADS_1


"Boleh tau apa itu?"



Primus seperti tidak berpikir lagi, dia langsung mengatakan apa penyebab pikirannya terganggu sampai detik ini. Milea mendengarkan dengan seksama kejadian yang sudah membuat Primus terlihat berbeda.



Setelah mendengar cerita itu Milea memberikan tanggapannya, mungkin saja apa yang terjadi pada Primus kali ini memang sebuah pertanda namun hal itu belum tentu juga. Milea minta pada Primus agar hal itu jangan dibuatnya menjadi beban.



Bicara dengan Milea ternyata membuat perasaan Primus menjadi sedikit lebih lega. Wanita itu merasa bersyukur karena sudah membuat temannya menjadi sedikit lebih baik.



"Mas, soal usaha kita," ucap Milea tiba-tiba.



"Kenapa?"



"Aku pikir sebaiknya tidak perlu di lanjutkan, aku tidak masalah dengan itu," kata Milea.



"Maaf ya Mil, aku tidak enak sama Suami kamu kalau seperti itu," balas Primus yang terlihat jika memang merasa malu.



"Kita kan memang tidak pernah ada yang tau kedepannya bagaimana dan soal Mas Dirga, aku yakin jika dia tidak akan ada masalah dengan ini," jawab Milea yang terdengar membuat tenang hatinya.




Di tempat lain Dirga sudah sampai ke tempat kerjanya. Wajahnya yang beberapa hari ini terlihat sumringah membuat beberapa temannya terus meledek Dirga.



Seperti kemarin kali ini pun Dirga melakukan hal yang sama, pria itu memberikan makan gratis untuk tim kerjanya hari itu. Selama satu hari itu setelah dia berpisah dengan Zefa mereka tetap terus berkomunikasi.



Komunikasi yang intens itu membuat Dirga semakin tidak bisa lepas dari Zefa begitu pula sebaliknya. Dirga berpikir jika sepulang kerja dirinya ingin menemui Zefa kembali.



"Ze, tar aku pulang kerja bisa gak kita ketemu?"



"Ya ampun Mas, kita baru ketemu tadi pagi loh," balas Zefa yang tidak percaya akan hal yang diucapkan Dirga untuknya.



"Iya aku tau Ze, tapi jujur gak tau kenapa aku itu selalu kangen sama kamu saat ini, aku ingin ada di dekat kamu terus Ze," ungkapnya yang membuat hati Zefa berbunga-bunga.

__ADS_1



"Ah sudah lah Mas, jangan seperti itu sama aku, ingat kalau kita sama-sama sudah memiliki pasangan."



Mendengar ucapan itu suasana hening tercipta sejenak, Dirga sedikit berpikir memang benar apa yang diucapkan sosok yang ada di ujung telepon tersebut. Apapun itu saat ini yang dirasa juga menurutnya itu lebih penting.



Dirga mengatakan pada wanita itu bahwa itu tidak akan menjadi penghalang untuknya agar bisa lebih dekat dengan dia. Pria itu juga mengatakan harapannya kalau dirinya ingin Zefa memiliki pemikiran juga rasa yang sama.



Suara teriak terdengar ketika Zefa masih bicara dengan Dirga melalui telepon. Saat itu Zefa memang agak menjauh dari kedua temannya karena dia tidak ingin jika dua temannya itu mendengar obrolan mereka.



Zefa pamit pada Dirga dan karena Dirga juga sudah mendengar teriakan dua temannya tersebut mau tidak mau dia harus mengakhiri sambungan teleponnya. Zefa kembali bergabung dengan kedua temannya itu dan melanjutkan acara mereka hari ini.



"Udah gak usah, kali ini kayaknya gua udah bilang deh kalau gua yang tlaktir," seru Zefa ketika mereka selesai makan dan mau pergi dari tempat itu.



Kedua temannya saling pandang, "Lo yakin, jujur kalau kita pikir tadi Lo bercanda," balas Nita.



"Iya Ze, sudah lah tidak perlu, kita seperti biasa saja, pete-pete, ok!"



"Apa sih, emang gak boleh yah gua tlaktir kalian, kalian gak percaya sama gua, segitunya, kan gua juga mau berbagi kalau emang gua ada Rizky lebih dan kalian tau gak jika tolak kalian ini membuat aku sedih," cerocos Zefa yang langsung memperlihatkan raut wajah kecewa.



Kedua temannya langsung berhamburan memberikan pelukan hangat pada Zefa. Mereka berpelukan saling erat walaupun terkadang mereka suka berdebat atau beda pendapat namun semuanya sama-sama tahu dan paham jika mereka sudah dewasa.



Perdebatan itu hal yang biasa dan bersyukurnya mereka selalu bisa mengatasi itu semua. Mendapat pelukan hangat dari kedua temannya Zefa langsung teringat akan teman baiknya yang lain yaitu Kalina.



Primus dan Milea sudah mengakhiri pertemuan mereka dan pria itu langsung pergi ke tempat usahanya sedangkan Milea tidak memberitahu tujuannya setelah pertemuan itu.



Kali ini ketiga teman itu memutuskan untuk pergi ke sebuah mall dan memang sejak awal satu dari mereka ingin pergi ke sana. Tidak jauh dari tempat mereka saat ini ada sebuah mall besar dan semua sepakat untuk pergi ke yang lebih dekat.



"Ka, Lo dimana?"



"Kenapa?"

__ADS_1



"Ikut gua sekarang!"


__ADS_2