P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
TAMU BIKIN KESAL


__ADS_3

     “Memangnya kita mau kemana?”


     “Aku mau ajak kamu ke rumah Mas Primus,” balasnya yang membuat Dirga sedikit terkejut namun pria itu tidak memperlihatkannya di depan Milea, “aku mau kamu juga sedikit tahu dan memberikan saran nanti dengan apa yang akan kami kerjakan,” timpalnya, “ok selesai,” ucapnya lagi sebab sudah selesai merapikan dasi Dirga.


     Mereka sedikit menjauh untuk kemudian duduk bersama di sisi tempat tidur. Dirga ingin mendengar sekilas tentang apa rencana Milea dengan Primus lalu apa saja yang sudah mereka bicarakan.


     Wanita itu lalu mengatakan semuanya sebab selama beberapa hari ini mereka memang terus bertemu tetapi masih belum sempat untuk bicara banyak juga bertukar pikiran sebab Dirga dan Milea sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


     Baru hari itu mereka bicara duduk bersama dan bicara lama. Milea mengatakan jika dirinya sudah sangat yakin ingin bekerja sama dengan Primus untuk membuka rumah makan. Mereka sudah sepakat untuk menggabungkan menu keduanya dalam satu tempat.


     “Nanti kemungkinan kami juga akan menciptakan menu baru supaya tempatnya semakin ramai,” ujar Milea penuh semangat.


     “Kedengarannya sih bagus, seyakin itu kamu mau kerjasama sama Primus?”


     “iya Mas, aku sudah memikirkannya semua, aku sudah liat bagaimana Mas Primus bekerja dan dia sangat telaten, tanggung jawabnya juga bagus kalau aku lihat, pokoknya aku merasa kalau aku sama dia akan cocok bekerja sama,” ujar Milea penuh semangat yang di respon tatapan Dirga yang tidak mengerti olehnya.


     “Kenapa kamu menatap aku seperti itu Mas,” sindir Milea dengan tatapan penuh selidik lalu mendekat dan menyentuh pipi Dirga dengan telunjuknya, “jangan bilang kalau kamu cemburu yah Mas,” ejek Milea.


     Godaan Milea membuat Dirga tersipu walau dia tidak cemburu sama sekali dengan istrinya tersebut sebab dia sangat tahu bagaimana sang istri. Milea wanita baik juga setia, dia percaya penuh pada Dirga walau dia tahu bagaimana sikap suaminya jika diluaran sana.


     Milea sangat mengetahui jika Dirga memang sedikit genit di luaran sana bahkan jika sedang bersama Milea juga terkadang Dirga tidak bisa menahan genitnya tersebut tetapi Milea sudah sangat paham akan sikap suaminya itu.

__ADS_1


     Dirga mengatakan jika dirinya akan mengusahakan waktu setelah dia pulang kantor nanti, Dirga mengatakan jika hari ini ada beberapa meeting diluar yang harus dilakukan tetapi pria itu akan tetap mengusahakan dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


     Dirga memang selalu seperti itu, dia sangat perhatian pada Milea. apapun yang di mau sang istri sebisa mungkin akan diberikannya selagi dirinya masih mampu. Itu salah satu yang membuat Milea tidak melihat kekurangan suaminya dia melihat kelebihannya saja agar dirinya tidak terlalu sakit hati dan berpikiran jauh. Yang terpenting saat ini adalah hubungan mereka baik-baik saja dan Milea akan berusaha agar keadaan tersebut tetap sama sampai nanti.


     Setelah mendengar semua cerita dan sedikit bercanda sambil bermanja Dirga pamit. Seperginya Dirga ke kantor, Milea langsung menghubungi Primus untuk memberi kabar jika dirinya jadi datang berkunjung namun masih harus menunggu kabar dari Dirga.


     “Jadi kamu bisa hari ini ke rumahku!”


     “Iya Kak, tapi waktunya aku belum tahu sebab aku masih harus menunggu Mas Dirga pulang kantor, kemungkinan malam,” balas Milea.


     “Seperti itu, ok tidak masalah toh aku juga sore baru pulang, nanti aku kabari Zefa supaya dia siap-siap,” jawab Primus di ujung telepon.


     “Dasar, masih saja keras kepala kamu Mil.”


     Obrolan di ujung telepon tersebut diakhiri, Milea langsung merapikan diri karena pagi ini masih ada yang harus dikerjakan di luar rumah. Milea harus pergi ke tempat usahanya juga harus melakukan pengecekan rutin di tempat lain dimana wanita tersebut sudah menanam beberapa saham dengan teman-temannya.


     Sementara itu Zefa yang sedang memasak untuk makan siang terpaksa harus menunda pekerjaanya sebab bel rumah berbunyi. Dengan sedikit rasa kesal dia menghentikan gerakannya lalu balik badan dan pergi untuk membukakan pintu seraya berucap kesal, “Du uh siapa sih jam segini sudah datang bertamu, gak bilang dulu lagi.”


     Bel rumah kembali berbunyi ternyata tamu yang berada di luar sana tidak sabar untuk segera dibukakan pintu dan membuat Zefa menggerutu, “Iya tunggu,” teriaknya, “gak sabaran banget sih!”


     Pintu terbuka, terlihat dua wanita yang menatapnya sinis. Zefa sangat tidak mengharapkan kedatangan dua wanita tersebut apalagi mereka memberikan raut wajah yang sangat tidak enak di lihat. Zefa masih bisa memberikan rasa hormatnya pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik namun tidak pada wanita muda yang berada disampingnya.

__ADS_1


     “Silahkan masuk Mah,” tutur Zefa mempersilahkan mertuanya itu masuk, “Mamah kok gak kabari aku dulu mau datang,” ucapnya lagi setelah mereka berada dalam ruang tamu.


     “Iya, Mamah tidak ada rencana kesini, hanya kebetulan lewat saja,” jawab wanita paruh baya tersebut datar.


     “Memangnya kalau bilang dulu Kakak mau apa?” ketus Lala yang sudah sangat biasa menerima sikap Lala yang seperti itu.


     “Yah … setidaknya aku bisa masak pagi untuk kita makan bersama, sudah lama juga kan kita nggak makan sama-sama,” jawab Zefa yang berusaha bersikap biasa walau sebenarnya malas melakukan hal itu.


     Dalam benaknya Zefa berdoa agar mereka tidak berlama-lama di sana dan ternyata doanya itu dikabulkan oleh Tuhan. Mertua serta adik iparnya tersebut tidak lama berkunjung karena mereka memang hanya singgah sebentar sekalian lewat.


     Hembusan nafas lega dilakukan Zefa setelah kepergian dua wanita tersebut. Primus lupa memberi kabar pada Zefa karena kesibukannya, sore itu rumah makannya cukup ramai membuat dia lupa mengabari Zefa mengenai Milea yang akan berkunjung ke rumah mereka.


     Begitu pula dengan Dirga yang juga lupa mengabari Zefa karena kesibukannya. Dirga sudah berniat akan mengabari Zefa jika dirinya akan datang bersama Milea tetapi karena hari itu dirinya memang sangat sibuk, pekerjaannya cukup padat sampai dia lupa memberi kabar.


     “Mas, kamu sudah dimana, apa sudah selesai pekerjaannya?” tanya Milea melalui pesan singkat pada Dirga karena pria itu tidak bisa dihubungi.


     Setelah satu jam Dirga baru membalas dan dia langsung meluncur menjemput Milea sementara itu Primus masih disibukkan dengan pengunjung rumah makan yang cukup ramai sampai menjelang magrib.


     Baru saja Zefa selesai dengan semua aktivitasnya hari itu, tubuhnya baru saja di rebahkan dan baru saja dia menghela nafas lega tetapi rasa legaya itu harus terganggu karena suara bel yang memanggil.


     “Ya ampun, siapa lagi sih!” Gerutunya.

__ADS_1


__ADS_2