
Dirga ingin membangunkan Milea namun dia merasa tidak tega. Pria itu perlahan mencoba untuk menggendong tubuh Milea untuk dibawanya ke kamar agar dia bisa tidur dengan nyaman di sana namun baru setengah tubuh Milea terangkat, mata indahnya perlahan terbuka.
“Emm,” gumam terdengar dari wanita itu dan sedikit bergerak.
Dirga mematung, dia berharap jika istrinya itu hanya bangun sejenak namun ternyata dia salah. Milea melihat dirinya yang kini sedang menggendong tubuhnya. “Mas!” Seru Milea terkejut, “kamu ….” ucapnya lagi sambil melihat sekeliling, “turunkan aku Mas,” pintanya.
Perlahan Dirga menurunkan tubuh Milea namun masih tetap dijaga takut jika dia berdiri namun masih lemas. “Maaf, aku jadi buat kamu terbangun deh,” kata Dirga merasa bersalah namun di balas senyum manis Milea.
“Tidak apa-apa Mas, aku yang minta maaf karena aku ketiduran waktu nunggu kamu,” balasnya, “kamu sibuk banget yah Mas hari ini sampai-sampai tidak bisa lihat hp,” keluhnya.
Hela nafas dilakukan dengan raut wajah yang dibuat terlihat lelah. “Iya Mil, maaf yah aku sampai sekarang masih belum lihat hp,” jawabnya.
“Ya sudah, kamu sudah makan atau belum?”
Dirga tersenyum tipis kemudian merangkul Milea, dia mengatakan bahwa dirinya sudah makan malam tadi tetapi melihat Milea masak makanan kesukaannya dia jadi merasa lapar lagi. “Aku makan tapi gak banyak gak masalah kan sayang, simpan untuk besok saja,’ ujarnya.
Milea mengangguk, mereka lalu bergerak. Dirga duduk sementara itu Milea mengambilkan nasi untuk Dirga juga dirinya. Pria itu berniat hanya makan sedikit tetapi setelah dia makan sedikit malah ingin lagi dan akhirnya malam itu Dirga makan cukup banyak.
Hari itu Dirga juga Zefa aman, mereka tidak dicurigai sama sekali oleh pasangan masing-masing. Pagi hari setelah Primus pergi bekerja Zefa dibuat terkejut oleh chat dari Dirga semalam yang baru di bukanya.
Wanita itu baru saja buka ponselnya sejak semalam dan dia baru tahu jika Dirga memberikan sejumlah uang. “Ya ampun lelaki ini,” katanya setelah melihat pesan singkat itu.
“Lumayan juga sih buat jajan, tapi jika dia meminta yang lebih dari kemarin setelah aku terima uang ini bagaimana!” ucapnya pada diri sendiri.
Ada sedikit rasa takut di diri Zefa pada Dirga, diakui jika dirinya memang sangat tertarik dengan pria itu namun dia juga tidak menyangka jika dirinya bisa langsung melakukan hal itu dengan Dirga dalam waktu yang singkat.
__ADS_1
Zefa memang wanita yang supel dan dia bisa langsung di sukai oleh kaum pria, lingkungan Zefa juga selama ini memang sering bergaul dengan banyak pria namun untuk hal yang dilakukannya semalam dengan Dirga baru kali ini dia bisa sampai seperti itu.
“Apa karena aku memiliki rasa sama Mas Dirga jadi aku bisa sampai mau melakukan itu dengannya,” pikirnya, “yah walau hanya sekedar kissing tapi itu sudah menimbulkan hasrat dalam diri kami dan kalau tidak ditahan juga tidak ada gangguan bisa saja kami melakukannya lebih dari itu,” kembali dia berkata..
Zefa menghela nafas lalu melempar tubuhnya di atas kasur, baru saja dia ingin membuat tubuhnya rileks tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. “Iya siapa?” teriaknya.
“Aku Mbak, aku lapar nih,” sahut Lala yang memang menginap di rumah itu.
“Makanan sudah ada aku simpan di lemari makan, ambil saja sendiri,” balas Zefa tanpa ingin bangun bahkan keluar dari kamarnya.
Beberapa saat di tunggu oleh Zefa ternyata tidak ada jawaban lagi dari Lala. Kembali hembusan nafas terdengar, dia tidak nyaman jika ada Lala atau ibu Primus di rumah itu walau mereka memang sudah menjadi keluarga tetapi sikap mereka membuat Zefa malas.
Matanya masih mengantuk, Zefa berniat untuk tidur sebentar saja karena tidak ada juga yang harus dikerjakan hari ini. Cucian juga setrikaan pakaian sudah dibawa Primus tadi, wanita itu meminta agar pakaian kotor mereka di laundry saja sebab dia sedang malas mengerjakannya.
Lala minum berapa tegukan air dingin yang membuat tenggorokannya basah itu dan menghilangkan rasa hausnya. Masih gelas itu menempel di bibirnya ponsel yang sengaja di letakkan di samping piringnya berbunyi.
Gadis muda itu langsung menjawab karena yang menghubungi adalah Mamanya, “Halo Mah, ada apa?”
“La, kamu masih di rumah Kaka kamu?”
“Masih Mah, kenapa?”
“Mbak kamu ada tidak?”
__ADS_1
“Ada tuh di kamarnya,” jawab Lala lalu kembali bertanya kenapa mamanya menanyakan Zefa dan ternyata beliau ingin minta tolong agar Zefa memasak makanan untuk makanan siang berupa nasi kotak untuk dua puluh orang dan akan diambil oleh mamanya pukul sebelas nanti.
Lala malas untuk mengatakannya pada Zefa, dia lalu menyarankan agar mamanya langsung yang mengatakannya pada Zefa dan dia meminta agar mamanya menghubungi Zeffa langsung ke nomornya.
Hela nafas kasar terdengar dari ujung telepon, mamanya tau kenapa Lala enggan untuk menyampaikannya pada Zefa dan akhirnya mau tidak mau wanita paruh baya itu memutuskan sambungan teleponnya dengan Lala karena ingin menghubungi Zefa.
Baru Zefa memejamkan matanya beberapa saat ponselnya yang memang berada di samping berbunyi. Keluhnya terdengar karena mendengar gangguan itu, malas dia menjawab tetapi ingin tahu siapa yang menghubunginya.
Raut malas dan keluh kembali terdengar, “Mamah!” serunya malas, “duh … ada apa yah.”
“Iya halo Mah,” sapa Zefa ketika sambungan di jawab.
“Ze, kamu masih tidur!” Seru mamanya yang terdengar mengintimidasi.
“Aku sudah bangun pagi tadi Mah biasa, ini aku baru mau tidur lagi karena kepalaku sedikit pusing,” jawabnya yang akhirnya berbohong.
“Gitu, Mamah mau minta tolong,” balasnya, “tolong buatkan nasi kotak dua puluh box, menu nya terserah kamu deh dan Mamah ambil nanti jam sebelas siang,” timpalnya.
Zefa langsung menjawab cepat, “Mah, tadi kan aku sudah bilang kalau kepalaku sedikit pusing,” ucapnya, “sepertinya aku tidak bisa Mah, kenapa Mama tidak ke Mas Primus saja,” sarannya.
Mendengar jawaban Zefa membuat wanita itu menjadi kesal yang akhirnya ngoceh pada Zefa. Ponsel yang tadi di tempelkan di telinganya kini diletakkan sembarang karena malas mendengar ocehan sang mertua. Zefa hanya menjawab iya untuk menghindari mertuanya itu ngoceh kemana-mana.
Mamah dari Primus tetap ingin Zefa yang mengerjakan, beliau terus bicara hal yang membuat Zefa merasa ditekan. Zefa dibilang manja sampai malas hanya pusing kepala sedikit saja sudah tidak ingin mengerjakan apapun dan masih banyak lagi.
Telinga Zefa sudah mulai panas mendengar semua ocehan mertuanya, wanita itu sudah berusaha mengakhiri obrolan tersebut namun beberapa kali tidak berpengaruh.
__ADS_1
“Iya Mah, aku akan segera mengerjakannya jadi aku tutup yah … kalau Mamah terus bicara kapan aku mulai yang ada nanti aku terlambat nih,” ujarnya.