P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
GAK KUAT


__ADS_3

     Mendengar cerita itu Zefa langsung menutup tubuh polosnya dan melihat dengan penuh rasa bersalah menatap Dirga.


     ‘Ada apa dengan Zefa,’ batin Dirga.


     Dirga melihat ada yang lain dengan tatapan wanita yang ada didepannya saat ini, pria itu sampai berpikir apa yang dikatakan Primus padanya.


     Dirga merasa jika Primus memberi kabar yang membuat dia merasa cemas karena itu tatapan Zefa berubah juga sikapnya yang terlihat jadi takut melihat dirinya.


     Pria itu mendekat, dia ingin tau ada apa. Zefa menahan gerakan Dirga yang kian mendekat, dengan gerak tangan Zefa, Dirga tau jika wanita itu tidak ingin dirinya lebih dekat.


     "Oke," kata Dirga sambil mengangkat kedua tangannya, "aku diam," lanjutnya dan membiarkan Zefa terus bicara.


     Setelah beberapa saat dengan wajah sedikit lesu Zefa menutup ponselnya lalu diletakkan kembali di tempat semula. Dirga kembali mendekat dan bertanya ada apa.


     Wanita itu kemudian menceritakan apa yang baru saja dibicarakan oleh Primus padanya. Dari cerita itu Zefa berpikir apa mungkin itu adalah pertanda jika suaminya merasa jika saat ini dirinya sedang berbuat dosa.


     "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan Ze," kata Dirga yang coba menenangkan Zefa, "hanya kebetulan saja, tidak ada yang seperti itu," timpalnya.


     "Aku yakin tidak Mas, itu Tuhan memberitahu Mas Primus mengenai aku!"


     Dirga mengendus kasar, "Terserah kamu aja deh, terus sekarang bagaimana … apa kita mau lanjut atau tidak?" tanya Dirga yang sudah tidak sabar dan tidak mau mendengar cerita yang menurutnya tidak nyambung.


     Zefa diam, dia bingung. Tubuhnya sangat menginginkan kepuasan itu tetapi isi kepalanya tidak. Hatinya merasa bersalah pada Primus namun hanya sedikit.


     "Kalau aku tidak ingin melanjutkan apa kamu tidak masalah?" tanya Zefa.


     "Jelas masalah dong Ze," jawabnya, "apa perlu aku sebutkan kenapa jadi masalah!"


     Zefa menggelengkan kepala sebagai respon, tidak lama akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan permainannya yang tertunda walau dengan terpaksa kali ini.

__ADS_1


     Keduanya kini harus mulai dari awal lagi, mereka kembali membuat rangsangan agar gairah Zefa dan Dirga kembali muncul ke permukaan. Terasa oleh Dirga jika kali ini Zefa sedikit berbeda namun dia berusaha tidak peduli.


     Pria itu terus memberikan sentuhan di setiap detail tekuk tubuh Zefa. Wanita itu berusaha untuk menikmati walau kali ini awalnya sedikit sulit namun lama kelamaan rasa bersalah hilang diganti dengan rasa keenakan.


     Di lain tempat, Primus merasa jika masih ada yang mengganjal di dadanya namun dirinya tidak mengerti apa itu. Otaknya berputar mencari sampai tidak fokus mendengar apa yang dikatakan temannya tadi.


     "Prim, sebagainya kita bicara nanti saja," ucap rekannya karena melihat Primus pikirannya melayang.


     "Oh tidak, aku tidak apa-apa, kita lanjutkan saja," sahutnya dengan perasaan yang tidak enak hati.


     "Sudahlah Bro, aku lihat kok kamu bagaimana jadi lebih baik nanti kita buat jadwal lagi saja, tenangkan dulu pikiran kamu." 


     Primus mengucapkan kata terima kasihnya karena temannya itu sudah mau mengerti. Pria itu bahkan menolak ajakan temannya untuk makan siang terlebih dahulu karena terus kepikiran dengan perasaannya saat ini.


     Selesai dengan temannya Primus masih punya satu pertemuan lagi namun sebelum dia berangkat Milea tadi sudah menghubungi untuk bertemu dengannya dan akhirnya Primus memutuskan untuk bertemu dengan Milea saat itu juga.


     "Mil, bisa sekarang gak?" 


     "Ow gitu, oke lah kalau begitu tapi ini berarti aku agak telat yah, gak sampe setengah jam lah semoga," balasnya yang memberitahu karena saat ini dirinya baru akan jalan.


     "Oke gak apa-apa Mas, aku tunggu yah."


     Setelah menutup sambungan teleponnya bersama milea, Primus langsung beranjak dari duduknya dan bergegas pergi menuju tempat yang sudah disepakati bersama Milea. Dalam perjalanan perasaan yang mengganjal dalam benaknya masih terus mengikuti bahkan sampai bertemu dengan Milea.


     Di tempat lain sang istri yang sudah membuatnya memiliki perasaan yang tidak baik kini mulai sangat menikmati kembali perselingkuhannya. Dirga sudah membuat dia sangat terbuai dengan segala sentuh nikmatnya.


     Pria itu terus memberikan rasa pada tubuh Zefa sehingga membuat mau tidak mau gairahnya cepat muncul. Sentuhan mereka kini sudah diliputi dengan hasrat yang menggelora, deru nafas penuh gairah pun kian terdengar menggoda.


     Darah yang sudah mendidih membuat suhu tubuh mereka meningkat panas, keduanya sudah bermandi peluh setelah tidak ada sehelai benang pun menempel di tubuh keduanya.

__ADS_1


     "Aku gak kuat Mas, sekarang saja," pinta Zefa manja merengek ingin segera di satukan.


     "Oke, aku siap dan aku akan membuat kamu kehilangan kesadaran kali ini sayang," godanya lalu memberikan gigitan gemas di bibir Zefa yang membuat wanita itu sedikit terpekik.


     "Mmpp, Mas …," desah manjanya membuat Dirga sangat gemas lalu geregetan mengulum ujung gunung besar wanita itu beberapa kali.


     Keduanya kini semakin tinggi, gairah mereka sudah memuncak. Hasratnya sudah tidak bisa dibendung lagi, Dirga membuat gerakan bersiap dan Zefa melakukan hal yang sama.


     Perlahan jika mulai memasukkan pedang panjangnya yang membuat suara desah Zefa terdengar menggairahkan. Sesudah mereka melakukan penyatuan tubuh juga mulai bergerak perlahan dan mata indah Zefa perlahan tertutup untuk lebih menikmati rasa.


     Deru nafas Dirga kian memburu, gerakan pria itu membuat tubuh sang wanita bergerak tak tentu arah. Hentakan yang kuat membuat Zefa harus menahan tubuhnya dengan bercengkrama pada suatu benda.


     Siang itu ketika cuaca di luar cukup panas dibuat tambah panas oleh keduanya. Beruntung rumah Zefa memiliki halaman sedikit luas di sekeliling rumahnya sehingga jauh dari jalan.


     Keuntungan bagi mereka karena suara mereka yang meresahkan untuk didengar tidak terdengar oleh orang yang melintas. 


     "Da, kok rumah Zefa sepi yah, apa dia gak ada di rumah?" tanya salah satu wanita yang sedang berjalan mendekat.


     "Iya, masa dia pergi sih, kan sudah janjian sama kita dan gua rasa dia gak mungkin lupa," jawab teman satu nya.


     "Itu dia, gua takutnya dia lupa kalau sudah punya janji sama kita, terus gimana nih … lanjut atau …."


     Tidak ada jawaban dari temannya karena dia juga tidak tahu, mereka memperhatikan rumah Zefa yang tampak sepi dari luar. Salah satu dari wanita itu melihat sedikit pintu samping rumah Zefa terbuka.


     Dari sana mereka berpikir jika Zefa berada di dalam rumah dan mungkin sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena melihat pintu yang sedikit terbuka. Akhirnya mereka memutuskan untuk mendekat agar bisa tahu apa benar Zefa berada di dalam.


     "Aku … mmpp."


     

__ADS_1


     


__ADS_2