P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
SENTUHAN NAKAL


__ADS_3

     Mata Zefa membesar mendengar keinginan Dirga, ternyata pria itu menagih janjinya. Sedikit keluh bergema dalam benaknya, kenapa dia bisa mengucapkan kata-kata itu namun jujur saat itu dirinya hanya berkelakar saja tetapi ternyata Dirga menganggapnya serius.


     “Kenapa diam, jangan bilang kalau kamu hanya bercanda!” Tukas Dirga membuyarkan lamunannya.


     “Emm, jujur iya … saat itu aku hanya bercanda dan aku tidak berpikir juga untuk melakukan itu Mas,” balasnya jujur.


     Zefa sedikit tertunduk karena malu campur takut, bukannya marah ternyata Dirga malah tertawa tipis melihat reaksi Zefa. Dekapan lingkar tangannya di pererat membuat tubuh mereka semakin menempel, Zefa ternyata sedikit takut juga jika berdekatan dan bertatap langsung dengan Dirga.


     Pria itu terus menatapnya dalam membuat lama-kelamaan jantung Zefa berdebar, sesekali wanita itu mencuri pandang dan dia mulai merasa tidak nyaman dengan situasi mereka saat ini.


     “Mas, sudah ah lepaskan aku!” Pinta manja Zefa.


     “Jangan pinta itu padaku saat ini, aku tidak akan melepaskan kamu sampai kamu berikan apa yang aku mau,” jawabnya membuat Zefa menelan saliva perlahan.


     “Sebentar lagi Mas Primus datang dan juga aku hanya beralasan ingin buang air kecil sama Milea kalau aku lama kembali akan jadi pertanyaan nanti,” balasnya  sedikit cemas.


     Wajah Zefa dibuat melihat ke arahnya dengan satu tangan oleh Dirga lalu dengan cepat pria itu mendaratkan satu ******* lembut di bibir manis Zefa membuat mata indah wanita itu sedikit membesar menerima serangan mendadaknya Dirga.  Hanya beberapa detik namun sentuhan itu bisa membuat jantung keduanya semakin berdebar cukup keras.


     Zefa tertunduk malu sambil merutuki dirinya sendiri, ‘Ya ampun Zef, ingat!’ Benaknya.


     “Manis, mau lagi,” goda Dirga membuat wajah Zefa kembali terangkat.


     Zefa mendorong tubuh Dirga namun tetap tubuh mereka tidak bisa lepas. Tangan Dirga masih melingkar erat di tubuhnya, “Mas, sudah. Nanti ketahuan, lagi pula aku hanya bercanda kemarin,” balasnya.


     “Ok kemarin bercanda tapi setelah tadi, apa kamu masih bisa bercanda, itu enak Zef, aku suka,” balasnya yang lalu kembali membuat bibir mereka  saling menempell.

__ADS_1


     Zefa tidak ingin membalas tetapi Dirga terus berusaha agar wanita itu membalas lumatannya dan usaha Dirga tidak sia-sia. Zefa membalasnya, kini perlahan mereka saling bertautan. Tautan yang membuat hasrat dalam tubuh mereka pelan-pelan muncul ke permukaan.


     Gumam terdengar dari bibir Zefa ketika dia mulai menikmati rasa yang diberikan Dirga, pria itu membuat tubuh Zefa sedikit lemas namun merasa gemas bersamaan. Tangannya perlahan mencengkeram kain penutup tubuh Dirga ketika pria itu mulai ******* sedikit berhasrat.


     Ponsel Zefa bergetar dalam saku celananya, sontak dia melepaskan tautan yang sedang dilakukan karena Zefa terkejut juga takut kalau yang menghubungi adalah suaminya Primus dan ternyata benar.


     “Primus?” tanya Dirga sambil melepaskan tangannya yang masih melingkar di tubuh Zefa.


“Iya,” jawab Zefa sambil mengangguk, “aku jawab dulu yah,” kembali dia bertanya.


     Dirga mengangguk lalu sedikit menjauh sementara itu Zefa menjawab telepon dari suaminya. Dengan bahasa isyarat Zefa iin keluar dari kamar, mau tidak mau Dirga membiarkannya. Setelah Zefa menutup pintu Dirga kembali merebahkan dirinya di atas kasur, pria itu tersenyum mengingat kejadian tadi.


     Dirga memegangi bibirnya yang tadi sudah berhasil menyentuh bahkan merasakan kehangatan bibir Zefa. Pria itu mengingat dan ingin mengulangi lagi kejadian tadi, “Belum, aku ingin merasakannya lagi, sensasi nya berbeda dengan aku melakukanya bersama Milea,” ucapnya dengan senyum-senyum gak jelas.


     Zefa membuat dirinya selalu merasa berhasrat walau hanya dengan melihat gambar saja bahkan Dirga terkadang langsung membayangkan bagaimana dia akan melakukan sentuhan pada wanita tersebut. “Otak aku bisa gila klo kayak gini terus nih, haduh,” keluh Dirga.


     Sementara itu Zefa masih berbicara dengan primus di telepon, Primus menanyakan apa yang harus dibawa sebelum dirinya sampai di rumah. “Apa saja deh Mas, gak enak aku soalnya disini tidak ada apa-apa, yah walau Milea bawa makanan tapi jujur kita gak enak kan!”


     “Iya Fa, ya sudah nanti aku beli apa saja deh, yang penting ada yah,” balas Primus.


     “Emm, jangan lama-lama ya Mas,” pinta Zefa yang saat ini sudah bersama Milea kembali. Zefa masukkan ponselnya setelah obrolan dengan Primus usai, “Mil, maaf yah tadi aku agak lama, mules banget soalnya,” ucap Zefa pada Milea yang sepertinya sudah membuat semua pekerjaan Zefa rampung.


     “Iya tidak masalah, kamu makan apa memangnya tadi sampai mules-mules seperti itu?”


     Zefa nyengir kuda, “Aku tadi jajan seblak Mil, biasa pedas level-levelan,” jawabnya.

__ADS_1


     Milea menghela nafas sambil gelengkan kepala seraya berkata, “Emm, pantas saja.”


     Sambil menunggu Primus mereka kembali bertukar cerita dan Zefa mengatakan jika dirinya memang sangat menyukai makanan pedas walau dia tahu kalau perutnya akan mengalami masalah setelah makan makanan itu.


     Di jalan Primus melipir sebentar untuk membeli buah tangan, benar apa kata Zefa pikir Primus kalau mereka harus menyuguhkan apapun itu walau hanya sedikit untuk menghormati mereka sebagai tamu.


     Kurang dari setengah jam Primus sudah tiba, pria itu disambut ocehan  Zefa dan membuat Milea tertawa. Barang bawaan Primus disambut Zefa untuk dibawanya ke dapur bersama Milea agar mereka juga bisa menyiapkan semuanya.


     “Mas, kamu mandi dulu sana,” pinta Zefa.


     “Iya sayang, ini juga aku mau mandi,” jawabnya lalu dia melihat Milea, “Mil, aku mandi dulu yah,” izin  Primus.


     “Iya Mas silahkan.”


     Sementara para wanita menyiapkan segalanya untuk mereka makan, Primus membersihkan diri dan Dirga masih dengan semua khayalannya mengenai Zefa. Sekilas Dirga melihat bayangan orang melintas, pria itu langsung berdiri untuk melihat siapa yang lewat.


     Pria itu kembali menutup pintu setelah mengintip siapa yang baru saja melintas, “Primus, ternyata dia sudah pulang, aku pikir Zefa,” ucapnya dengan nada kecewa lalu kembali merebahkan tubuh dan menutup mata kembali.


     Beberapa menit kemudian setelah semua siap dan Primus sudah membersihkan diri mereka kini tinggal menunggu Dirga yang masih berada di kamar tamu untuk beristirahat. Primus sedikit terkejut karena dia pikir Dirga tidak jadi datang sebab sejak dirinya tiba pria itu tidak melihat dirinya.


     Milea izin untuk memanggil suaminya. Milea menaiki anak tangga perlahan lalu membuka pintu dan mendekati Dirga yang baru saja menutup mata ternyata langsung tertidur pulas. Beberapa kali Milea menyebut nama suaminya sambil sedikit menggoyangkan tubuh agar pria itu terbangun.


     “Mas, bangun!”


     Akhirnya Dirga perlahan membuka kedua matanya, dengan penglihatan yang masih samar dia berucap dengan suara seraknya, “Iya sayang.”

__ADS_1


__ADS_2