P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
LUPA SEJENAK


__ADS_3

     Zefa berjalan malas untuk membukakan pintu kalau ada Lala mungkin dia sudah minta tolong pada anak satu itu. Lala ikut kembali bersama Mamanya ketika wanita paruh baya itu mengambil pesanan makanannya dan gadis kecilnya merengek ingin ikut.


     Dengan langkah sedikit gontai wanita itu menggerakkan handle pintu sampai membuat pintu bergerak terbuka. Matanya terbuka ketika melihat sosok yang kini ada di hadapannya, tidak lama mereka langsung berpelukan.


     Keduanya berpelukan erat, tanpa kata mereka melepaskan rasa rindu yang selama ini ada dalam diri masing-masing. Setelah beberapa saat pelukan terlepas, terlihat mata keduanya yang berkaca-kaca.


     “Kamu kemana saja baru jenguk aku sekarang?” tanya Zefa.


     “Iya maaf, aku baru pulang dan lihat nih,” tuturnya memperlihatkan barang bawaannya, “aku langsung kesini dari bandara,” timpal sosok tersebut.


     Wajah Zefa terlihat senang kedatangan sosok yang memang di tunggunya. Fadil adalah adik lelaki dan keluarga terakhir yang Zefa miliki setelah kedua orang tua mereka meninggal. “Masuk, belum makan dong!”


     “Belumlah, laper banget nih,” sahutnya lalu mereka masuk dan Zefa langsung membawa Fadil ke meja makan karena kebetulan masih ada sedikit sisa masakan pesanan tadi, Setelah kepergian kedua orang tuanya hanya Fadil yang bisa menyayangi dirinya dengan tulus dan Primus suaminya.


     Fadil memang adik Zefa namun pria muda itu lebih tepat pantas menjadi kakaknya Zefa karena dia sangat menjaga Zefa bahkan sejak mereka masih kecil. Keduanya kerap ditinggal bekerja kedua orang tuanya dan Zefa sejak dulu sudah jadi pusat perhatian karena wajah serta tubuh seksinya.


     Fadil selalu bisa menjaga Zefa, bukan hanya hati dan perasaannya namun juga semua hal. Pria yang lebih muda itu juga yang selalu jadi orang pertama tempat Zefa mengeluarkan keluh kesahnya pada kehidupan.


     Sambil makan mereka berbincang ringan juga sesekali bercanda. Mereka memang sangat dekat apalagi sudah cukup lama keduanya tidak bertemu jadi saat ini mereka melepaskan semua kerinduan yang ada.


     “Aku mau menemui Mas Primus, boleh Kak?”


     “Boleh lah, tapi kenapa harus menemuinya, nanti malam bisa ketemu juga kan!”

__ADS_1


     “Aku sekalian mau mencicipi menu disana,” sahutnya membuat mereka tertawa.


     “Kamu itu. Sore saja yah, sekarang kita istirahat saja dulu, kamu pasti capek dan aku juga sama,” balasnya yang lalu menceritakan jika tadi dia baru saja hendak memejamkan mata ketika Fadil memencet bel rumah.


     “Emm gitu, ya sudah oke, aku juga ngantuk.”


     Zefa membiarkan cucian piring bekas makan Fadil, wanita itu mengantar adiknya ke kamar tamu kemudian dia langsung menuju kamarnya untuk bobo siang. Di rumah makan miliknya Primus terlihat sedikit santai hari ini.


     Tidak terlalu ramai pengunjung di tempatnya saat ini dan bisa dilihat dari ruang parkir yang lenggang. Beberapa pegawainya juga terlihat sedikit santai, Primus beralih mengerjakan tugasnya yang lain dalam ruangannya.


     Pria itu seperti biasa melihat data pemasukan juga pengeluaran tempat usahanya, beberapa tempat yang lain juga sekalian di cek. Sekilas pria itu ingat akan kerja samanya dengan Milea yang sedang dalam tahap pengerjaan.


     Primus melihat dan menelisik kembali beberapa hal yang sudah mereka sepakati dan yang masih dalam tahap penjajakan. Tempat yang akan mereka gunakan untuk usahanya sudah di tinjau dan sudah dapat persetujuan juga dari Dirga.


     Yah, Dirga memang selalu memberikan kontribusinya dalam bentuk dana untuk apapun kegiatan yang ingin dilakukan Milea. Sejenak primus berpikir kalau saja dia juga bisa menjadi seperti Dirga yang selalu bisa memberikan apapun yang istrinya mau.


     “Semoga saja rezeki aku bisa seperti Dirga kedepannya,” ucap Primus yang lalu mengamini ucapan nya tersebut sendiri.


     Setelah hari itu, Zefa yang ingin menghubungi Dirga menjadi lupa bahkan wanita itu baru ingat setelah beberapa hari sebab selama Fadil berada di rumahnya, Zefa terus menghabiskan waktu bersama adiknya tersebut.


     “Kak, aku mau kembali besok yah,” kata Fadil saat mereka sedang makan malam bersama di rumah.


     Primus merespon, “Memangnya kamu ambil cuti berapa hari, kok sudah mau pulang saja.”

__ADS_1


     “Iya nih, apa kangen kamu sudah hilang sama aku,” timpal Zefa dengan gaya manja.


     “Masih tapi sedikit, nanti aku akan cuti lagi satu bulan, sekitar dua bulan kedepan,” jawab Fadil, “kalau saat ini memang di tempatku besok ada event dan aku yang pegang event tersebut jadi aku nanti pulang pagi dari sini kemudian langsung menuju lokasi,” timpalnya.


     Zefa memberi sedikit kata-kata untuk adiknya tersebut. Kakak wanita itu sekedar mengingatkan jika memang  baik mencari uang sejak dini namun tidak terlalu memfosilkan diri juga. Zefa ingin Fadil ambil sedikit waktu disela kerja untuk dirinya sendiri agar adiknya itu bisa menikmati hasil dari jerih payahnya selama ini juga bisa sekalian cari jodoh.


     Pagi nanti Zefa akan mengantar Fadil ke bandara, mereka berencana sarapan diluar sebab Primus akan berangkat setelah subuh ke puncak karena ada pekerjaan yang harus dikerjakan di kota itu.  Primus akan berada disana sampai sore dan diperkirakan sampai di rumah malam hari.


     Sementara itu Dirga yang memang kesal pada Zefa karena tidak merespon dirinya kali ini malas untuk lebih dulu mengirim pesan atau menghubungi wanita itu. Sedikit gengsi pria itu untuk melakukannya lagi lebih dulu.


     “Sudah beberapa hari tapi Zefa masih juga belum menghubungiku, mungkin dia memang tidak ingin kenal aku lebih jauh lagi atau dia merasa bersalah karena kejadian hari itu pada Suaminya? sedangkan aku disini sudah tidak sabar dan tidak bisa terus menahan rasa ingin mendengar dan melihat wajahnya,” ucap Dirga pada dirinya sendiri.


     Pria itu sudah mencoba untuk menahan diri beberapa hari belakangan agar tidak menghubungi Zefa namun sepertinya hari ini rasa itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Dada Dirga terasa panas ketika dirinya mengingat Zefa dan bagaimana manis serta lembutnya bibir wanita itu.


     “Mas!” Tiba-tiba suara Milea membuat Dirga sedikit terkejut, “kamu lagi bengong yah, sampai kaget gitu Mas.”


     “Iya, maaf yah Mil, aku baru dapat telepon dari Raka,” jawabnya, “aku akan pergi sekarang, tidak apa-apa kan?”


     “Iya Mas, aku juga belum buat sarapan kok.”


     Dirga pamit dan dia meluncur cepat ke tempat dimana Raka berada sementara itu Zefa dan Fadil sudah meluncur menuju bandara. Sebelum masuk bandara mereka melipir untuk sarapan terlebih dahulu, keduanya bicara tidak henti sampai makanan yang di atas meja habis.


     “Aku pamit yah Kak, jangan lupa chat aku, jangan genit sama lelaki lagi yah Kak,” goda Fadil yang membuat dia dapat pukulan dari Zefa.

__ADS_1


     Zefa dan Fadil beranjak dari duduknya, satu pukulan ringan di pundak Zefa membuat dia menoleh. “Eh!”


__ADS_2