
“Mas Dirga bisa dibilang setahun sekali baru bersikap manis sama aku Ze,” timpalnya yang membuat Zefa dan Primus saling pandang.
Keduanya merasa tidak percaya dengan kata-kata Milea barusan dan Milea sudah bisa mengira hal tersebut dari raut wajah mereka yang terkejut mendengar ucapannya. Wanita itu tersenyum melihat ekpresi Primus dan Zefa.
“Kalian pasti terkejut dan aku tau hal itu sudah pasti,” katanya yang seolah sudah memprediksi tanggapan mereka.
“Jujur iya, aku pikir kalian pasangan yang tidak seperti itu loh Mil, tidak terlihat sama sekali,” ujar Primus masih dengan raut wajah heran.
“Iya, aku juga sama. Kalian terlihat romantis dan mesra malah aku pikir kalian lebih sweet dari aku dan Mas Primus,” timpal Zefa lalu melihat ke arah suaminya dan berkata, “iya kan Mas!” yang di respon anggukan kepala Primus.
Milea tersenyum tipis, dia senang karena tidak ada yang mengetahui kebenaran bagaimana rumah tangga yang dirinya dan Dirga jalani selama ini. Tidak mungkin juga Milea mengatakan keburukan rumah tangganya pada orang luar, dia senang sebab dirinya berhasil menutupi masalah yang ada dalam rumah tangganya selama ini.
Melihat Milea hanya memberikan senyum tipis sebagai respon, Primus sepertinya bisa membaca apa yang di mau Milea. Primus langsung mengalihkan obrolan ke hal lain dan beruntungnya Zefa paham akan hal itu.
Zefa sadar apa yang dilakukan suaminya untuk mengalihkan obrolan dan dia mengikuti alur yang sudah dibuka Primus. Milea juga tahu bagaimana kedua temannya itu menghargai privasinya dengan mengubah alur perbincangan mereka.
Tidak lama datang Kalina yang langsung menyapa dan ikut bergabung. Wanita itu langsung memesan minuman segar karena dirinya memang merasa sangat kehausan. Kalina duduk manis lalu menghela nafas lega seakan dia bersyukur sudah sampai tempat itu dan bisa duduk.
“Kamu dari mana Lin, kok kayaknya haus dan capek banget sih?” tanya Zefa dan juga jadi pertanyaan yang sama dalam benak Primus.
“Biasa, tadi aku habis keliling lihat beberapa tempat usahaku dan tadi aku ngebut kesini jadi kayaknya capek banget ditambah macet juga gak ada air minum di mobilku,” celotehnya.
__ADS_1
“Emm, terus … kamu ngapain ajak aku ketemuan disini, memangnya ada hal yang penting yah?” tanya Zefa yang memang tidak tau maksud Kalina memintanya bertemu.
Kalina tidak menjawab, wanita itu diam namun matanya mengarah ke Primus dan primus melihat hal itu. “Kenapa lihat aku kayak gitu!” tanya Primus heran.
Sementara itu Zefa serta Milea diam menunggu jawaban Kalina. Suasana hening sejenak, Kalina yang melihat itu tiba-tiba tertawa karena melihat wajah ketiga temannya terlihat tegang.
“Kalian kenapa tegang begitu sih, biasa aja kali,” gurau Kalina sambil tertawa.
“Kamu yang bikin kita begini, bikin penasaran aja, usah cepat bilang ada apa?”
Kalina mengendus kasar lalu melihat Zefa, “Ze, emang kamu lupa yah?” tanya Kalina bikin Zefa berpikir. Belum sempat Zefa menemukan jawaban Kalina sudah kembali berbicara tetapi kini dia bicara pada Primus.
“Mas, aku mau tanya mengenai hal yang kemarin,” tutur Kalina tetapi melihat wajah Primus Kalina tau jika pria itu juga lupa akan hal tersebut jadi dia coba mengingatkan kembali, “oke, apa kamu memberi izin untuk Zefa pergi dengan aku beberapa hari, aku sudah bilang loh beberapa hari yang lalu,” ungkapnya.
“Iya lah serius,” sahutnya lalu balik badan dan kembali bertanya pada Primus.
“Apa aku ikut tidak masalah!”
“Aku tanya balik, apa benar kalau kamu ikut tidaka akan menimbulkan masalah di sini?”
Pertanyaan cerdas dari Kalina tidak bisa dijawab Primus. Pria tidak perlu menjawab pun Kalina sudah tahu kalau pria itu tidak akan bisa ikut dan mengikuti keinginannya sebab dia mempunyai tanggung jawab besar yang tidak bisa ditinggal dalam waktu lama saat ini.
__ADS_1
Melihat Primus tidak dapat menjawab Kalina kembali berkata jika dia benar-benar membutuhkan Zefa disana bahkan Kalina mengatakan kalau selama dia di sana wanita itu akan membayarnya. Sontak Zefa menolak ucapan Kalina, dia tidak mau hal seperti itu diucapkan kembali oleh Kalina.
“Mas, aku butuh jawaban kamu besok pagi sebab sore hari aku harus sudah berangkat atau setidaknya malam,” pinta Kalina, “jadi aku mohon agar kami bisa memberikan izin sama Zefa.”
Milea masih diam, ia tidak memberikan respon karena wanita itu merasa jika itu bukan urusan dirinya dan dia tidak berhak juga memberikan pendapatnya. Primus berjanji akan memberikan jawabannya besok pagi dan setelah mendapat kepastian jawaban dari Primus, Kalina langsung pamit.
“Pokoknya aku tunggu dan terimakasih sebelumnya walau aku belum tahu jawaban Mas apa, aku pamit,” ucap Kalina lalu pergi.
Tidak lama setelah Kalina pergi ternyata Milea juga berpamitan, dia berpikir jika masalah pekerjaan masih bisa di bicarakan lagi besok. “Aku mau masak buat Mas Dirga, semoga saja hari ini dia bisa pulang cepat,” ucapnya pada Zefa dan Primus.
Primus mengantar Milea sampai depan resto sementara itu Zefa melihat kepergian mereka sambil berpikir mengenai apa yang sudah dilakukannya bersama Dirga. Kenapa Dirga bisa berpaling dari Milea padahal wanita itu sangat baik, cantik juga terlihat sabar.
Sama hal nya dia berpikir mengenai dirinya yang juga berani melakukan hal yang tidak baik dibelakang suaminya padahal selama ini Primus selalu mengerti dirinya dan bersabar dengan banyaknya gunjingan orang mengenai dirinya.
‘Kamu sangat baik dan sabar Mas, aku mengakui itu,’ benak Zefa, ‘yang kurang dari kamu hanya rizeki kamu yang masih sedikit,’ timpalnya.
Alasan itu, materi yang ada di kepala Zefa saat ini walau dia kadang berkata jika dirinya bisa menerima keadaannya yang sekarang bersama Primus namun dalam hati tidak sepenuhnya Zefa bisa menerima.
Zefa tidak mau jika dia bertemu dengan teman lama atau baru dia terlihat paling tidak berada. Dia tidak mau di cemooh, dia tidak mau dipandang sebelah mata dan dia juga tidak mau terlihat buruk dimata orang baik mengenai dirinya juga kehidupan pernikahannya.
Saat Primus kembali setelah mengantar Milea, Zefa langsung mengajaknya pulang karena melihat resto juga sudah tidak terlalu ramai akhirnya hari ini Primus pamit pulang lebih dulu pada salah satu karyawan kepercayaannya.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang tidak ada yang dibahas oleh mereka dalam mobil. Keduanya hanya sesekali bicara dan lebih banyak menikmati musik juga pemandangan diluar jendela. Sampai di rumah keduanya melakukan ritual seperti biasa.
Ketika mereka sudah bersiap untuk beristirahat, Zefa dibuat terkejut dengan kata-kata Primus, “Apa kamu yakin Mas?” tanya balik Zefa memastikan.