
Pertanyaan yang sangat menggoda dari Kalina membuat jiwa lelaki Raka meronta-ronta. Dia balas menyeringai dan menatap dalam, senyum tipis setelah beberapa saat. “Gak perlu aku jawab juga sepertinya kamu sudah tau,” sahutnya yang seakan memasrahkan dirinya.
Raka pasrah pada wanita itu, dia memilih seperti itu karena berpikir dan merasa sangat tahu karakter Kalina dengan baik jika bersama seorang pria. Ternyata pria itu menerka dengan sangat benar, Kalina langsung ******* bibirnya dengan penuh hasrat.
Pria itu sangat menyukai apa yang dilakukan Lina. Raka menyukai wanita yang penuh dengan gairah ini. Dia sangat menyukai wanita yang agresif seperti Kalina, berani dan tau sela dimana juga kapan harus bergerak membuat lawannya tumbang.
Raka bisa berpikir seperti itu karena dirinya sudah bertemu dengan banyak wanita walau Kalina sedikit sama dengan beberapa wanita yang ditemuinya tetapi tetap saja ada perbedaan yang membuat pria itu tergila-gila.
Dia sangat bergairah,’ batin Raka yang terus mencoba untuk mengimbangi gairah wanita itu.
Kalina seperti wanita yang baru saja diberi obat agar dirinya sangat bergairah. Beruntung Raka memiliki gairah yang juga sama dengannya maka pria itu bisa dengan mudah mengimbangi hasrat panas Kalina.
Gumam terdengar dari keduanya, satu persatu kain yang menghalangi keinginan mereka dilepas lalu dibuang sembarang tanpa keduanya menghentikan semua sentuhan. Keduanya sangat bergairah sehingga tidak lama bagi mereka untuk mencapai suhu tinggi dalam tubuhnya.
Peluh mulai membasahi tubuh keduanya sesaat ketika mereka mulai berada di atas tempat tidur berukuran sedang yang ada di tempat itu. Tubuh yang sudah sangat memanas membuat mereka langsung melakukan penyatuan tubuh.
“Aku gak kuat Lin,” ucap Raka dengan desah kasar.
“Lakukanlah,” sahut Kalina yang kemudian membuat wajah itu tertunduk dalam dua belah gunung besarnya.
Raka tenggelam dalam keindahan serta kenikmatan tubuh Kalina. Baru kali ini dirinya merasa sangat tidak bisa menahan hasrat pada seorang wanita dan dia adalah Kalina wanita yang baru saja di temuinya. Raka baru sekali merasa seperti saat ini tetapi dia sangat menyukainya.
Mereka melakukannya dengan sangat bergairah, tubuh mereka yang sudah mandi peluh berbanding terbalik dengan pasangan diluar sana yang masih bermain santai namun penuh dengan godaan yang membuat hasrat.
__ADS_1
Zefa dan Dirga masih belum melakukan penyatuan tubuh, mereka baru saja memainkan jari jemari nakal mereka untuk saling menyentuh dengan rasa yang menimbulkan gairah mereka perlahan naik. Jari nakal Dirga mulai merangkak ke bawah kain penutup tubuh Zefa, wanita itu meliukkan tubuhnya pelan.
Terdengar suara desis manja Zefa yang membuat Dirga tambah bergairah menjajaki setiap detail lekuk tubuh indah wanita yang sangat ingin disentuhnya itu. Zefa merasa tubuhnya lemas, dia melemah.
‘Ya ampun, kenapa aku sangat menikmatinya kali ini,’ batin Zefa yang tidak ingin Dirga melepaskan jari yang sedang merambah naik ke sekitar gunung besarnya. Kenakalan jari itu semakin membuat Zefa melemah saat dibantu dengan bagian tubuh dari Dirga yang tidak memiliki tulang namun sangat lihai.
‘Aku akan melakukannya kali ini,’ benak Dirga sambil menatap dalam Zefa yang sedang menikmati sentuhannya.
Dirga berhasil membuat pakaian atas Zefa terbuka sehingga dia bisa melihat dengan jelas dua gunung besar yang sangat menantang dirinya selama ini. Zefa membiarkan Dirga menikmati bagian tubuhnya itu kali ini. Pria tersebut dibiarkan bermain dengan benda kenyalnya.
Desahan manja wanita itu terdengar, Dirga tersenyum puas namun seketika raut wajahnya sedikit berubah ketika Zefa menahan gerak tangannya yang akan membuka kain penutup tubuh bagian bawah
“Mas,” ucapnya pelan dengan tangan yang menahan pergelangan tangan Dirga.
“Aku takut Mas,” balasnya dengan tatap penuh keraguan.
Dirga menghela nafas halus, dia coba mengerti apa yang sedang dirasakan Zefa saat ini. Tubuhnya perlahan naik dan dibuat sedikit berada di atas wajah Zefa. Satu kecupan singkat diberikan di kening Zefa yang wanita itu bisa rasakan jika pria tersebut memiliki rasa sayang untuknya.
“Jujur aku juga, tapi aku tidak mau menahan rasa yang ada dalam diri aku saat ini Ze, aku tidak bisa,” ucapnya.
“Iya … tapi Mas!” Sela Zefa namun sepertinya Dirga tidak ingin mendengar kata lain keluar dari bibir wanita itu.
Zefa terus menolak sentuhan Dirga kali ini karena dia sedikit merasa takut walau kadang dia juga sangat ingin menikmatinya lagi. Dirga yang sangat bisa membuat dirinya terlena dengan sentuhannya mulai membuat Zefa merasa tidak bisa menahan benteng pertahanan dirinya lagi.
__ADS_1
Gerak mereka terhenti seketika saat mendengar pekik Kalina, wajah Zefa langsung tertunduk. Dirga bisa melihat wajah merah wanita itu yang terlihat malu mendengar suara Kalina. “Kamu tidak mau seperti temanmu itu,” ucap Dirga dengan tatap penuh goda, “aku bahkan bisa membuat kamu berteriak lebih dari Kalina,” timpalnya.
Mendengar ucapan Dirga wajah Zefa semakin memerah, dalam kepalanya langsung terlintas bagaimana pria yang ada di depannya kini melakukan hal tersebut. “Bagaimana, mau,” ucapnya lagi membuat Zefa semakin memendamkan wajahnya.
Tidak ada jawaban dari Zefa yang di artikan iya oleh Dirga membuat pria itu langsung tancap gas lagi. Pria itu terus membuat Zefa tidak bisa menahan semua gerakannya. Kedua tangan Zefa dibuat terkunci agar tidak bisa bergerak.
Mulutnya dibuat sama supaya wanita itu tidak bisa mengatakan tidak, Dirga hanya ingin mendengar desah serta gumam yang indah didengar dalam telinganya. Tubuh Zef meronta pelan yang berarti tidak seluruh tubuhnya menolak apa yang saat ini sedang dirasa.
Kalina terpekik dibuat berpegangan kuat pada benda yang bisa dipegangnya karena Raka terus membuat tubuhnya bergerak. Hentakan kuat dan cepat Raka tidak bisa menahan suara Kalina. Pria itu membuat tubuh Kalina tidak berdaya.
Gairah yang sangat membara membuat keduanya tidak ingin jika malam itu mereka lewatkan dengan hanya saling bergesekan. Keduanya tidak mungkin bisa melewatkan momen seperti saat ini, hal yang sudah sangat ditunggu oleh Raka.
“Ka!” Teriak Kalina.
Raka tidak menjawab, dia terlalu fokus dengan rasa yang sudah membuatnya melayang. Rasa yang cepat ingin dikeluarkan dari dalam tubuhnya, “Mmpp, sebentar lagi Lin,” jawab Raka sedikit terbata juga dengan desah dan nafas yang sangat memburu.
Kalina melepaskan genggaman tangannya pada benda yang saat ini dipegangnya berganti berpegangan pada pergelangan tangan Raka yang sedang memegangi bagian pinggulnya kuat-kuat.
“Mmhh!”
Nafas mereka saling berkejaran, suhu dalam tubuh keduanya meningkat pesat membuat peluh semakin bercucuran. Kalina bisa melihat wajah Raka yang memerah ketika perlahan dia membuka kedua matanya karena ingin melihat bagaimana wajah Raka saat pria itu mengeluarkan hasratnya.
“AKH!” Teriak Raka yang membuat Kalina menahan rasa tetapi tersenyum senang sesudahnya.
__ADS_1