
Memang Zefa saat ini sangat kelelahan, lelah karena bermain hati, emosi dan pikiran. Primus tidak tega dan tidak akan bangun juga Zefa kalau dibangunkan Primus, alhasil pria itu menggendong Zefa sebentar agar merubah posisi tidurnya supaya bisa memberi ruang untuk Primus tidur.
Primus malam ini merasa kangen pada Zefa namun melihat wanita itu begitu kelelahan dia tidak tega untuk meminta kewajibannya. Wajahnya menoleh ketika mendengar sedikit dengkur Zefa, senyum tipis terlihat.
“Mana mungkin aku tega Ze, kamu gak sadar seperti itu walaupun aku paksa aku tidak puas nanti berasa main sama gedebog pisang,” ucapnya lalu menahaniki tawa.
Matanya mulai dibuat terpejam, Primus mencoba untuk beristirahat. Kali ini dia memeluk guling besarnya agar bisa sedikit mengurangi rasa inginnya melakukan itu dengan Zefa. Sama halnya dengan Primus, Dirga yang seharian ini berkutat dengan hasratnya sampai detik ini masih belum bisa menguasai diri.
Pria itu terus memandangi tubuh indah yang tidak berdaya juga bisa dibilang pasrah. Dirga menelan salivanya saat fokus mata nakalnya tertuju pada buah dada Milea yang seakan sengaja menggoda dirinya.
Sedikit gerakan Milea membuat dua benda kenyal tersebut semakin menggoda, benda kecil yang ada di ujung gunung besarnya itu seakan ingin segera merasakan gigitan gemas Dirga. Benda kecil yang menggemaskan itu terlihat jelas karena saat ini Milea tidak mengenakan kain menyangga benda kenyalnya tersebut.
Ditambah saat ini Milea mengenakan dress tidur yang terbuat dari bahan sutra, baju tidur yang masih belum dikancing kini dibuka. Dirga merasa suhu tubuhnya meningkat, semakin lama dia memandangi istrinya dengan daya khayal yang kian kesana membuat tubuhnya terasa panas.
“Aku tidak mau menahan ini lagi Mil, sudah tidak bisa,” ucapnya lalu mendekat setelah bajunya di lempar sembarang.
Perlahan Dirga naik ke kasur empuknya dan masuk ke selimut kemudian memeluk tubuh Milea dari belakang. Kecupan-kecupan singkat diberikannya mendarat di sekitar tubuh Milea yang membuat perlahan tubuh yang tadi diam itu bergerak dan tidak lama terdengar suara gumam manja.
“Bangun sayang,” pinta manja di telinga Milea yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Emm, Mas,” sahutnya dengan suara manja serak khas bangun tidur.
“Bangun sayang,” bisiknya yang kini membuat Milea balik badan.
__ADS_1
Mereka kini saling berhadapan, Dirga langsung mendaratkan sentuhan di bibir Milea tidak ada penolakan dari wanita itu, masih dengan menutup mata Milea membalas umpan dari Dirga. Tautan yang disambut dengan baik berlanjut sampai akhirnya Milea sedikit membuka mata.
“Emm, Mas ….”
“Aku mau sayang,” ucapnya manja lalu memberikan kecupan singkat.
“Besok pagi gak bisa Mas, aku ngantuk banget,” jawabnya malas.
Bukan menjauh Dirga malah makin menyusup dalam tubuh Milea membuat wanita itu sedikit merasa geli. “Tidak aku mau sekarang,” sahutnya dengan nada sedikit memaksa.
Dirga enggan melepaskan Milea, pria itu terus memberi sentuhan pada tubuh Milea walau wanita itu sedikit menahan diri. Suami yang sedang meminta jatah malamnya itu kini semakin nakal, jarinya kini mulai bergerak semaunya.
Kenakalan Dirga sudah membuat tubuh Milea meliuk, dia memberikan sentuhan-sentuhan nakalnya di titik kelemahan wanita pada umumnya. Tangan Milea sedikit menahan tetapi kedua tangan itu langsung dibuat tidak berdaya oleh Dirga.
“Mas …,” rengek Milea mendapati tubuhnya yang kini merasa kegelian namun dirasa nikmat oleh Dirga.
Beberapa saat kemudian Dirga membuat tubuh Milea yang hanya ditutupi kain tipis kini hanya terbungkus selimut tebal, sedikit kain segitiga masih menempel di bagian bawah tubuhnya. Masih merasa terhambat kini Dirga menyingkirkan selimut tebal yang tadi dibuat sebagai penutup tubuh keduanya.
“Aku dingin Mas,” rengek Milea.
“Seperti baru pertama saja, nanti juga tidak sayang,” godanya.
Bukan hanya selimut tebal yang disingkirkan Dirga tetapi kain penutup bagian bawah tubuhnya juga kini disingkirkan. Jadilah malam ini Dirga bisa mengeluarkan hasratnya, Milea yang tadi menolak ingin melakukannya pagi saja kini dibuat tidak berdaya.
__ADS_1
Emosinya dibuat naik turun oleh Dirga, wanita itu kini sudah tidak lagi merasa ngantuk. Seketika rasa lelah dan ngantuknya menghilang berganti rasa yang selalu ingin di dapatkan jika jauh bersama Dirga. Pria itu selalu bisa membuat dirinya merasa puas, hal itu yang tidak mungkin bisa dilupakan dan akan selalu diinginkan dari Dirga.
Dirga memang hebat di atas ranjang sehingga bukan hanya Milea yang saat ini menjadi pasangan hidupnya yang dibuat terlena namun wanita-wanita yang pernah tidur bersamanya ketika masih belum menikah sampai detik ini masih ingin menikmati kegagahannya.
Di lain kamar Primus yang berusaha menahan keinginannya ternyata membuat dia tidak bisa tidur. Pria itu hanya bisa memejamkan mata namun tidak hati juga pikirannya. Primus gelisah, sudah berbagai posisi dia coba agar bisa nyaman dan tidur dengan nyenyak tapi semua sia-sia.
Sudah lebih dari satu jam mencoba namun Primus masih juga belum bisa tidur karena keinginan adik kecilnya. Mau tidak mau akhirnya dia membuka mata lalu menoleh, “Ya ampun Ze,” ucapnya.
Primus dibuat menghela nafas ketika melihat posisi tidur dan keadaan Zefa saat ini, bajunya yang tersibak membuat perut serta bagian dadanya terlihat. Bagian yang sangat menggoda itu membuat Primus menelan salivanya, pria itu semakin tidak bisa menahan diri melihat Zefa saat ini.
“Ze, maaf yah …, aku gak kuat sepertinya,” kata Primus pelan lalu mendekat.
Tangannya membuka baju yang sedikit tersingkap semakin ke atas sehingga bagian depan yang menonjol semakin terpangpang nyata. Lampu dipadamkan, Primus kini hanya menggunakan lampu tidur kecil karena dia akan merasa lebih nyaman berada dalam suasana redup seperti saat ini.
Zefa tidak akan terbangun hanya karena sentuhan halus, wanita itu tetap diam sampai Primus berhasil membuka seluruh pakaiannya. Zefa hanya sedikit bergerak lalu tidur kembali saat Primus berhasil membuatnya tidak mengenakan sehelai benang pun.
“Emm,” gumamnya lalu tangan bergerak seperti mencari sesuatu, “selimut Mas,” pintanya masih dengan tangan yang mencari.
“Ini sayang,” jawab Primus lalu memeluknya erat membuat Zefa mengerang manja, “mas ….”
“Maaf aku ganggu Ze, aku tidak tahan lihat kamu tidur seperti itu,” balasnya.
“Mmhh,” rengeknya.
__ADS_1
Gerakan manja Zefa malah membuat hasrat Primus meningkat, dia terus menyerang Zefa yang masih enggan melayaninya. Pria itu pantang menyerah, dia memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang membuat akhirnya perlahan Zefa mulai sedikit pasrah.
Ia mulai menerima sentuhan itu, mulai ingin menikmatinya dan perlahan menginginkan Primus melakukannya lagi, “Ayo Mas.”