
Sisil beserta dua temannya berjalan santai dengan wajah congkak, mereka menghampiri Zefa juga Kalina dan Raka.
Wanita itu mengatur jarak lalu menghentikan langkah di depan Zefa sekitar lima langkah. Raka yang melihat jelas Sisil tersenyum tipis namun wanita sombong itu tidak tau kalau Raka sudah mengenalinya.
“Kenapa, pake acara bikin gua berhenti jalan lagi lo!”
“Urusan gua sama dia bukan lo!” Sedikit menyentak sisil menjawab.
Kalina menatap nanar lalu bergerak mendekat namun gerakannya ditahan tangan Zefa yang mencengkeram serat pergerakan tangan Kalina agar wanita itu tidak bertindak kasar. “Apaan sih Ze, biar ajas gua … pen banget mukanya itu gua bikin babak belur,” cerocos Kalina.
“Ada apa?” tanya Zefa pada akhirnya karena ia sudah malas berlama-lama melihat wajah wanita itu.
“Gua mau lo jangan pernah muncul lagi di depan muka gua, muak gua liat muka lo!”
‘KURANG AJAR!” Sentak Kalina lalu melepaskan diri dari genggaman Zefa mendekati Sisil yang sepertinya sudah siap dengan segala kemungkinan yang datang. Sisil tidak merasa takut sebab dia memiliki dua teman yang siap membantu bahkan rela mati untuknya.
“Lin!” Teriak Zefa namun sepertinya Kalina sudah sangat jengah dengan semua sikap serta ocehan Sisil yang terus memojokkan Zefa. Sambil mendekat Kalina terus berceloteh mengenai apa yang menyebabkan wanita itu benci sekali pada Zefa.
Kalina mengatakan jika Sisil masih menginginkan Primus dipersilahkan untuk mengambilnya, “Masalahnya Primus mau gak sama lo, seharusnya lo sadar diri dari dulu kenapa tuh cowok lebih milih teman gua yang cantik ini!”
“Dia merebut Primus dari guna menggunakan tubuhnya, jelas lah Primus langsung mau, lelaki mana yang gak mau kalau dikasih tubuh gratis!” Sahut Sisil yang buat dia dapat tamparan keras dari Kalina.
__ADS_1
Keributan tidak bisa dihindarkan lagi, setelah memberikan tamparan cukup keras di wajah Sisil, Kalina mendapat balasan dan bukan hanya itu karena dua teman SIsil juga ikut membantu. Mau tidak mau Zefa turun tangan bersama Raka.
Raka yang tadi hanya berniat menonton saja kini sama seperti Zefa yang mau tidak mau melerai keributan tersebut. Bukan hanya Zefa dan Raka, beberapa pengunjung disana langsung melihat mereka namun tidak mau melerai tetapi salah satu dari mereka melapor pada pihak keamanan.
Raka menarik lengan Sisil yang hampir saja mendaratkan pukulan di wajah Zefa. Melihat Zefa ada yang menolong juga itu adalah seorang pria sontak saja Sisil tambah geram, wanita itu semakin mengeluarkan kemarahannya.
“Jangan coba-coba menolong dia,” teriak Sisil, “apa kamu juga salah satu pria yang sudah menikmati tubuhnya hah!” timpalnya tanpa menghentikan gerakan memukul asal-asalan ke arah Raka.
Raka tidak menjawab, dia berhasil membuat kedua tangannya masuk dalam cengkeramannya. Sisil terus berteriak sementara itu kedua temanya sudah diamankan oleh penjaga keamanan di tempat itu, Zefa yang sudah sangat hilang kesabaran mendekat ke Sisil yang saat ini posisinya sedang dalam pegangan Raka.
PLAK
Baru satu kata keluar dari bibir Sisil dengan balasan tatapan nanarnya Zefa sudah membuatnya berhenti. Zefa mengeluarkan kekesalan pada Sisil yang selama ini sudah mengganggu hidupnya padahal dia tidak pernah mengganggu Sisil.
Semua ucapan yang selama ini dipendam keluar semua dengan nada membara. Kalina tersenyum senang melihat akhirnya Zefa bisa juga marah pada Sisil yang selalu memojokkan dirinya karena hal yang sudah bertahun-tahun berlalu.
“Lo bukan cewek bodoh Sil, tapi sayang lo gak berjiwa besar, gak mau disaingi dan gak bisa terima kalau ada orang lain yang lebih dari lo, pendendam, busuk hati lo!” Ujarnya.
Zefa menghentikan ucapannya beberapa detik karena ia melihat semua temannya yang sedang dalam aula keluar karena melihat pertengkaran itu namun di sela jeda beberapa detik itu Sisil tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ada dalam kepalanya seolah bibirnya kelu dibuat Zefa.
__ADS_1
“BUkan gua yang ambil Mas Primus dari lo, Mas Primus memang tidak pernah balas perasaan lo jadi lo marahnya kegua ditambah dia lebih memilih gua sebagai pendamping hidup sedangkan lo sangat menginginkannya,” ucapnya lagi.
“Sadar diri lah dan intropeksi diri, legowo kalau dia memang bukan jodoh lo,” ucapnya lagi lalu balik badan pada semua temannya, “dan untuk kalian yang selalu menganggapku jelek juga murahan, apa salah kalau aku memiliki tubuh yang indah juga wajah cantik, tidak berarti aku menjual diriku akan hal itu,” katanya.
Semua temannya saling pandang, memang tidak semua menganggap Zefa seperti itu tetapi sebagian besar mereka memikirkan hal itu pada diri Zefa karena dari mulut satu ke mulut lainnya. Zefa mengatakan jika dirinya lelah dipandang seperti itu sedangkan dia tidak seperti itu.
Zefa lalu balik bertanya pada mereka, apa mereka tidak pernah pergi dengan teman lelaki, apa yang pergi dengannya harus dicap membeli tubuhnya. Semua diam sedangkan Kalina semakin tersenyum lebar, Zefa mengatakan kalau dirinya ingin seperti yang lain, bercanda tanpa beban.
Dia bukan takut tapi dia risih, dengan wajah sedih dia mengatakan kalau dirinya lelah dan dirinya ingin bercengkrama tanpa ada yang memandang rendah dirinya. Hela nafas panjang dilakukan Zefa setelah dia mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Raka melepaskan Sisil dan Kalina memberikan apuse penuh semangat untuk Zefa.
“Good job my friend,” teriaknya,, “aku mau tambah satu lagi, jangan suka memandang orang sebelah mata siapapun itu, sedih tau, sakit rasanya, gua sih berharap semoga kalian gak ada yang kayak Zefa,” timpalnya kemudian menatap tajam Sisil, “kalau lo masih bersikap sama setelah ini, masih menaruh dendam sama Zefa … gua yang bakal turun langsung biin lo sadar.”
Sisil mengendus kesal, dia minta agar dua temannya dilepaskan namun dua penjaga keamanan itu menolak dan berkata kalau mereka juga Sisil akan dibawa ke pos untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka dan Raka serta Zefa diminta sebagai saksi.
“Tidak perlu diperpanjang Pak, saya yang tanggung jawab,” seru Raka yang akhirnya membuat Sisil juga dua temannya dibebaskan.
Baru Sisil dan dua temanya itu mau pergi raka menahannya, dia mengatakan sesuatu yang membuat Sisil serta dua temannya mematung dengan wajah perlahan memucat. “Kalau lo masih seperti ini sama Zefa, gua pastikan semua keburukan lo bakal gua bongkar,” tutur Raka, “semua yang lo ucapkan pada Zefa sebenarnya ada di diri lo sama dua temen lo itu.”
Mata Sisil membesar, “Jangan asal ngomong lo!”
__ADS_1
“Gua bukan orang seperti itu, gua bakal langsung sebar semua foto bahkan videonya dimana kalian menjual murah tubuh kalian!”