
Dirga menghela nafas lalu perlahan menjauh seraya berkata, “Sudahlah Ze, jangan buat rusak suasana hati aku saat ini.”
Zefa balik badan kemudian membuat wajah mereka saling bertatapan, “Tadi terlintas bayangan Mas Primus di kepalaku Mas, jujur aku merasa sangat bersalah, aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, ini hal pertama yang aku lakukan, aku melakukan hubungan intim dengan pria lain selain Suami aku,” ungkapnya.
Dirga menatap dalam, dalam benaknya dia tidak pernah mengira jika ternyata Zefa tidak pernah menghianati Primus di atas ranjang. ‘Aku pikir dia bukan sudah sering mengkhianati Primus, ternyata ….’
Mungkin jika orang melihat dari gaya serta penampilan Zefa banyak lelaki yang mengira sama seperti Dirga saat ini. Sama seperti keluarga Primus yang memang tidak pernah mau mengenal Zefa lebih dalam, mereka selalu melihat Zefa dari luarnya saja.
Tangan kekar Dirga membelai lembut wajah Zefa masih dengan tatapan dalamnya. “Ze, jujur aku senang dengar pengakuan kamu ini, tapi saat ini sudah dini hari, kamu mau pulang ke rumah yang malah nanti akan jadi pertanyaan Suami kamu,” ucap Dirga.
“Tidak Mas, aku pulang ke rumah Kalina sebab aku sudah izin bermalam disana,” jawabnya.
Dirga tersenyum tipis, “Apa kamu lupa, saat ini Kalina tidak akan pulang karena dia sedang menikmati waktunya dengan buaya itu jadi aku berharap kamu juga demikian,” tuturnya, “nikmati waktu bersama aku malam ini, itu yang aku mau,” ucapnya lagi.
“Buaya, kamu apa!” sindir Zefa ketika dia mendengar Dirga memanggil Raka buaya.
“Ngaku aku sama tapi levelnya berbeda, aku pemula,” sahutnya lalu tertawa yang juga membuat Zefa tertawa manis, “malam ini kamu milik aku dan aku akan menghilangkan Primus dari kepalamu,” timpal Dirga.
Zefa tersenyum tipis, dia masih merasa ada yang mengganjal dalam dirinya jika harus bermalam dengan Dirga disana namun pria itu sangat bisa meluluhkan hati Zefa saat ini. Dirga merangkul dan menggiringnya untuk berbaring berdampingan
Pelukan hangat serta beberapa kecupan singkat diberikan agar Zefa merasa tenang. Apa yang dilakukannya berhasil, Zefa tenang karena juga Dirga sesekali membisikkan kata-kata indah nan romantis di telinga Zefa memang membuat dirinya lebih nyaman bersandar di tubuh Dirga.
“Apa kamu sudah mengantuk?” tanya Dirga lembut.
__ADS_1
“Emm, apa kita akan tidur disini?” balas Zefa manja yang merasa sangat nyaman dalam dekapan Dirga.
“Iya … tapi kalau kamu tidak merasa nyaman kita bisa cari tempat di luar.”
“Oh tidak perlu, gak enak juga kalau kita meninggalkan Kalina disini, kita disini saja,” balas Zefa yang sepertinya sudah sangat mengantuk dan enggan menggerakkan tubuh.
“Yaudah, sekarang kamu tidur karena aku juga sudah sangat mengantuk, lelah habis mengeluarkan banyak energi,” gurau Dirga yang membuat mereka tertawa.
Tiga hari berlalu, Kalina semakin dekat dengan Raka. Wanita itu sudah membuat Raka terlena bahkan tidak ingin jauh dari wanita itu saat ini. Kalina yang masih tidak terlalu memiliki perasaan pada Raka perlahan mulai melihat kesungguhan dia walau baru beberapa hari.
Ada rasa senang dalam diri janda kembang tersebut ketika Raka begitu menyayangi dan meratukan dirinya tetapi rasa sakit serta dingin pada pria mengenai cinta serta rasa ingin memiliki pria lain yang sampai detik ini masih melekat kuat masih tetap bertahan dalam dirinya.
Kalina masih tidak terlalu goyah dengan semua yang dilakukan serta yang diberikan Raka untuk dirinya. Wanita itu sudah terlalu merasa sakit yang teramat dalam hatinya karena sosok seorang pria sementara itu hubungan Zefa dengan suaminya juga Dirga dengan istrinya masih berjalan baik-baik saja.
“Jadi bagaimana Mas, apa kita tetap melanjutkan kerjasama ini apa kita harus selesai!”
Hela nafas terdengar dari Primus, pria itu tidak langsung menjawab. Dia bersandar di kursi dengan raut sedikit bingung, pria itu ingin melanjutkan namun seperti nya Primus harus berpikir tujuh kali karena saat ini kemungkinannya sangat kecil.
“Jujur aku belum tau Mil, aku gak tau harus jawab apa,” balasnya lesu.
“Ya sudah, apa kita perlu bicara atau diskusi menerima masukan dari yang sudah berpengalaman jauh!”
“Maksud kamu Dirga?”
__ADS_1
“Nggak gitu juga, banyak yang lain kan Mas!”
Primus masih belum mau menjawab, dia masih ingin berdiskusi banyak hal dengan Milea agar dia bisa menjawab pertanyaan wanita itu. Mereka banyak bertukar pikiran untuk usaha mereka yang masih seumur jagung tetapi tidak berkembang.
Apa yang ada di kepala mereka dikeluarkan, ide juga saran di tumpahkan di meja itu. Satu jam berlalu mereka masih belum menemukan titik terang, kepala keduanya sudah terasa panas sampai-sampai mereka tidak sadar jika sudah menghabiskan beberapa gelas minuman dingin selama berdiskusi.
Wanita berpakaian casual masuk dengan wajah cantik serta kemolekan tubuhnya. Beberapa pelayan menyapa ramah yang dibalas dengan ramah juga oleh wanita tersebut. Matanya mencari sesuatu sampai akhirnya senyum terlihat yang menambah kecantikan wanita tersebut.
Kembali langkahnya dilanjutkan perlahan namun pasti ke arah yang dituju, “Sore Mas,” sapa wanita itu pada dua orang yang sedang asyik berbincang.
Wajah terkejut terlihat pada dua orang tersebut, “Kamu Ze, sama siapa, kok gak bilang mau kesini?” tutur Primus sambil beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangan.
Uluran tangan itu disambut hangat Zefa seraya menjawab, “Iya, aku juga dadakan kesini Mas, tadi Kalina telepon dan meminta aku untuk menunggunya disini, jadi aku kesini deh buru-buru takut dia yang datang duluan.”
“Emm, ya sudah duduk sini,” sahut Primus yang lalu menggeser kursi di sampingnya untuk duduk sang istri.
Zefa dan Milea saling sapa karena mereka sudah lama juga tidak bertemu akhirnya obrolan Milea dengan Primus berbelok arah. Mereka jadi bicara mengenai mengenai kehidupan sehari-hari, kehidupan dalam rumah tangga keduannya.
Rasa sedikit canggung mendera tetapi Zefa bisa mengatasi semua dengan baik. Dia tidak terlihat canggung di depan Milea yang notabene adalah istri dari pria yang sudah tidur bersamanya beberapa malam yang lalu.
Primus juga menceritakan bagaimana keadaan usaha yang saat sedang dirintisnya bersama Milea yang kurang baik namun Zefa menyikapinya dengan bijak. Itu yang membuat Primus sangat mencintai Zefa, wanita itu selalu bisa membuat Primus merasa dicintai.
“Kalian sweet banget sih, Zefa bikin aku iri deh,” ungkap Milea melihat interaksi pasangan yang ada di hadapannya saat ini, ucapan Milea membuat mereka semakin mesra dan membuat Primus semakin memanjakan Zefa, “Mas Dirga bisa dibilang setahun sekali baru bersikap manis sama aku Ze,” timpalnya yang membuat Zefa dan Primus saling pandang.
__ADS_1