P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)

P2 (POLIANDRI & POLIGAMI)
TERBUAI


__ADS_3

     Zefa terdiam, mereka saling tatap dalam jarak yang sangat dekat. Dirga memberikan senyum manisnya pada wanita yang menatapnya dengan arti namun tidak bisa ditebak Dirga. Sunyi tercipta beberapa saat dan perlahan mereka sama-sama bisa mendengar detak jantung masing-masing.


     Sementara itu di lain tempat Primus baru sampai ketika jam makan siang bersama Milea. Mereka memilih makan siang terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka akan  bertemu dengan kolega Primus juga bertemu dengan salah satu teman lamanya.


     Pertemuan primus dengan temannya baru akan dilakukan sekitar satu jam lagi jadi masih ada banyak waktu untuk mereka makan dan bicara. Keduanya tampak akrab seperti biasa, selesai makan siang dan sedikit berbincang ringan mereka langsung meluncur menemui teman Primus.


     “Hai Gar,” tegur Primus pada seorang pria yang sedang menghadap jendela menikmati pemandangan di luar.


     Milea sedikit berpikir, apa nama yang diucapkan itu adalah salah satu teman yang dikenal juga dan ketika menoleh keduanya sama-sama terkejut. “Primus, apa kabar,” sahutnya gembira, “loh, kok …,” timpalnya terkejut ketika melihat ada Milea di samping Primus.


     Primus tersenyum sedangkan Milea memukul pria itu perlahan seraya menggerutu manja, “Kamu yah, kenapa tidak bilang kalau yang mau kamu temui adalah Tegar!”


     “Iya maaf dan kamu juga tidak tanya kan?” jawab Primus membuat Milea sedikit majukan bibir tipisnya.


     Primus menceritakan jika ketika dirinya akan pergi tiba-tiba Milea datang lalu merengek ingin ikut. Mendengar cerita Primus sudah pasti orang yang mendengarnya akan berpikir jika mereka memiliki hubungan begitu pula dengan tegar.


     “Kalian …,” kata Tegar lagi yang tidak dilanjutkan namun kedua temannya itu pasti sudah mengerti maksud dari ucapannya.


     “Emm tidak, kami sudah memiliki pasangan masing-masing,” ungkap Primus kemudian kembali menjelaskan jika dirinya dan Milea juga belum lama bertemu kembali seperti dirinya dan Tegar yang sudah sangat lama tidak berjumpa kini bertemu kembali.


     Senang dengan pertemuan itu membuat mereka merasa sedang melakukan reuni kecil-kecilan. Ketiganya lalu masuk untuk menikmati waktu bersama, setelah hampir dua jam bicara mereka memiliki gagasan untuk menghubungi siapa saja teman mereka yang kebetulan keberadaannya dekat untuk bergabung.

__ADS_1


     Di tengah obrolan Milea ingat dengan kata-kata suaminya yang meminta dirinya untuk memberi kabar jika ia sudah sampai ditempat tujuan. Milea lalu melakukannya, dia mengirim pesan singkat yang memberi kabar hal tersebut.


      Wanita itu tahu jika tidak mungkin langsung dibalas karena ia juga tahu kalau suaminya itu tidak akan memegang ponselnya terus menerus. Setelah mengirim pesan Milea kembali meletakkan ponselnya setelah memberi kabar pada suaminya tersebut.


     Dirga dan Zefa mendengar ada beberapa pesan masuk namun mereka mengabaikannya sebab untuk saat ini baik Dirga juga Zefa sama-sama tidak ingin ada yang mengganggu kebersamaan yang saat ini sedang mereka jalani.


     Pria itu bahkan meminta pada Zefa untuk tidak mengaktifkan ponselnya begitu pula dengan miliknya. Keinginan Dirga di ikuti Zefa sehingga untuk beberapa jam kedepan tidak akan ada yang bisa mengganggu mereka.


     “Mas,” tegur Zefa membuat mereka tersadar.


     “Emm,” sahut Dirga hanya dengan gumam, pria itu malas menjawab karena dia tidak ingin lepas tatapan dari Zefa. Dirga malah membuat Zefa semakin dekat dengan kembali merangkul tubuh wanita itu.


     “Mas,” kembali dia memanggil lembut Dirga yang juga dijawab hanya dengan gumam oleh pria itu dan keadaan tersebut membuat keduanya tertawa geli.


     Tanpa sadar keduanya terus terbuai dengan canda manja yang mereka lakukan sampai saat tiba ketika posisi mereka kembali membuat keduanya diam dalam tatapan dalam. Zefa berada di bawah tubuh Dirga dengan posisi tidur dengan rambut dan pakaian yang sudah sedikit tidak karuan.


     Rasa lain muncul apalagi sesaat fokus Dirga tertuju pada bagian tubuh Zefa yang menantang terlihat naik turun karena nafasnya yang terengah sebab canda mereka tadi. Buah yang besar nan menggoda itu semakin membuat Dirga berpikir jauh ketika melihat benda tersebut bergerak.


      Ditambah dengan seru nafas yang terengah dari bibir Zefa terdengar dan didengar oleh telinga Dirga begitu lembut seperti bisikan yang memanggil hasratnya yang memang sudah merangkak naik. Kembali suasana sunyi tercipta, hanya terdengar detak jantung keduanya yang kian keras terdengar.


      Di lain tempat satu persatu teman yang dihubungi Tegar dan Primus berdatangan. Mereka seakan tidak ingin melewatkan kesempatan ini dan juga mereka memang sedang memiliki waktu luang bahkan ada yang juga sengaja meluangkan waktu.

__ADS_1


     “Ya ampun Tur, lo dateng juga!” Seru Tegar ketika melihat catur salah satu teman mereka yang juga menyempatkan diri datang.


     “Iya lah, gak bakal gua lewatin apalagi waktunya tepat,  gua emang lagi gak ada kerjaan dan juga pas deket banget sama tempat kerja juga,” jawabnya lalu melihat ke arah Milea, ‘apalagi ada Milea disini,’’ godanya yang sontak membuat suasana riuh.


     Tegar memukul Catur yang masih saja genit dengan wanita walau dia sudah memiliki keluarga namun ternyata Catur tidak peduli dia bahkan bicara semaunya, “Jujur gua gak nyangka kalau lo Mil bakal jadi juga sama si Primus ini, padahalkan jauh kemana-mana si Primus sama gua,” ucapnya dengan kepercayaan diri penuh.


     Sontak hal itu kembali membuat suasana bergemuruh, bukan hanya dengan suara tetapi beberapa teman mereka yang sudah berkumpul kompak memukul Catur yang memang suka sekali membuat suasana menjadi ramai dan bikin gemas teman-temannya.


     Milea yang jadi wanita satu-satunya di sana dibuat sangat malu oleh kelakuan Catur yang tiada henti, Milea senang karena ikut bersama primus. Dia merasa tidak salah ikut dengan pria itu sebab jika di rumah mungkin saat ini dirinya tidak akan bisa tertawa lepas seperti saat ini.


     “Kamu cantik sekali Ze,” puji Dirga dan hanya dijawab senyum tipis yang manis juga wajah memerah Zefa.


     “Apa sih Mas, sudah ah, kita pulang sekarang yah,” jawab wanita itu yang membuat Dirga kembali sedikit kesal.


     “Aku sudah bilang kalau jangan ulangi itu atau …,”  balas Dirga dengan tatapan dalam.


     “Atau apa?”


     Dirga diam dengan tatapan yang semakin dalam, tatap mata itu seolah perlahan membuka satu persatu benteng pertahanan Zefa. Wanita tersebut merasa lemah, bukan hanya itu tapi dalam benaknya hati Zefa perlahan mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


     Perlahan Dirga membuat mereka semakin dekat masih dengan tatapan dalam yang seakan menghipnotis Zefa dan membuatnya pasrah dengan apapun yang akan dilakukan Dirga padanya. Pria itu membuat bibir mereka saling menempel, diam sesaat kemudian bergerak perlahan.

__ADS_1


     Gerakan perlahan yang mereka nikmati itu membuat Zefa menggumam setelah beberapa saat, “Emm.”


__ADS_2