
Raka tersenyum tipis lalu dia mendekatkan wajahnya lebih mendekat bahkan pipinya sengaja di buat menempel ke pipi Kalina lalu berbisik, “Masa harus aku jelaskan, yang itu loh … aku gak mau kalau cepat kalau yang itu, gak enak sayang, hehe.”
Setelah Raka menjauh Kalina tertawa tipis sambil menggelengkan kepala. Semua saling sapa lalu masuk untuk berbincang ringan dan sedikit melepas lelah karena kemacetan di jalan tadi. Primus dan Zefa saling bergantian membersihkan diri, Primus lebih dulu karena dia merasa sudah sangat tidak nyaman.
Zefa karena masih harus memberikan beberapa jamuan kecil jadi dia memilih setelahnya. Kalina juga Raka mereka langsung izin untuk pergi ke teras belakang untuk melepas kerinduan. Zefa hanya bisa menghela nafas saat Kalina yang dia sangat tahu sengaja melakukan hal itu.
Zefa berusaha menyibukkan diri sementara itu Milea terus mendekat pada suaminya walau Dirga sesekali menolak untuk itu. Pria tersebut sedang mencari cela agar dirinya bisa bicara atau mungkin sedikit mengeluarkan hasratnya.
“Hai,” sapa lembut suara yang sangat di kenal Zefa.
Wanita yang sedang membuat minuman untuk para tamu sontak balik badan dan sedikit terkejut ketika mendapati Dirga sudah berada di belakangnya dengan jarak wajah yang hanya dua jengkal. Pria itu langsung membuat tubuh Zefa tersudut lalu dengan cepat membuat bibir mereka saling menempel kemudian bergerak ******* pelan.
Tidak ada perlawanan dari Zefa, dia bahkan membalas dengan lembut. Sedikit waktu di sela rasa takut membuat Zefa spontan mendorong tubuh Dirga ketika telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
Mereka seketika saling menjauh dengan jantung yang masing-masing juga bergerak cepat. Zefa melanjutkan kerjaannya yang tadi sempat tertunda sedangkan Dirga sedikit menjauh berada di depan lemari pendingin.
“Kalian disini?”
“Iy, Zefa lama buat minumannya jadi aku ambil sendiri deh, sudah haus banget soalnya,” sahut Dirga sedangkan Zefa balik badan dan hanya sedikit menyunggingkan senyum.
“Emm masih lama gak sayang?” tanya Primus pada sang istri.
“Tidak kok Mas, satu lagi selesai, Mas Dirga aja yang memang sudah kehausan,” jawabnya sambil bergurau.
__ADS_1
Dua pria itu tertawa kecil, “Ya sudah kalau begitu, aku ke depan yah,” balasnya, “Yuk ga, ada yang mau aku bicarakan juga sama kamu,” timpal Primus.
“Oke, masalah apa?”
Primus masih menahan jawabannya, dia ajak Dirga keluar dari dapur untuk di ajak ke ruang tengah. Mereka bicara, Primus mengungkapkan bagaimana dia merasa tidak enak sebab usahanya yang coba di bangun bersama Milea tidak berjalan lancar.
Dengan bijak Dirga menjawab karena dia bukan baru di bidang usaha dan dirinya juga tau persis Primus sangat tahu juga hal tersebut. Dirga tidak mempersalahkan hal tersebut bahkan dia akan tetap dan terus mendukung jika Milea masih ingin melanjutkan atau coba ke bisnis yang lain.
Milea ikut diskusi, disana ia kembali membuat Primus agar jangan terlalu memikirkan hal itu karena hal tersebut sudah sangat biasa. Tidak lama Zefa datang sambil membawa minuman juga sedikit camilan. Ketika ia akan menghampiri Kalina Primus melarangnya, Primus coba beri sedikit ruang untuk pasangan baru tersebut.
“Sayang, aku mau,” rengek Raka yang sudah bergelayut manja di pangkuan Kalina.
Kalina yang tidak pernah memanjakan pria kali ini sedikit berbeda, wanita itu terus memberi belaian lembut di kepala Raka yang terlihat sangar namun manja. Hal yang membuat Kalina sering sekali mejadikan hal tersebut senjata meledek Raka.
Dengan wajah sumringah Raka mendekat seraya berkata, “BENERAN!”
Kalina tersenyum kemudian menjawab, “Iya … jujur dari dalam hati, aku sedang sangat ingin.”
Raka dengan cepat memeluk Kalina yang di lanjutkan mereka yang langsung melepas sedikit hasratnya. ***** sedikit bergairah membuat darah yang sudah bergejolak menjadi sedikit mendidih. Kursi yang mereka duduki sedikit bergerak dan berirama mengikuti gerak dua manusia yang ada di atasnya.
Empat orang di ruang tengah masih berbincang sedikit serius, mereka masih bicara mengenai usaha yang tidak berjalan lancar sampai akhirnya Kalina beserta yayang ikut bergabung setelah melepas seperapat dari hasratnya.
Semua bicara santai, lepas satu jam Primus dan Zefa ajak semua ke teras belakang untuk mulai aktifitas panggang memanggang. Malam itu semua seperti bisa, seperti tidak terjadi apa-apa. Milea yang tadi sedikit memanas kini perlahan sudah dingin.
__ADS_1
Mereka mesra dengan pasangan masing-masing. Dirga juga Zefa berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa mereka yang terlarang. Ternyata semua memiliki ke inginan yang sama, semua sepakat untuk bermalam di rumah Primus dan karena kesepakatan itu sang tuan rumah tidak bisa menolak.
“Udah ngantuk nih aku, kalau aku tidur lebih dulu apa gak masalah?” tanya Milea yang memang sesekali sudah terlihat ngantuknya.
“Sudah jam satu juga, kita memang harus istirahat karena besok an masih harus aktifitas lagi” balas Primus yang juga sudah merasa lelah.
“Ya sudah,” sahut Dirga kemudian berajak dari duduknya, “kita istirahat saja,” timpalnya sambil mengulurkan tangan ke Milea membantu dia bangun sekaligus mengajaknya untuk beristirahat.
Zefa dan Primus sama beranjak namun tidak dengan Kalina. “Kami masih mau disini, kalian beristirahatlah karena memang kalian punya rutinitas pagi,” kata Raka, kemudian menoleh ke Kalina “kalau kita kan bebas jadi mau samapi pagi juga tidak masalah,” kembali dia berkata sambil memperlihatkan senyum manisnya.
“Ya sudah, anggap saja rumah kalian sendiri, kami istirahat dulu yah semua,” balas Primus yang lalu menggandeng Zefa untuk masuk.
Tuan rumah masuk lebih dulu yang kemudian di susul beberapa oleh Dirga dan Milea. Sampai di kamar Zefa membersihkan diri lalu menyusul suaminya yang sudah lebih dulu rebahan sementara itu Milea juga cepat tertidur karena rasa kantuknya yang tidak bisa lagi di tahan.
Pasangan yang masih ingin melepaskan kerinduan mereka bermesraan di bawah sinar rembulan malam yang indah. Mulai dari saling bercanda sampai mulai bersentuhan lembut mereka lewati. Malam kian dingin membuat keduanya merasa membutuhkan kehangatan.
Raka yang sangat peka tanpa di minta langsung menyusupkan kedua tangannya ke bagian dalam pakaian Kalina. Tangan pria itu perlahan merayap ke bagian atas tubuh Kalina yang awal masuk di bagian perut sekarang terus merambat naik.
“Apa!” tanya Raka ketika Kalina sedikit menoleh dan melihat Raka dengan bibir yang sedikit dibuat runcing.
Tubuhnya kini berputar membuat mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, hal itu membuat hasrat Raka semakin bergelora. Raka gemas dengan sikap Kalina yang manja menggemaskan dimatanya itu.
“Mau sekarang, disini?”
__ADS_1