
Dua wanita yang penasaran terus mendekat, selama mereka jalan masih tidak melihat ada seseorang dalam ruangan melalui jendela yang cukup besar di ruang samping. Pintu yang sudah sedikit terbuka semakin digerakkan melebar sambil memanggil nama Zefa.
Tidak ada jawaban sampai mereka akhirnya saling pandang, "Aduh tuh anak ada gak sih," ucap salah satu dari kedua orang itu yang lalu saling pandang.
"Coba panggil lagi deh," jawab yang satunya.
Salah satu dari mereka kembali memanggil Zefa dan kali ini ada jawaban darinya. Zefa menuruni anak tangga sambil menjawab panggilan temannya itu. Wanita tersebut masih mengenakan pakaian rumah dengan rambut yang di kuncir asal.
"Kalian!" Seru Zefa melihat dua temannya datang.
"Kenapa muka Lo gitu, pasti lupa deh."
Suasana hening datang sejenak sampai Zefa kembali berkata, "Iy, jujur aku lupa, emang kita ada janji yah?"
Zefa berkata dengan raut wajah bingungnya yang di respon teriakan dua temannya secara bersamaan. "YA AMPUN ZEFA …."
Zefa nyengir terpaksa karena sampai detik itu pun dia masih belum ingat jika sudah memiliki janji dengan temannya namun Zefa tetap meminta mereka untuk duduk di ruang tengah.
Setelah mereka duduk manis salah satu dari temannya itu mengingatkan kembali kapan mereka sudah membuat janji dan akan kemana mereka pergi saat ini sementara itu di ruang atas tepatnya di sebelah kamar Primus masih ada yang bergegas merapikan diri.
Sambil menggerutu pria itu terus membenahi diri, setelah tapi dia berjalan mengendap kelantai bawah. Melihat ternyata yang memanggil Zefa masih berada disana akhirnya Dirga kembali ke kamar dan memilih menunggu Zefa selesai.
"Jadi gimana sekarang, Lo mau pergi sekarang apa nggak?"
"Iya, tapi gua belum mandi dan belum izin juga sama Mas Primus gimana dong," jawab Zefa sbip nyengir.
"Ah lama Lo, udah sekarang telepon Suami Lo terus Lo mandi, gua mau beli sesuatu dulu di supermarket depan, setengah jam lagi gua balik."
"Satu jam lah," tawar Zefa karena waktu yang diberikan dengan rasa tidak cukup.
__ADS_1
Kedua temannya mau tidak mau akhirnya memberi waktu itu pada Zefa walau mereka tahu jika akhirnya mereka akan terlalu siang pergi ke tempat tujuan. Setelah kedua temannya keluar gerbang Zefa bergegas ke atas.
Wanita itu berlari kecil menaiki anak tangga agar cepat sampai ke kamar untuk menemui Dirga. Sampai di depan kamar Zefa langsung membuka pintu kamar.
Suara pekik terdengar karena terkejut, Zefa dibuat terkejut sebab Dirga ternyata tepat berada di depan pintu hendak keluar. Satu pukulan mendarat di dada bidang Dirga.
"Kamu bikin aku kaget aja sih Mas!"
"Kamu yang buat kaget aku, baru aku mau keluar taunya kamu tiba-tiba buka pintu, aku juga kaget Ze," sahut Dirga lalu tertawa, "mereka sudah pergi?"
"Emm," jawab Zefa sambil mengangguk, "makanya aku kesini mau ngasih tau, sudah sana cepat pergi," timpal Zefa lalu mendorong tubuh Dirga keluar dari kamar.
Dirga keluar lalu menuruni anak tangga, sesaat dia kembali melihat ke atas karena merasa jika Zefa tidak mengikutinya dan ternyata benar. Zefa berdiri sambil melamun, melihat Zefa melamun pria itu balik badan mendekati.
Dirga bertanya kenapa Zefa melamun, awalnya dia tidak ingin bicara tetapi Dirga terus mendesaknya sampai wanita tersebut mengikuti kemauannya.
Dari cerita Zefa yang sampai di situ Dirga langsung paham kekhawatiran wanita yang ada dihadapannya kini. Pria tersebut memberikan senyuman hangat lalu memberikan kecupan singkat di kening Zefa.
"Kamu tenang saja, aku akan berikan uang supaya kamu bisa bersenang-senang hari ini," kata Dirga buat Zefa terkejut.
"Nggak Mas bukan itu maksud aku, aku memang lagi malas pergi saja," seru Zefa sambil menggoyangkan dua telapak tangannya.
"Sudahlah Ze, sana kamu pergi mandi, aku pergi dan nanti aku akan kirim," balas Dirga kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Zefa dan berbisik, "makasih untuk kali ini."
Mata Zefa membesar sedangkan Dirga langsung balik badan dan pergi sambil tertawa senang. Zefa jadi ikut tertawa senang, selain karena melihat Dirga dia juga senang karena akan dapat uang darinya.
Dirga langsung meluncur ke tempat kerjanya setelah mengirim sejumlah uang untuk Zefa bersenang-senang. Dalam perjalanan bayangan kejadian beberapa menit yang lalu terus berjalan di kepalanya.
Pria itu terus tersenyum, senyum lebarnya terus mengembang sampai ia masuk dalam ruang kerja sementara itu Zefa yang baru saja selesai merapikan diri duduk manis sambil menata rambut indahnya.
__ADS_1
Ponsel yang ada di dekatnya diraih lalu dibuka, ingat dengan ucapan Dirga tadi Zefa buka dompet digitalnya dan mata indah Zefa membesar sempurna saat melihat nominal yang diberikan Dirga.
"Gila! Mas Dirga apa gak salah beri aku lebih banyak dari kemarin."
Terkejut juga senang kini yang dirasa Zefa, uang yang kantin saja masih cukup banyak di simpan untuk kepergiannya nanti dengan Kalina dan sekarang dirinya malah dapat yang lebih besar.
"Senang, bersyukur, ya Tuhan kenapa sih jalannya harus seperti ini," ucap Zefa setelah dirinya rapi.
Dua temannya datang tidak lama setelah Zefa selesai dengan ritualnya. Mereka langsung pergi untuk bersenang-senang, Zefa pergi dengan menggunakan kendaraan temannya dan tempat pertama sudah adalah rumah makan yang akan mereka kunjungi.
Di lain tempat Primus sudah datang ke tempat tujuan. Milea sudah datang lebih dulu dan dia sudah memesan makanan untuk Primus agar pria tersebut bisa langsung makan jika datang.
Ucap terima kasih langsung keluar dari bibir Primus untuk Milea yang di ejeknya sangat peka. Mereka makan siang terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti bicara tentang pekerjaan.
Wajah sumringah Dirga membuat beberapa teman kantornya melihat heran bahkan sampai bertanya. Mereka juga merasa senang melihat Dirga bahagia bahkan hari itu dia menjadi bahan olokan rekan sekerja.
"Ze, dimana nih, Lo mau makan apa?"
"Lesehan enak kayaknya."
"Boleh juga, ya udah lesehan aja."
Mereka makan siang di selehan yang menyajikan banyak makanan. Tawa serta rasa bahagia mereka terlihat jelas oleh orang yang berada di sekeliling mereka saat ini.
Mereka makan sambil berbincang ringan yang diselingi canda tawa. Zefa terutama, rasa bahagia dirasakan dirinya sebagai wanita yang sangat beruntung karena bertemu dengan Dirga.
Bahkan dikepalanya sempat melintas apa Milea juga diberlakukan sama seperti Dirga memperlakukannya saat ini. Zefa membayangkan hal itu dan dalam benaknya kini berpikir sesuatu yang mulai berbelok arah.
'Aku pasti sangat bahagia jika bisa jadi pasangan Mas Dirga, apa bisa aku menggantikan posisi Milea suatu saat nanti,' ucap Zefa dalam hati.
__ADS_1