
“Kakak ada dimana?” tanya seseorang di ujung telepon yang membuat Zefa malas.
“Memangnya kenapa?” sahut Zefa malas.
Mendengar suara malas Zefa sosok yang ada di ujung telepon itu merasa kesal, “Kakak kok gitu sih, gak mau yah kalau aku main ke rumah Kakak!”
“Bukan seperti itu La, aku sih tidak masalah kalau kamu kamu kerumah, tapi saat ini aku sedang tidak ada di rumah,” balasnya.
“Emm, ya sudah, bye.”
Zefa meletakkan ponselnya di atas meja dengan raut wajah muram, wajah kesal itu terlihat jelas oleh kedua temannya. Zefa di tanya ada apa namun ia malas menjawab. Mereka ternyata tidak bisa sebentar jika sudah duduk bersama, niat hanya sekejap namun kenyataannya mereka malah sampai lupa waktu.
Milea masih membantu Primus padahal pria itu sudah memintanya untuk pulang tetapi Milea masih betah berada di sana. Primus tidak bisa memaksa, akhirnya temu janji dengan beberapa orang yang memang harus ditemukan di pindahkan ke tempat itu.
Primus tidak akan bisa meninggalkan Milea sendiri disana walau Milea sudah mengatakan jika dirinya tidak masalah sama sekali jika di tinggal bahkan itu jadi kesempatan untuknya agar bisa lebih melihat lagi cara kerja di tempat itu.
“Orang yang mau aku temui sudah datang datang Mil, aku tinggal yah,” ucap Primus.
“Iya Mas tinggal saja tidak masalah,” jawab Milea dengan senyum tulus.
“Oke, kalau mau apa-apa minta saja langsung, ok!”
“Iya Mas … sudah sana pergi,” sahut Milea sambil tertawa kecil karena sepertinya Primus sedikit cemas meninggalkan dirinya sendiri.
Primus pergi menemui partner kerjanya yang lain sementara itu untuk menghilangkan rasa bosannya Milea melihat-lihat informasi yang ada dalam ponselnya. Dirga yang masih belum bisa merasa tenang meminta temannya itu untuk mencari tahu keberadaan Zefa saat ini namun temannya tersebut menolak.
Tidak kehabisan akal, Dirga lalu memerintahkan seseorang untuk mencari keberadaan Zefa. Semua data tentang wanita itu di berikan pada orang suruhannya agar dia bisa melacak keberadaan Zefa melalui nomor ponselnya.
__ADS_1
Dua jam berselang pria suruhan Dirga sudah memberikan informasi yang membuat wajahnya berubah sumringah. Informasi yang didapat orang suruhannya Dirga bisa dibilang sangat valid sebab sudah di sertakan foto juga video bahkan pria itu juga share loc keberadaannya saat ini yang berada di tempat Zefa berada.
Semua bukti yang sudah sangat jelas itu ternyata masih membuat Dirga sedikit ragu, pria itu berpikir jika bisa saja ia berbohong karena pria itu ahli IT. Dirga masih ingin bukti yang lain, pria itu kemudian melakukan video call untuk lebih lagi memastikan.
“Siap Pak,” kata pria itu yang langsung merespon panggilan Dirga.
“Aku mau lihat dia langsung,” titahnya yang lalu kamera orang di seberang telepon Dirga di arahkan ke Zefa yang saat itu sedang menerima panggilan telepon.
Dirga mengerutkan sedikit keningnya melihat raut wajah Zefa ketika menerima telepon tersebut, ‘Siapa yang sedang menghubunginya, kenapa dia seperti itu?’ tanya Dirga dalam benaknya.
Kurang lebih satu menit kamera itu terarah ke Zefa sampai Dirga memintanya sendiri untuk menghentikannya. “Kamu tetap disana dan kalau saya belum sampai tempat itu bagaimanapun caranya kamu harus bisa menahan dia untuk pergi,” titah Dirga.
“Baik Pak,” jawab singkat pria itu.
Dengan senyum yang mengembang Dirga meletakkan kembali benda pipihnya. Dia kembali menatap layar laptop untuk kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya dan kali ini dia mengerjakannya dengan cepat. Dirga melakukan itu sebab dirinya harus pergi menemui Zefa sebelum wanita itu menghilang.
Setengah jam berlalu, pekerjaannya cepat diselesaikan. Dirga menemui rekan kerjanya untuk mengabari jika dirinya harus kembali saat ini juga. Setelah berpamitan Dirga meluncur dengan kecepatan yang cukup tinggi mengendarai kendaraannya.
Di jalan lain, Lala adik dari Primus jalan santai sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Wanita muda itu menghubungi Primus sebelum dirinya saat ini berjalan menuju kediaman kakaknya tersebut. Dengan alasan hanya ingin istirahat sebentar Lala mendapatkan kunci masuk ke rumah itu.
“Hai Kak” sapa Lala ketika dirinya datang untuk mengambil kunci rumah Primus.
“Emm,” gumam Primus sebagai jawaban sambil merogoh saku celana. Satu benda kecil di berikan pada Lala seraya berkata, “ingat jangan ngeratak, jangan di buat kacau rumahnya yah!”
Lala langsung mengambil cepat kunci itu sambil menjawab, “Okey Kak,” lalu pergi lagi membuat Primus hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Sudah besar yah,” ucap Milea yang saat itu memang bersama Primus.
__ADS_1
Pria itu tertawa lalu menjawab dengan sedikit bergurau, “Iya lah masa mau kecil terus, kan aku kasih makan sama aku tiup.”
Milea ngakak mendengar jawaban Primus lalu memukulnya pelan sebab sekilas Milea berpikir sedikit berbeluk mendengar kata-katanya. Lala meluncur cepat menggunakan sepeda motornya namun sebelum sampai dia melipir dulu.
Lala melipir di sebuah minimarket untuk membeli beberapa cemilan karena dia tahu jika kedua kakaknya itu tidak suka ngemil apalagi Zefa sebab wanita itu sangat menjaga tubuhnya. Zefa anti ngemil apalagi makan malam, wanita itu takut jika tubuhnya akan membesar
Sore hari pukul lima Milea pamit karena sudah jam suaminya pulang. Milea mengirim pesan singkat menanyakan apa Dirga hari ini kerja lembur atau tidak namun sampai detik ini pria itu masih belum juga membuka pesan yang dikirimnya.
“Ya sudah, hati-hati,” kata Primus.
“Iya Mas.”
Milea langsung meluncur pulang dan ketiga wanita yang saat ini masih berada di tempat umum mulai berkeinginan untuk kembali ke rumah masing-masing. “Sudah mulai gelap, kapan kalian mau pada pulang?” tanya Zefa.
“Kalau gua sih kapan aja hayu Zef,” sahut salah satu temannya.
“Gua sih jujur harus balik karena tau sendiri anak-anak gua kalau sudah mulai gelap belum ada di rumah,” balasnya.
“Emm, ya sudah atuh kita balik sekarang aja gimana!”
“Gak masalah.”
Zefa lalu memanggil pelayan yang sedang berdiri memperhatikan kemudian meminta bil mereka lalu membayarnya. Zefa pulang di antar kedua temannya karena hari ini dirinya memang tidak membawa kendaraan, pagi tadi Zefa di jemput.
Ditengah langkah mereka keluar dari tempat itu Zefa minta tolong agar kedua temannya itu mengantar dulu dirinya ke sebuah tempat. Zefa masih memiliki tugas untuk membeli bahan-bahan kue pesanan suaminya.
Kedua temannya menyanggupi, “Iya nanti sekalian gua juga mau belanja sedikit,” jawab salah satu dari mereka lalu menoleh ke arah teman satunya, “lo gimana, bisa gak?”
__ADS_1
“Gampang, gua juga ikut deh,” sahutnya.
Mereka tertawa lepas namun langkah serta senyum Zefa seketika berhenti ketika dia melihat sosok yang berdiri di pintu masuk. “Kenapa lo?”